INICIAR SESIÓNDi dalam ruang kerja Nicholas yang senyap, suara langkah kaki Arthur mengaliri keheningan. Asisten pribadi Nicholas itu meletakkan sebuah map hitam tepat di samping komputer."Tuan Spencer," buka Arthur dengan nada formal yang hati-hati. "Tim lapangan sudah berhasil melacak plat nomor mobil yang membawa Nyonya Emily ke kantor Jonathan Crawford kemarin pagi."Nicholas tidak membuka matanya. Kepala pria itu tetap bersandar santai di sandaran kursi kulitnya. "Katakan.""Mobil itu atas nama Diana Miller," jelas Arthur. "Melalui nama Nona Miller, kami sudah menemukan lokasi apartemen studio tempat Nyonya Emily tinggal saat ini. Gedungnya berada di pinggiran distrik, penyewanya tercatat atas nama Diana Miller juga."Nicholas hanya diam mendengarkan penuturan itu."Apa yang harus kita lakukan selanjutnya, Tuan?" tanya Arthur meminta instruksi. "Apa Anda ingin saya mengirim orang untuk menjemput Nyonya Emily sekarang juga?"Di balik kelopak matanya yang terpejam, ingatan Nicholas langsung men
[Maaf aku tidak mengantarmu bekerja hari ini, apa kau kehujanan? Aku benar-benar sibuk hari ini.]Daniel mengirimkan pesan itu pada Olivia, ia sudah memutuskan untuk lebih fokus pada Emily. Satu sisi ego Daniel merasa wanita ini sangat mengandalkannya. Namun detik berikutnya, bayangan wajah pucat Emily dengan plester di lehernya malam tadi melintas di kepalanya. Rasa bersalah kembali menghantamnya. Dia terlalu sibuk menjadi pahlawan di tempat lain sampai mengabaikan orang yang sebenarnya ingin dia lindungi.[Ah, tidak apa-apa sama sekali, Daniel! Kamu jangan merasa tidak enak. Aku justru takut terus-terusan merepotkanmu. Semoga urusanmu lancar ya.]Daniel membaca balasan mengalah itu, menghela napas pelan, lalu mengantongi ponselnya. Hari ini, seluruh fokusnya harus tertuju pada Emily.Menjelang siang, Olivia melangkah menuju pantry kantor dengan kepala menunduk.Begitu ia mendorong pintu kaca pantry, suara obrolan dua orang di dalam sana mendadak terhenti total.Jane dan Maya.Suas
"Selamat malam, Ladies," sapa Daniel ceria sambil bersenandung kecil, mendorong pintu apartemen yang tidak terkunci. "Aku membawakan makanan terbaik di kota ini untuk…"Ucapan Daniel terputus saat matanya menangkap Diana yang duduk di sofa dengan wajah merah padam, sementara Emily berbaring memeluk bantal. Di pangkal leher Emily, terpasang sebuah plester medis."Ada apa ini?" tanya Daniel cepat, meletakkan kantong makanannya ke atas meja. "Emily, kenapa lehermu?""Suami keparatnya baru saja mencoba membunuhnya," jawab Diana sengit."Diana, cukup..." cicit Emily lemah."Tidak, Em! Dia harus tahu!" Diana berdiri menghadap Daniel. "Pengacara yang Emily sewa tadi pagi ternyata sahabat Nicholas Spencer! Pria gila itu mengunci Emily di dalam ruangan Crawford, memaksanya pulang, sampai Emily harus menggores lehernya sendiri pakai pembuka surat agar pria itu melepasnya!""Apa?!" Mata Daniel membelalak sempurna. "Nicholas Spencer benar-benar melakukan hal gila seperti itu?!""Ya! Dia membloki
