LOGINTwisted Fate is a romance fiction story about a young girl, Sandra Fletcher, fresh from high school, who eloped with her boyfriend, Dan, to Arkansas with the hopes of going to nursing college and getting married to him. After he suddenly abandons her, she finds herself all alone and faced with the decision of whether to continue with her life in Arkansas or return home. Deciding to stay, She meets and falls in love with a billionaire, Eric Logan, and in the twists and turns of this intriguing story, she suddenly finds out that Eric is her ex-boyfriend's father. She is now faced with a decision to make.
View More“Dua ratus juta buat lunasi hutang ayahmu, tapi kamu harus buat Amara hamil!”
Sebuah cek melayang di udara, lalu mendarat mulus di atas meja marmer yang dingin. Angkanya terpampang jelas. Jumlah nol-nya banyak, cukup untuk bikin mata siapa saja terbelalak kaget.
Adrian menatap kertas itu dengan wajah datar. Pria berusia tiga puluh dua tahun itu nampak berpikir sejenak. Jas putih dokternya tersampir asal di lengan kekarnya yang terbalut kemeja biru muda.
Di depannya, Bu Ratih menatap Adrian dalam-dalam karena dia tahu persis apa yang sedang dibutuhkan oleh dokter kandungan di hadapannya. "Tugasmu sederhana, Adrian, buahi Amara dan berikan aku cucu dari benihmu!"
Perintah itu terdengar gila dan benar-benar di luar nalar!
Bagaimana tidak, Adrian ini sepupu jauh Doni sendiri. Meskipun hubungan darahnya sudah agak jauh, tetap saja rasanya aneh.
Tapi Adrian tidak langsung menolak.
Ayahnya yang gila judi itu sekarang lagi sekarat di rumah sakit.
Preman-preman suruhan rentenir sudah ngancam bakal ngabisin nyawa tua ayahnya kalau Adrian tidak melunasi hutangnya malam ini juga. Belum lagi biaya operasi yang menunggak sampai puluhan juta
"Tante serius? Amara kan ada suaminya. Saya ini sepupunya loh. Apa kata orang nanti kalau Amara hamil anak saya?" tanya Adrian basa-basi.
"Lagian, menantuku udah 5 tahun ini nggak bisa ngasih cucu buat aku. Terus, kalau mau diceraikan, jabatan dia manajer di perusahaan cabang suamiku. Terus kalau kasus itu nyebar, mau ditaruh mana muka keluargaku nanti?"
Tak lama kemudian, Amara masuk, dia tidak sempat mendengar pengakuan bahwa ibunya benci dengan suaminya sendiri. Dia hanya tahu kalau Adrian bekerja untuk keluarganya sebagai dokter kandungan pribadi untuk membuatnya dan Doni cepat memiliki momongan.
Amara sudah tahu tujuan dia dipanggil ke sini karena sebelumnya dia sudah diskusi dengan Bu Ratih.
Amara, putri tunggal Bu Ratih, duduk meringkuk di atas sofa kulit berwarna cream. Tubuhnya gemetar hebat. Wajah cantiknya yang biasa menghiasi majalah sosialita kini basah oleh air mata dan ingus. Mascaranya luntur, menciptakan jejak hitam di pipi putih mulusnya, namun hal itu justru menambah kesan rapuh yang menggugah naluri lelaki manapun yang melihatnya.
"Bagaimana, Adrian? Tawaran saya tidak datang dua kali. Lunasi semua hutang busuk ayahmu itu, dan kamu akan mendapatkan bonus tambahan setelah putriku positif hamil," suara Bu Ratih terdengar dingin, tajam, dan tidak mentolerir penolakan.
"Mama gila apa, ya? Minta Dokter Adrian buat hamili aku? Ini menjijikkan, Ma!" teriak Amara di sela tangisnya. Dia mengangkat wajahnya, menatap ibunya dengan tatapan nyalang penuh luka.
"Aku punya suami, Ma! Aku punya Mas Doni! Bagaimana bisa Mama menyuruhku tidur dengan... dengan pria seperti dia? Aku cinta mati sama Mas Doni dan selamanya akan begitu, terlepas kekurangan Mas Doni yang mandul!"
Adrian hanya melirik sekilas ke arah jari lentik yang menunjuknya itu. Dia tidak tersinggung.
"Suami?" Bu Ratih mendengus kasar, seolah kata itu adalah lelucon paling lucu tahun ini. Dia bangkit dari kursinya, berjalan memutari meja, lalu berdiri menjulang di hadapan putrinya.
"Lima tahun, Amara! Lima tahun kamu menikah dengan Doni, dan apa hasilnya? Rahim-mu masih kosong sampai sekarang! Dokter sudah bilang, Doni itu lemah dan benihnya nggak berkualitas. Kamu mau menunggu sampai kapan? Sampai perusahaan Papa jatuh ke tangan sepupumu karena kita tidak punya pewaris? Sampai Doni mati terus kamu mau nikah lagi?"
"Tapi aku mencintainya, Ma! Kami bisa adopsi anak, inseminasi, atau bayi tabung..."
"Cukup, Amara, jangan bela suamimu lagi perihal anak!" bentak Bu Ratih.
"Darah daging adalah segalanya. Mama udah seleksi banyak kandidat, dan Adrian adalah yang terbaik. Fisiknya sempurna, otaknya cerdas, tidak ada riwayat penyakit genetik, dan yang paling penting, sekarang dia butuh uang. Dia tidak akan menuntut hak asuh anakmu nanti."
