Twisted Love Knots: A Billionaire's Substitute

Twisted Love Knots: A Billionaire's Substitute

last updateLast Updated : 2024-01-15
By:  MirraryCompleted
Language: English
goodnovel16goodnovel
4
1 rating. 1 review
151Chapters
1.9Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

At the age of twenty-two, Cecy Smith had no interest in marriage. Her sole focus was obtaining her Ph.D. by the time she turned twenty-five; everything else felt like a distraction. Cecy , widely regarded as a naive and studious young woman, had never considered marrying until her twin sister, Barbara, became involved with a billionaire. In a short span of time, Cecy found herself taking her sister's place, as Barbara abandoned the marriage, leaving Cecy to sort out the aftermath. As Cecy attempts to navigate this unconventional situation, she becomes entangled in a complex web of emotions, caught between her loyalty to her sister and her newfound feelings for Zacky, the man who had shown her kindness and affection. Will she choose to remain in the marriage, or will she protect the love she has found with Zacky? Can she outsmart her sister's cunning tactics as she embarks on a life with her husband, all while secrets slowly unravel?

View More

Chapter 1

Chapter 1:  Marriage

Hari itu seharusnya menjadi momen penuh kebahagiaan—ulang tahun pertama Elio. Namun alih-alih balon, kue dan lilin, yang hadir adalah tangis dan bunga duka. Nadine berdiri kaku di depan nisan mungil yang baru saja ditancapkan ke tanah basah. Dalam genggaman tangannya ada sebuah boneka beruang kecil milik putranya, satu-satunya peninggalan yang masih menyimpan aroma bayi Elio.

“Elio bisa diselamatkan kalau dapat donor sumsum, 'kan?” bisik salah satu tamu pemakaman.

“Benar. Sebenarnya ayahnya, Arvan, satu-satunya yang cocok. Tapi katanya mereka sudah pisah ranjang sejak Nadine hamil. Arvan bahkan menolak jadi donor.”

“Ya Tuhan! Jadi anak itu mati karena ayahnya sendiri menolak menyelamatkannya?”

Kata-kata itu mengiris hati Nadine. Ia menggigit bibir untuk menahan isak. Mereka tak paham kebenaran di baliknya. Mereka tak tahu betapa ia sudah memohon, mengemis, bahkan mencium kaki pria yang dulu pernah ia cintai itu.

“Aku tak mau urusan dengan anak itu,” ucap Arvan dulu. “Bayi itu adalah hasil dari malam sial, dan aku tidak akan mempertaruhkan hidupku untuknya.”

Kini, jadi kenyataan pahit, Elio pergi. Bukan karena penyakit yang tak bisa disembuhkan, tetapi karena kebencian seorang ayah yang terlalu dalam. Satu-satunya keluarga yang tersisa kini hanya tinggal luka.

Saat para pelayat telah meninggalkan pemakaman, Nadine duduk sendiri di tepi nisan. Suara notifikasi dari ponselnya memecah kesunyian. Ada sebuah pesan video dari nomor tak dikenal.

Jari Nadine gemetar menekan tombol putar. Dalam rekaman itu, Arvan terlihat sedang bercinta dengan seorang wanita—Raline--sepupu Nadine. Di tengah tawa dan desahan, suara mereka terdengar begitu jelas.

“Aku lebih baik denganmu, Raline. Nadine membosankan.”

“Lupakan dia, Arvan! Aku yang kau butuhkan,” bisik Raline seraya mencium leher pria itu.

Napas Nadine tercekat. Dadanya sesak bukan hanya karena kemarahan, tetapi juga karena pengkhianatan yang kini terasa begitu nyata. Saat anaknya meregang nyawa, dua orang terdekatnya justru bersenang-senang dalam kubangan dosa.

Belum sempat ia menyeka air mata, pesan teks lain masuk.

[Kau terlihat cantik dalam balutan duka. Lihatlah ke belakangmu, Nadine.]

Dengan hati-hati, ia menoleh.

Raline berdiri tak jauh dari tempatnya, mengenakan gaun hitam dengan senyum licik terpulas di wajah.

“Apa lagi maumu?” tanya Nadine dengan suara rendah.

Raline berjalan pelan, menyentuh nisan Elio seolah benar-benar berduka. “Hanya ingin melihat keponakanku terakhir kali. Sayang sekali, dia tak sempat mengenalku lebih lama.”

“Kau sudah merampas suamiku, kebahagiaanku, dan kini putraku mati. Kau masih belum puas juga?”

Raline menatapnya penuh kemenangan. “Aku belum puas… karena kamu masih hidup.”

Napas Nadine tercekat. Seketika, tubuhnya didorong keras ke arah belakang. Ia terguling menuruni tangga pemakaman. Dunia berputar. Benturan keras di kepalanya membuat dunia perlahan menggelap.

Namun samar, di antara jeritan pura-pura Raline yang memanggil pertolongan, Nadine melihat senyum Elio—di ujung pandangan, seolah menantinya.

“Mama akan segera datang…” bisik Nadine, sebelum kesadarannya sirna.

---

“Dokter! Pasien di kamar 187 sadar!”