Pelataran lobi Firma Spencer masih dipenuhi karyawan ketika mobil mewah milik Daniel berhenti di zona drop-off, sementara pria itu berdiri bersandar ke pintu mobilnya.Begitu Olivia melangkah keluar melalui pintu putar kaca, kepalanya sengaja ditundukkan sedikit. Jemarinya mencengkram tali tas begitu erat."Tepat pukul lima," sapa Daniel begitu Olivia tiba di dekat pintu mobil. "Ayo naik."Olivia tidak langsung masuk. Ia justru mundur setengah langkah, menatap Daniel dengan sepasang mata bulat yang berkaca-kaca ragu."Daniel..." cicitnya pelan, suaranya dibuat begitu rapuh dan lugu. "Boleh tidak mobilnya kita maju sedikit lagi? Jangan parkir tepat di depan lobi utama."Daniel mengernyit heran. "Kenapa harus maju?""Orang-orang di dalam sedang melihat kita," jawab Olivia menunduk malu. "Aku takut ada yang membicarakanku lagi."Raut wajah Daniel seketika mengeras. “Siapa yang berani membicarakanmu?""Mmm… aku tidak mungkin menyebutkannya satu persatu,” ucap Olivia sambil menunduk. “Tap
Dada Emily naik-turun kencang. Sejujurnya, ia sendiri kaget mendengar kalimat mengerikan itu keluar dari mulutnya sendiri. Namun ia tidak punya pilihan, karena Nicholas terus mendesaknya ke jurang yang tidak menyisakan ruang bernapas.Untuk pertama kalinya, wajah dingin Nicholas tampak terguncang."Kau melewati batas, Emily," desis Nicholas dengan suara bergetar oleh amarah."Aku melewati batas?" Emily tersenyum getir. "Lalu kau sebut apa dirimu yang menggunakan kekuasaan untuk membuatku tidak bisa menceraikanmu?!""Aku menggunakan kekuasaanku untuk melindungi pernikahan kita!" bantah Nicholas sengit. "Kau sedang tidak stabil!""Aku luar biasa stabil, Nicholas! Aku hanya sudah tidak mau hidup satu atap denganmu!""Dan aku tidak mengizinkannya!" Nicholas meraih pergelangan tangan Emily secara paksa, menariknya dari daun pintu. "Kita pulang. Sekarang.""Lepaskan aku!" ronta Emily sekuat tenaga, mencoba memaku kakinya ke karpet. "Nicholas, sakit! Lepaskan!""Kau ikut denganku!" Nicholas
"Aku ingin kau menjauh dari hidupku," desis Emily tajam."Tidak bisa," tolak Nicholas tanpa jeda sedetik pun."Kenapa tidak bisa? Hidupmu akan jauh lebih mudah kalau aku tidak ada lagi di rumah itu!""Apanya yang mudah?" Nicholas mencondongkan tubuhnya lebih dekat, mengungkung tubuh Emily ke daun pintu. Sorot matanya dipenuhi kejengkelan yang luar biasa pekat. "Tiga belas hari kau menghilang, dan seluruh rutinitasku berantakan karena aku harus mengorbankan waktu kerjaku mencarimu. Kau bertingkah tidak masuk akal hanya karena hal sepele.""Hal sepele?!" Emily mendongak, menatapnya benci. "Kau menganggap pengabaianmu dan manipulasi hukum yang kau lakukan padaku sebagai hal sepele?!""Aku melakukan apa yang harus kulakukan untuk menjaga pernikahan kita," desis Nicholas tertahan. Pria itu menghela napas kasar, mencoba mengatur intonasinya agar kembali tenang. "Dengarkan aku, Emily. Kau sedang emosional. Kau sengaja membesar-besarkan masalah ini karena kau sedang merajuk.""Aku tidak sed
Mendengar bisikan kedua rekan kerjanya itu, Emily tidak bisa menahan diri. Ia mendengus pelan, sebuah tawa sumbang yang sangat singkat namun cukup keras untuk membuat kedua staf wanita itu tersentak dan menoleh ke arahnya dengan canggung.
Ting!Layar ponsel Emily menyala, menampilkan sebuah pesan masuk dari nomor Clara. Emily mengerutkan keningnya sejenak, lalu membuka pesan tersebut.
"Tidak," jawab Emily, suaranya sedikit bergetar namun tegas. Ia mencoba menahan rasa takut yang tiba-tiba muncul dan merayap dalam dirinya melihat kemarahan keluarganya. "Dengan adanya wanita itu di sisinya sekarang, Nicholas tidak akan peduli lagi pada kita. Dia tidak akan berpikir dua kali untuk
Keesokan paginya, Emily meraba meja nakas dan mengambil ponselnya. Ada sebuah pesan masuk yang membuat sisa-sisa kantuknya menguap tak berbekas.Pesan dari Justin, kakaknya.[Ayah tidak membaik. Perusahaan lawan mulai bergerak. Datang ke rumah sakit sekarang. Bawa Nicholas bersamamu.]Satu jam kemu







