Home / Sci-Fi / Tunangan Nakal Sang Kapten / BAB 5: Reuni Keluarga

Share

BAB 5: Reuni Keluarga

Author: Narnia
last update publish date: 2026-09-12 14:00:00

"Oh, ternyata kalian ada di situ," ucap Lilia santai saat memasuki ruang rapat, seolah pemandangan dua orang yang saling tindih di lantai remang adalah hal lumrah. Dia melangkah mantap menuju meja oval di tengah ruangan, mengabaikan atmosfer canggung yang mendadak pekat.

Sementara itu, Hugo berdiri kokoh di ambang pintu. Matanya terkunci pada sang adik yang sedang berusaha bangkit. Meskipun gerakannya agak limbung akibat panik, Gabriel dengan cepat merapikan seragam militernya.

"Kau sedang menyerangnya, Gabriel?" tanya Hugo datar tanpa ekspresi, melangkah masuk dengan ritme konstan.

Gabriel mendengus, menekan rasa gugup yang menjalar saat menaikkan ritsleting seragam dan rompi taktisnya. "Tidak! Aku tidak sepertimu, Kak! Jangan mengatakan hal aneh."

"Lalu apa yang kalian lakukan di lantai?" Pertanyaan Hugo meluncur tanpa sensor. "Apa kau sedang melakukan pendekatan emosional dengan menindih tubuh pasanganmu di ruang rapat militer?"

"Kak, aku tidak sengaja! Jangan salah paham. Dia menjegal kakiku tadi!" bela Gabriel, wajahnya mulai memanas.

Hugo menaikkan sebelah alis, menatap bergantian ke arah ritsleting rompi Gabriel yang tadi terbuka dan Sasha yang masih merapikan jumpsuit. "Sepertinya tungkai kakimu melemah. Aku bertanya karena melihat posisi yang biasa aku—"

"KAK! CUKUP!" teriak Gabriel panik. Dia tidak bisa membiarkan sikap blak-blakan kakaknya yang tanpa filter itu keluar di depan Sasha. Bagi Gabriel, kakak kandungnya dan Sasha sama-sama memiliki sifat dominan yang berbahaya. Dia tidak akan sanggup menghadapi kelakuan ajaib mereka berdua sekaligus.

Sasha yang sudah berdiri tegak di sebelah Gabriel tampak santai. Bukannya malu karena tertangkap basah oleh calon mertua, dia justru menyenggol lengan Gabriel dengan siku, lalu tersenyum jahil ke arah sang kapten yang sedang gugup.

Gabriel segera bergerak ke sudut meja, menekan tombol lampu utama dengan kasar. Detik berikutnya, seluruh ruang rapat kembali terang benderang, menghalau sisa-sisa atmosfer intim yang sempat terganggu.

Lilia tersenyum geli melihat penampilan anak bungsunya yang berantakan sambil menutupi mulut dengan sabak digital yang dia bawa. Gabriel yang menyadari dirinya diperhatikan oleh sang ibu langsung mengernyitkan dahi dalam-dalam.

"Ibu, ini tidak lucu sama sekali. Berhentilah bersikap seperti itu," ucap Gabriel merajuk sambil menghela napas berat menahan jengkel.

"Baiklah, baiklah," Lilia menghela napas lalu menggeleng, menatap kembali mereka berdua dengan binar mata lembut. "Ibu belum sempat mengucapkan selamat pada kalian secara resmi. Selamat atas pertunangan kalian, Gabriel, Sasha. Ibu harap kalian bisa bekerja sama dengan baik."

Tidak seperti pasangan pada umumnya yang tersenyum bahagia atau tersipu malu, Gabriel justru mengelus dadanya karena merasa tertekan. Wajahnya tampak memelas menatap ibunya yang terkesan tidak peka dengan penderitaan mentalnya.

"Sepertinya kau tidak senang dengan ucapan Ibu," sahut Hugo penasaran, menyadari gestur defensif adiknya. "Apa kau keberatan dengan keputusan ini?"

Gabriel menatap ibunya dengan protes yang tertahan sejak di koridor. "Ibu memberitahukan soal ini pada Tuan Albert dan pasukan yang kupimpin di ekspedisi kemarin, tanpa memberitahukanku sebagai subjek utama terlebih dahulu. Aku baru tahu dari orang lain."