Adrian menarik napas panjang. Aroma parfum mahal ruangan itu bercampur dengan aroma keputusasaan. Dia menatap Amara yang kembali menangis histeris. Wanita itu mengenakan dress selutut berbahan sutra yang mencetak lekuk tubuhnya dengan sempurna.
Bahkan dalam keadaan berantakan, Amara terlihat begitu menggoda. Kulitnya putih bersih, kontras dengan kulit Adrian yang sawo matang.
Bu Ratih kembali mengalihkan atensinya pada Adrian, kali ini untuk memberi penawaran terakhir.
"Setelah Amara hamil, kamu pergi dan tugasmu untuk keluargaku selesai. Dua ratus juta setelah malam pertama kalian, lalu sisanya aku lunasi setelah Amara sudah ada tanda hamil. Ini cukup buat lunasi hutang ayahmu sama kamu bangun hidup baru!"
Setengah miliar.
Kata-kata itu berdenging di telinga Adrian. Jumlah yang fantastis untuk pekerjaan yang, jujur saja, diimpikan banyak pria.
Tidur dengan wanita secantik Amara, dibayar pula. Apa ruginya?
Harga diri? Persetan dengan harga diri. Harga diri tidak bisa dipakai untuk membayar hutang ayahnya yang nyaris membuat ayahnya cacat permanen karena dipukuli rentenir.
Lalu, kode etikku sebagai dokter? Oh, tentu tidak. Kode etik hanya berlaku ketika diriku bertugas, sedangkan aku, hanya sebagai laki-laki penanam benih dan bukan dokter Obgyn.
Tangan Adrian terulur, mengambil cek yang tergeletak di meja. Dia menatap deretan angka itu sejenak, memastikan jumlahnya sesuai dengan penderitaan yang akan ia tanggung.
"Saya terima," ucap Adrian tanpa keraguan lagi.
"Hah? Dokter, kamu gila, ya!" Amara memekik tertahan. Dia bangkit berdiri, menatap Adrian dengan pandangan tidak percaya.
"Dokter mau melakukannya atas perintah Mama? Sumpah, aku kecewa sama kamu, Dok, udah tiga tahun aku sama Mas Doni percaya sama kamu, tapi apa balasan kamu?" Kamu benar-benar pria paling menjijikkan yang pernah aku temui di dunia ini!"
Amara meludahkan kalimat kasar itu tepat di depan wajah Adrian dengan tatapan mata penuh kebencian.
"Saya tidak punya pilihan lain untuk menyelamatkan nyawa ayah saya dari incaran para rentenir itu."
They parked in front of the restaurant where the chauffeur took the keys from Eric to park the car in the bay. Sandra noticed that this restaurant was different. It oozed an ambiance that silently spoke of the well-to-do class. She walked hand in hand with Eric as they entered the restaurant. The light was dim, and she could hear the soft background music playing. They were ushered to their table by a middle-aged man who smiled as he handed them their drink menu. As they settled in, she noticed there was champagne on the table which was opened within a short while. He raised his glass as Sandra asked him. What are we toasting to? And he replied, "to more beautiful times ahead." She smiled as she raised her glass and there were clicks in unison. They ordered their meals and waited, but Sandra noticed that Eric was a bit distracted tonight and wore a look she had never seen before. She asked him if everything was going okay at work and he responded heartily and then broke the silence. I
Eric got home and decided to watch his popular tv show, the Jackson. He loved the characters in the movie and did not like missing any episode of it. It made him laugh, he thought as he settled in with a glass of red wine. Hmmm…. he paused wondering what Sandra might be doing at this time. He was a happy man now knowing she had a small affection towards him. He reminisced on how the time he spent with her went. He was content and was adamant he was going to stick to his promise and make her want him. He settled in and continued watching his movie. After a few hours he fell asleep, he woke up a few minutes shortly, switched off the TV and went off to bed.The next morning, Eric got a call from his ex-wife. "I'm just checking in with you," she said. I wanted to find out if you have signed the papers. Eric responded letting her know he was having a meeting with his lawyer later in the afternoon and scheduled a meeting with her for the next day at 10 am. As he hung up the phone, he placed
Eric finished taking a shower and was clad in a blue pair of jeans and a yellow gold neck t-shirt. He loved perfumes and had a section of his wardrobe for that. He walked out of his apartment engaged in a short conversation with the doorman and proceeded to pick up Sandra. He was a few minutes early but he did not want to keep her waiting. As she got out of the dance class all sweaty, Eric proceeded to open the passenger side of the car and quickly slide in. She was not used to receiving such gestures from a man. Her boyfriend, who was her first dud not care about such modesty. She smiled as they drove towards her apartment. "Which one is it?" Eric asked as she pointed to the building around the corner of 15th Avenue. Eric was taken aback but hid any display of emotion. That was one of the numerous apartments he owned. He never met Sandra because he hardly went to that apartment as he had estate agents who took care of all his apartments. He stepped out of the car and opened the door
Eric decided he would take her to the Palazzo; it was a lovely little pub for the elite. He wanted a place where he could have a quiet moment with her. He wanted to express his feelings toward her, uninterrupted. He could see she was tense as she barely engaged in a conversation with him, putting in a few words here and there. He did not want to impose himself, he was going to be gentle on her, though that was never his style as he always got his way with women whenever he wanted. He was attractive, well-off, and charismatic.As he parked his car in the parking lot, he ushered her in front of him taking a glance at her legs. He imagined how she would feel in his arms lying close to him. She was young and petite. He could groom her into the woman he wanted her to be. As they settled in at a far corner away from the drowning noise of the music, he quickly held her hands in his softly. She tried to pull her hands away but he held on to them with determination. He knew there was no rule a






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews