LOGINAra yang melarikan diri ke Eropa dari trauma masa lalu dan perjodohan paksa berakhir dengan kesalahan fatal. Ia tidur dengan seorang pria asing dan meninggalkan uang sebagai bayaran. "Aku sudah memikirkannya. Aku punya satu tawaran untuk membersihkan kekacauan yang kau buat, sekaligus kekacauan dalam hidupku." Elvano menyandarkan punggungnya di kursi, matanya menatap Ara dengan penuh perhitungan. "Menikahlah denganku," ucapnya singkat. Ara menatapnya, mengira ia salah dengar. "Apa? Menikah?" "Ya. Pernikahan kontrak," jelas Elvano. "Kau akan mempertanggungjawabkan perbuatanmu, dan sebagai gantinya, aku akan melepaskanmu dari masalahmu." Ara merasa dunia seolah berputar. Di satu sisi perjodohan dengan Dion Satria, mantan kekasih yang telah meninggalkan trauma untuknya. Di sisi lain ia dihadapkan pada pernikahan kontrak dengan Pria ini. "Aku kabur dari satu sangkar, hanya untuk menjebloskan diriku ke dalam sangkar yang lebih besar. Dan kini, aku membawa serta bayangan dosa dari pulau yang indah itu."
View MoreArabella Saskia Paramita, wanita yang berusia 23 tahun itu terbangun dari tidur lelapnya. Kesadaran datang perlahan, diikuti dengan rasa pusing yang berdenyut-denyut menghantam kepalanya.
Ia mengerang pelan, perlahan mencoba menghilangkan kabut tebal yang menyelimuti pikirannya. Ia merasakan tekstur yang sangat halus di bawah kulitnya, seprai satin dingin. Lantas, ia membuka mata. Seketika, seluruh tubuhnya menegang. Ini bukan kamarnya. Suite hotel mewah, elegan, dengan jendela besar yang memamerkan pemandangan dramatis. Sinar matahari pagi dari balik cakrawala memancar, menerangi Laut Aegea yang biru berkilauan. Pemandangan Santorini yang indah dan damai itu terasa kontras, bahkan ironis, dengan kekacauan batin yang menghantam Ara. Lebih buruk lagi, di sampingnya. Nyaris menyentuh lengannya, ada seorang pria. Pria itu terlelap, napasnya teratur dan tenang. Wajahnya yang tegas tampak damai dalam tidurnya, rambutnya acak-acakan. Ara tidak bisa tidak mengakui bahwa dia tampan, memancarkan aura maskulin yang kuat, bahkan saat tidak sadarkan diri. Ara menarik napas tajam, menggigit bibir bawahnya untuk menahan jeritan yang tertahan. Ia segera memeriksa tubuhnya. Ia polos. Dan ia menyadari bahwa pria di sampingnya juga dalam keadaan polos. Kepalanya menggeleng panik, mencoba mengais-ngais ingatan dari malam yang gelap itu. Kosong. Ia tidak ingat apa-apa. Yang terakhir ia ingat hanyalah pergi ke klub malam untuk membebaskan diri dari semua tekanan perjodohan dan harapan keluarga yang menyesakkan. Ia ingat musik yang memekakkan telinga, gelas demi gelas alkohol, dan keinginan liar untuk melarikan diri. Apa yang terjadi? Sebuah kilasan muncul. Ia ingat ditarik paksa oleh seorang pria asing yang berniat melecehkannya di dekat pintu keluar klub. Lalu, ada intervensi. Seorang pria lain datang, membantu. Pahlawan tak dikenal itu. Wajahnya kabur, hanya sebatas siluet tinggi dan suara yang tegas. Setelah itu, yang ada hanyalah sensasi panas, mual, dan kegelapan total. Ara menelan ludah yang terasa pahit. Rasa malu dan panik bercampur menjadi satu. Dia tidak tahu apa yang terjadi semalam, tetapi fakta bahwa mereka berdua terbangun di ranjang yang sama, dalam keadaan polos, sudah memberikan kesimpulan yang menampar. Ini adalah kesalahan. Kesalahan besar dan monumental yang harus segera ia hapus dari rekam jejaknya. Ia harus pergi. Sekarang juga. Sebelum pria itu bangun dan menuntut penjelasan, atau lebih buruk lagi menganggap Ara telah setuju dengan situasi ini. Ara beringsut perlahan dari tempat tidur, bergerak sehalus mungkin. Setiap gerakan kecil terasa seperti serangkaian perjuangan. Saat kakinya menyentuh lantai marmer yang dingin, ia merasakan sakit dan perih yang menusuk di pangkal pahanya, sebuah bukti fisik yang menyakitkan dari malam yang hilang. Ara menggertakkan gigi, memaksa dirinya mengabaikan rasa sakit itu. Dalam ketergesaannya yang didorong kepanikan, ia sama sekali tidak menyadari bahwa kalung liontin perak berinisial 'A' yang selalu ia kenakan sebagai jimat keberuntungan dan inisial namanya telah terlepas dari lehernya dan tergeletak diantara lipatan seprai satin. Prioritasnya adalah menghapus semua jejak. Ia meraih tas tangannya yang tergeletak di lantai, mengeluarkan buku ceknya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menuliskan nominal yang besar, sebuah angka yang mencerminkan putus asa dan harga dirinya yang terinjak-injak. Uang adalah cara tercepat untuk mengakhiri masalah bagi orang-orang seperti dia. Ia merobek cek itu, lalu menulis sebuah