Lilia mengernyit heran. "Bukankah aku sudah mengatakannya langsung padamu sebulan yang lalu di unit utama, Gabriel?"

Gabriel tertegun. "Aku tidak ingat Ibu pernah mengatakan hal itu."

"Kau melewatkan ucapan Profesor Lilia karena terlalu sibuk dengan urusan luarmu, Gabriel," sela Hugo. Suaranya tenang, monoton, namun sangat menyebalkan di telinga adiknya. "Aku dan kau ada di sana saat Ibu membicarakannya, Apa saat itu fungsi pendengaranmu sengaja dinonaktifkan?"

Gabriel terdiam seketika. Ingatannya mendadak dipaksa berputar mundur ke satu bulan lalu. Detik berikutnya, matanya melebar. Dia benar-benar lupa pesan sepenting itu. 'Ah... benar. Saat laporan ekspedisi kedua bulan kemarin, fokusku tersita oleh data mutasi genetik faksi luar dan pergerakan bandit di permukaan,' batinnya merutuki kecerobohan sendiri.

"Astaga, Gabriel... jadi kau benar-benar tidak ada niat untuk menikahiku? Kau melupakan misi kita begitu saja?" goda Sasha spontan. Nada suaranya dibuat sedramatis mungkin, lengkap dengan binar mata yang pura-pura kecewa. "Kau benar-benar pria yang buruk, Kapten."

Ledakan godaan dari Sasha membuat wajah Gabriel seketika memerah karena malu di depan keluarga dan calon istrinya. "B-bukan begitu maksudku—"

Untuk mencairkan suasana yang semakin melebar, Lilia berdehem keras. Isyarat mutlak agar mereka menyudahi urusan domestik dan kembali membuka forum diskusi mengenai ekspedisi terakhir serta penyerangan bandit.

"Sudah, simpan argumen rumah tangga kalian untuk nanti," potong Lilia tegas. "Mari bicara soal data taktis. Data logistik pangan yang kau bawa sudah kuterima. Namun, Hugo menemukan masalah besar pada pergerakan bandit di Tebing Mati tadi. Mereka tidak bergerak seperti bandit biasa yang kelaparan."

Hugo melangkah maju, mengetuk layar monitor besar di dinding dengan ujung jari. Tampilan gambar langsung berubah menjadi struktur organisasi, pola pergerakan, dan simbol tato yang ditemukan di tubuh mayat bandit yang berhasil dihabisi Sasha.

"Perhatikan polanya," ujar Hugo dingin.

"Mereka punya suplai senjata api standar militer Sektor Atas. Rompi antipeluru mereka bahkan memiliki nomor seri yang dihapus paksa. Seseorang dari Sektor Atas mendanai mereka untuk mencegat truk pangan kita dan memutus suplai logistik Bunker Utama."

Gabriel mengernyit, mode militernya langsung aktif kembali dalam sekejap. Rasa malunya menguap. "Sektor Atas? Siapa yang punya akses menyelundupkan senjata sebanyak itu ke luar wilayah batas? Apa faksi dewan?"

"Itu tugasmu untuk mencari tahu dan menyelesaikannya di ekspedisi berikutnya, Gabriel," jawab Lilia tegas tanpa kompromi.

Baik, Ibu. Aku akan memperketat patroli perbatasan," ucap Gabriel cepat.

"Kau ceroboh kali ini, Gabriel. Kau hampir mencelakai Seraphina karena ketidaksiapan strategimu menghadapi sabotase ini," ucap Hugo tiba-tiba. Nadanya dingin dan menusuk, memarahi adiknya karena sang istri yang turut serta dalam ekspedisi ikut terancam.

"Tidak, Kak," bantah Gabriel dengan suara tak kalah tegas. "Kami menjaganya sebaik mungkin di sepanjang jalur rawan. Pasukan terbaikku tidak pernah lepas mengawasi dan melindungi ruang medis Sera saat terjadi penyergapan awal."

"Namun, musuh berhasil menembus perimeter pertahanan di belakangmu," kejar Hugo datar.

"Dia tetap aman di dalam kendaraan berlapis baja dan antipeluru generasi terbaru. Perhitunganku tidak meleset sampai ke sana," ucap Gabriel membela diri.

"Rute yang kau pilih kemarin sangat buruk dan terlalu terbuka," sahut Hugo, tidak mau kalah mendominasi. "Harusnya aku ikut serta dalam misi ekspedisi itu sejak awal."