Seruan itu mengoyak keheningan, menarik Nadine dari tidur panjangnya yang terasa seperti seabad. Kelopak matanya terasa berat, cahaya menyilaukan menusuk retinanya begitu ia mencoba membuka mata.

Suara langkah kaki tergesa-gesa mendekat. “Cepat hubungi keluarganya. Nona Nadine sudah sadar,” ujar sang perawat. Nadine hanya mampu menggerakkan bola matanya, mengamati langit-langit putih yang asing.

Beberapa menit kemudian, pintu bangsal terbuka. Nadine berharap melihat wajah yang ia kenal—mungkin mama, atau… siapa pun yang mencintainya. Tapi bukan. Yang masuk adalah bibinya, Hestia, bersama suaminya, Danu.

“Nadine… syukurlah…” Hestia langsung memeluknya. Namun, setelah pelukan itu, suara bibinya berubah menjadi sesenggukan. “Kenapa kamu mencoba mengakhiri hidupmu, Sayang?”

Nadine mengerutkan kening. Mencoba bunuh diri? Tidak. Dia tidak mencoba… dia tidak melompat sendiri. Raline yang mendorongnya. Tapi suaranya tak keluar. Tenggorokannya kering, dan lidahnya terasa lumpuh. Dia mencoba bersuara, namun yang keluar hanya desah parau.

“Kenapa suaranya serak seperti itu?” Danu menatap dokter yang baru saja masuk. Dengan ekspresi serius, dokter mempersilakan mereka keluar ruangan.

Nadine hanya bisa melihat bayangan mereka dari balik kaca jendela. Lalu tangis Hestia meledak. “Kau bilang dia kehilangan bayinya… suaminya menceraikannya saat dia masih koma… dan sekarang dia alami trauma?!”

Apa? Nadine membeku. Bisakah suaramu pulih?

Tangannya menggigil, meraih selimut, berusaha bangkit. Tapi tubuhnya terlalu lemah. Dia jatuh dari ranjang. Infus tercabut, darah mengalir. Semua panik, termasuk dokter dan perawat yang berlari masuk.

Setelah ditenangkan dan dikembalikan ke ranjang, Nadine hanya bisa menatap langit-langit kosong. Sampai akhirnya, Hestia menyerahkan sebuah kotak kecil.

“Ini satu-satunya yang Tante bisa selamatkan dari rumah…” ucapnya lirih.

Di dalamnya ada pakaian mungil berwarna biru—kaus milik bayi Nadine, Elio. Aroma sabun bayi masih tertinggal. Nadine mencium kain itu, menahan isak yang mendesak dari tenggorokan bisunya.

Dengan tangan lemah, Nadine menulis di kertas.

Cerai?

Hestia mengangguk, matanya merah.

“Arvan menceraikanmu tak lama setelah kamu koma. Dia juga meninggalkan semua utang atas namamu. Rumah, mobil, aset—semua atas nama perusahaan. Kau… tak punya apa-apa lagi.”

Nadine memejamkan mata. Luka itu dalam. Terlalu dalam. Tapi Hestia belum selesai.

“Ada satu lagi…” bisik Hestia.

“Orang tuamu… mereka mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan pulang dari pemakaman Elio. Mereka… tidak selamat, Nadine.”

Tubuh Nadine menggigil. Tangisnya meledak tanpa suara. Seakan dunia benar-benar menghapus keberadaannya satu demi satu—anaknya, suaminya, suaranya, orang tuanya.

---

Beberapa Hari Kemudian

Nadine tidak pernah benar-benar pulih. Ia menjalani fisioterapi, makan dengan dipaksa, hidup dengan tubuh yang bergerak tanpa jiwa.

Suatu malam, ia menunggu hingga malam berganti dini hari. Ia tahu jadwal petugas. Ia tahu rooftop rumah sakit akan terbuka selama lima belas menit untuk inspeksi udara.

Angin dingin menyambutnya saat ia berdiri di tepi pembatas. Rambutnya beterbangan, gaun rumah sakitnya tipis melambai. Tangannya terbuka, seakan menyambut Elio di langit.

“Elio … mama akan pulang.”

Namun tepat ketika tubuhnya hendak melompat, sebuah tangan kuat menariknya ke belakang. Nadine terhuyung dan jatuh ke pelukan seseorang.

“Gila,” gumam suara berat seorang pria. “Kalau mau mati, cari tempat lain. Jangan di sini. Aku tidak punya waktu menjelaskan pada polisi kenapa wanita setengah hidup ada di tanganku.”

Nadine terbelalak. Pria itu berdiri dengan kemeja lusuh, mata cokelatnya tajam, penuh luka, namun tak ada sedikit pun iba dalam sorotnya.

“Apa hidupmu semenyedihkan itu?” tanyanya.

Nadine tak bisa menjawab. Hanya air mata yang mengalir dan kepala yang tertunduk.

“Baiklah,” ucap pria itu sambil membalik badan. “Kalau kamu masih ingin mati besok malam, aku akan menunggumu. Tapi untuk malam ini, ikut aku. Kita belum selesai membicarakan tentang hidup.”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

reviews

Kim Griffin
Kim Griffin
It was fine until chapter 20 when new characters and a new plot - a new story - started. Very disappointing
2024-02-03 10:46:59
0
0
151 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status