catatan kecil dengan tergesa-gesa. "Maafkan saya. Untuk semalam, anggap saja kita tidak pernah bertemu." Ara meletakkan cek dan catatan itu di meja nakas, tepat di samping ponsel dan jam tangan mewah pria itu. Ia menatap wajah damai pria itu sekali lagi, sebuah penyesalan cepat menusuknya. Sebelum memungut pakaiannya yang berserakan, lalu melangkah terseok-seok menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berkemas. Lima belas menit kemudian, Ara keluar dari kamar hotel. Ia berhasil menyelinap tanpa membangunkan pria itu. Ia bergegas menuju lobi dan memesan taksi. Tujuannya adalah hotel tempat ia menginap. Setibanya di sana, ia meminta supir taksi untuk menunggunya sebentar. Ia mengambil barang-barang pribadinya, memastikan semua bukti masa tinggalnya di Yunani sudah terangkat. Ara kembali ke taksi dengan koper. Ia menarik napas dalam, wajahnya tegang dan matanya penuh determinasi. "Ke bandara, Pak. Sekarang!." Ia harus kembali. Kembali ke sangkar emasnya, kembali ke drama perjodohan, kembali ke kenyataan yang setidaknya ia kenal. Melarikan diri adalah satu-satunya keahliannya saat ini. Ia bertekad untuk mengubur rahasia malam itu di bawah lautan Aegea yang luas. Ara duduk di kursi kelas bisnis yang sepi, menatap jendela pesawat yang menampilkan hamparan samudra luas di bawahnya. Pesawat itu melaju kencang, membawa tubuhnya kembali ke Jakarta. Ia mencengkeram erat sandaran tangan, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang belum reda sejak ia berlari keluar dari kamar hotel tersebut. Di lehernya, ia merasakan kekosongan yang aneh. Baru ia sadari, liontin inisial 'A' yang selalu ia pakai pemberian dari mendiang neneknya sudah tidak ada. Hilang. Sama seperti dirinya telah kehilangan kendali dan martabatnya malam itu. Ara memejamkan mata. Ingatan tentang pria itu menyeruak. Bau parfumnya, sentuhannya yang buas, dan gumaman terakhirnya di mobil. "Aku membayar untuk melupakan. Itu satu-satunya cara," bisik Ara, suaranya sangat lirih, tertelan oleh deru mesin pesawat. Ia menguatkan hati bahwa pria itu hanyalah orang asing yang ia temukan dalam keputusasaan. "Sekarang, aku harus kembali dan menghadapi realitasku." Ara membuka mata, memaksa pikirannya beralih ke masa depan. Masa depan yang buram, di mana ia harus menerima perjodohan yang telah orang tuanya siapkan dan menjadi istri dari putra rekan bisnis papanya. Ia telah lari sejauh mungkin, hanya untuk kembali ke titik awal. "Aku kabur dari satu sangkar, hanya untuk menjebloskan diriku ke dalam sangkar yang lebih besar," gumam Ara, menatap kosong ke awan di luar jendela. "Dan kini, aku membawa serta bayangan dosa dari pulau yang indah itu." Ponselnya bergetar. Pesan dari Naya, sahabatnya, masuk. Naya: Lo udah di pesawat? Mama Ratih marah saat tau lo kabur. Gw bilang ke mama Ratih kalau lo ada urusan kerjaan disana. Kalau udah sampai bandara, langsung pulang kerumah! Semoga lo punya alasan bagus kenapa lo lari ke Yunani. Ara menghela napas panjang, dan tidak berminat untuk membalas pesan tersebut. Bahkan sahabatnya pun kini menjadi perpanjangan tangan orang tuanya. Ia tahu Naya hanya khawatir, tetapi peringatan itu hanya memperjelas betapa kecilnya ruang geraknya. Ara kembali mematikan ponselnya. Ia menyandarkan kepala ke jendela dan memikirkan langkah apa yang harus ia lakukan selanjutnya agar perjodohan itu tidak terjadi dan kemungkinan terburuk yang akan terjadi selanjutnya. Ara menutup mata sejenak dan berusaha untuk tidur. Tak lama lagi, roda pesawat akan menyentuh landasan di Jakarta. Ia harus siap menghadapi kedua orang tuanya.Ara mematikan ponselnya, meletakkannya dengan kasar di nakas. Ia tidak bisa kembali tidur. Kenyataan bahwa ia sekarang bekerja di bawah kendali Elvano, pria yang baru saja memenuhi mimpinya dengan hasrat yang membara terasa seperti ironi kejam dari takdir. Ia beranjak dari tempat tidur, berjalan ke jendela besar, menatap keheningan malam yang sunyi.Proyek villa mewah itu. Ia harus fokus. Ara adalah seorang arsitek profesional, dan ia telah berhasil merancang bangunan-bangunan yang menantang. Ia bisa menghadapi seorang klien berpengaruh seperti Elvano. Hubungan masa lalu mereka di Eropa adalah kesalahan satu malam yang ia kubur dalam-dalam, dan ia bertekad akan tetap terkubur.Namun, bagaimana ia bisa menguburnya, jika pria itu secara terang-terangan menggunakan masa lalu mereka sebagai 'kendali'?Tiba-tiba, Ara teringat sesuatu. Saat di ruang rapat, tatapan Elvano yang seolah tahu semua tentangnya, bisikan samar yang tidak ia hiraukan. Sebuah firasat dingin menjalar di punggung Ara.