"Sera tidak menyetujui idemu untuk ikut keluar, Kak. Dia yang memintamu tinggal di laboratorium," jawab Gabriel datar, membalas telak.

"Otoritasku di bidang keamanan bioteknologi lebih tinggi darimu di sektor ini. Aku mengutamakan keselamatan Sera dibanding logistik panganmu," tegas Hugo.

Atmosfer di dalam ruangan mendadak menegang akibat adu argumen dua saudara Alistair itu. Sebelum Gabriel sempat membalas hantaman mental berikutnya dari sang kakak, Sasha melangkah maju. Dia berdiri di garis depan, menatap Hugo dengan senyuman tipis yang sarat penilaian.

"Kakak ipar, harusnya kau tahu bahwa Kak Sera senang saat bisa kembali melihat kondisi kampung halamannya di luar sana, meskipun tempat itu sudah banyak berubah. Bukankah hal emosional seperti itu yang perlu kau perhatikan sebagai orang terdekatnya?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tunangan Nakal Sang Kapten   Bab 10: Temani Aku Tidur Lagi

    Gabriel masih tenggelam dalam tidur lelapnya yang sangat dalam ketika kesadarannya perlahan terusik. Kasur empuk di bawah tubuhnya mendadak terasa bergerak samar. Detik berikutnya, dia merasakan ada sesuatu yang merayap pelan di bawah perutnya, menyelinap di antara sela-sela kain celana tidurnya.Dengan gerakan refleks yang lambat dan setengah sadar, tangan kanan Gabriel terangkat, menepis pelan objek asing tersebut. Pikirannya yang masih berkabut spontan melempar ingatannya jauh ke masa lalu, menganggap bahwa gangguan itu adalah ulah sosok kakaknya yang selalu membangunkannya dengan cara menyebalkan saat mereka masih kecil dan berada di asrama yang sama."Kakak... aku masih mengantuk. Jangan menggangguku," gumam Gabriel pelan dengan suara serak yang parau, lalu membalikkan badannya ke sisi lain untuk mencari posisi yang lebih nyaman.Namun, pergerakan itu ternyata sama sekali tidak berhenti. Malahan, gangguan itu terasa semakin intens. Sebuah benda yang terasa dingin dan lembut kini

  • Tunangan Nakal Sang Kapten   Bab 9: Variabel diatas Ranjang

    Dua puluh menit berlalu, Gabriel sudah selesai membersihkan tubuhnya. Uap hangat nampak menyembul keluar dari celah pintu kamar mandi yang terbuka. Rambut hitam Gabriel masih setengah basah, berantakan namun memberikan kesan kasual yang jauh berbeda dari penampilannya saat berseragam. Dia kini sudah mengenakan baju rumahnya, sebuah kaus putih polos dan celana tidur panjang.Namun, langkah kaki Gabriel mendadak terhenti di ambang pintu kamar mandi. Dia sempat terperanjat kaget saat melihat Sasha ternyata sudah duduk santai di atas kasur besarnya."Kenapa?" tanya Sasha, menaikkan sebelah alisnya melihat respons kaget Gabriel yang mematung di pintu.Gabriel menggelengkan kepalanya cepat. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, dia melangkah lebar ke arah lemari pakaian, meraih jaket militer ringannya yang tergantung di sana. Niatnya untuk melarikan diri ke unit asrama militer, ternyata masih belum surut. Dia butuh ruang aman.Namun, sebelum jemari Gabriel sempat mengenakan jaket tersebut, S

  • Tunangan Nakal Sang Kapten   Bab 8: Obrolan di Meja makan

    Gabriel baru saja menyelesaikan aktivitas memasaknya dan membersihkan peralatan dapur, lalu mengeringkan kedua tangannya menggunakan handuk kering, sebelum pandangannya teralih sepenuhnya pada sosok yang melangkah santai ke arahnya.Sasha nampak sudah menggunakan pakaian rumahan, sebuah kaus longgar dan celana training pendek yang tampak kebesaran di tubuh rampingnya. Gabriel mengernyitkan dahi selama beberapa detik. Setelah memperhatikan potongan kain di bahu dan logo hitam di dada kaos tersebut, dia baru menyadari satu hal."Kau memakai bajuku?" tanya Gabriel, menghentikan gerakan melipat handuknya.Sasha menunduk sekilas, memandangi ujung kaus yang menjuntai longgar hingga setengah pahanya, lalu mendongak dengan wajah tanpa dosa. "Aku memakai apa yang ada di dalam lemari utama."Gabriel menegakkan badannya, meletakkan handuk ke gantungan di dekat wastafel dapur. "Harusnya pakaian khusus untukmu sudah disiapkan di lemari. Ukurannya pasti lebih pas.""Tapi aku nyaman memakai yang ini

  • Tunangan Nakal Sang Kapten   Bab 7: Ayo Kita Makan Malam Dulu

    Pintu hidrolik unit milik Gabriel terbuka dengan desis halus, lalu mengunci otomatis. Sasha melangkah masuk lebih dulu, memindai sekeliling dengan jeli. Ruangan luas itu didominasi perpaduan warna hijau zaitun khas militer dan hitam arang yang tegas. Alih-alih mirip barak tentara yang kaku, tempat ini menyerupai apartemen modern yang cukup nyaman untuk satu keluarga kecil.Di bagian tengah, terdapat ruang santai dengan sofa besar hitam. Di sudut lain, sebuah dapur kecil tampak rapi dan simpel. Dua ruangan tambahan di sisi kiri tampaknya bisa dialihfungsikan sebagai kamar tidur sekunder atau gudang senjata pribadi.Gabriel berdiri di area depan, membungkuk untuk melepaskan lars militernya yang berdebu. Setelah menaruh sepatunya dengan rapi, dia mengambil sepatu Sasha lalu menatanya di rak yang sama. Gabriel kemudian melangkah menuju ruang tengah sambil melepas sarung tangan taktis dengan gerakan lambat. Ada kecanggungan nyata dari gestur tubuhnya."Selamat datang... di rumah," ucap Gab

  • Tunangan Nakal Sang Kapten   Bab 6: Reaksi Kakak Ipar

    Atmosfer di dalam ruangan mendadak menegang akibat adu argumen dua saudara Alistair itu. Sebelum Gabriel sempat membalas hantaman mental berikutnya dari sang kakak, Sasha melangkah maju. Dia berdiri di garis depan, menatap Hugo dengan senyuman tipis yang sarat penilaian. "Kakak ipar, harusnya kau tahu bahwa Kak Sera senang saat bisa kembali melihat kondisi kampung halamannya di luar sana, meskipun tempat itu sudah banyak berubah. Bukankah hal emosional seperti itu yang perlu kau perhatikan sebagai orang terdekatnya?" tanya Sasha telak, memotong kalimat Hugo tanpa permisi. "Apakah kau sudah menanyakan bagaimana perasaannya setelah pulang hari ini? Atau kau hanya peduli pada angka keselamatan yang kau temukan di rincian laporanmu?" Hugo seketika terdiam. Mulutnya terkunci rapat. Kerutan tipis muncul di dahinya, pertanda bahwa dia tidak siap dengan serangan balik yang menggunakan sudut pandang emosional dari adik iparnya. "Aku yakin kau bahkan belum sempat bertanya soal itu padanya,

  • Tunangan Nakal Sang Kapten   BAB 5: Reuni Keluarga

    "Oh, ternyata kalian ada di situ," ucap Lilia santai saat memasuki ruang rapat, seolah pemandangan dua orang yang saling tindih di lantai remang adalah hal lumrah. Dia melangkah mantap menuju meja oval di tengah ruangan, mengabaikan atmosfer canggung yang mendadak pekat.Sementara itu, Hugo berdiri kokoh di ambang pintu. Matanya terkunci pada sang adik yang sedang berusaha bangkit. Meskipun gerakannya agak limbung akibat panik, Gabriel dengan cepat merapikan seragam militernya."Kau sedang menyerangnya, Gabriel?" tanya Hugo datar tanpa ekspresi, melangkah masuk dengan ritme konstan.Gabriel mendengus, menekan rasa gugup yang menjalar saat menaikkan ritsleting seragam dan rompi taktisnya. "Tidak! Aku tidak sepertimu, Kak! Jangan mengatakan hal aneh.""Lalu apa yang kalian lakukan di lantai?" Pertanyaan Hugo meluncur tanpa sensor. "Apa kau sedang melakukan pendekatan emosional dengan menindih tubuh pasanganmu di ruang rapat militer?""Kak,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status