Sesampainya di mansion, suasana terasa sunyi, sebuah keheningan yang dingin dan menusuk. Ara melepas blazer-nya dengan gerakan lelah, membuang napas berat. Ia mengharapkan sebuah ucapan selamat dari orang tuanya. Namun, nihil. Tidak ada sambutan, tidak ada suara. Hanya keheningan.Ia melangkah perlahan ke ruang makan, lalu ke ruang keluarga yang luas. Seluruh bagian rumah itu kosong, seperti sebuah museum mewah yang ditinggalkan. Ara lantas menuju dapur, tempat ia akhirnya menemukan sedikit kehangatan.Di sana, ia mendapati Bi Inah sedang menyiapkan sesuatu di atas meja marmer."Bi Inah!" sapa Ara, nada lega terselip di suaranya."Non Ara sudah pulang," balas Bi Inah, wajahnya yang keriput memancarkan kehangatan yang tulus."Bagaimana pertemuannya, Non?""Berhasil, Bi," jawab Ara singkat, sambil menyandarkan bahunya di kusen pintu. "Papa dan Mama... sudah berangkat bi?""Sudah, Non. Tuan Hendra dan Nyonya Ratih berangkat ke luar kota lima belas menit setelah Non meninggalkan rumah tad
Elvano kembali duduk di kursinya, mengambil posisi ternyaman. Proyek villa mewah itu. Ia berpikir tentang Ara, kontras antara Ara di Eropa, bebas dan liar dengan Ara kepala arsitek yang ia temui tadi dalam keadaan pucat pasi.Elvano menyukai fakta bahwa ia memiliki kekuatan untuk meruntuhkan perisai wanita sekuat Ara hanya dengan satu pandangan. Ia berpikir keras mengenai strategi untuk pertemuan dua hari ke depan. Pertemuan itu harus memadukan profesionalisme dengan sentuhan pribadi yang mengejutkan.Ia akan menggunakan kenangan mereka sebagai alat, bukan untuk negosiasi bisnis, tetapi untuk kendali pribadinya atas Ara. Elvano tersenyum tipis, merasakan adrenalin dari perburuan ini. Elvano adalah seorang maestro dalam mengendalikan pasar saham, dan sekarang ia akan mengendalikan hati seorang wanita.Tiba-tiba, pintu besar ruangannya terbuka tanpa ketukan formal. Elvano seketika menegang. Di ambang pintu, seorang wanita dengan gaun minim dan riasan mencolok berdiri, memancarkan aura y
Pagi harinya Ara telah bersiap-siap. Ia mengenakan blazer berpotongan tegas berwarna navy yang diserasikan dengan rok span berwarna senada yang jatuh beberapa senti di atas lutut.Paduan busana itu tidak hanya menampilkan profesionalisme yang kokoh, sepatutnya seorang Kepala Arsitek dari grup properti ternama tetapi juga menambah pesonanya yang anggun dengan sentuhan modern dan percaya diri. Ia memilih perhiasan minimalis, hanya sepasang anting stud berlian kecil dan jam tangan stainless steel ramping.Di lobi mewah Adhitama Group, ia disambut oleh asisten Elvano, mereka memasuki lift privat yang melesat tanpa suara ke lantai paling atas. Ara berusaha mengatur napas, memastikan setiap helai rambutnya tertata sempurna, dan perisai profesionalismenya tidak retak.Saat pintu lift terbuka, ia dipersilahkan untuk memasuki ruang rapat yang didominasi kaca, sebuah kubus kristal yang menggantung di atas kota. Jakarta terhampar di bawah, pemandangan spektakuler yang menelan gedung-gedung lain
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.