Compartir

10. Teman Bajingan.

last update Fecha de publicación: 2026-07-09 10:42:45

Tia mengangkat alis.

"Ada apa, Bu?" tanya Tia heran.

Bu Narti tidak menjawab namun ia duduk di kursi sebelah Tia.

Tia semakin heran. Biasanya Bu Narti sangat sibuk melayani pembeli. Namun kali ini ia membiarkan Mbak Dewi sibuk sendiri.

"Maksud Bu Narti apa?" tanya Tia lagi. Ia penasaran.

Wanita paruh baya itu menghela napas.

"Selama ini Ibu sulit bertemu kamu sendirian. Soalnya kalau ke sini Nak Tia selalu bersama dengan Airin dan Amira."

Mendengar nama Airin dan Amira disebut, Tia makin penasa
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado
Comentarios (2)
goodnovel comment avatar
Iin Iin
ternyata Airin dan Amira musuh dalam selimut buat Tia..
goodnovel comment avatar
meyga
seru bgt, cerita2 dsekolah bikin inget jaman SMA,. makash mbg, ceritanya fresh bgt ini.
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   32. Rumah Baru, Masalah Baru.

    Tia menoleh.Riffat."Hati-hati."Suara pria itu terdengar dingin."Keramiknya bisa lecet kalau kamu jatuh di sini."Ia lalu melepaskan bahu Tia lalu mengibas-ngibaskan tangannya. Seolah-olah ia baru saja memegang sesuatu yang menjijikkan."Lagi pula utang lima miliar itu belum kamu bayar sepeser pun. Saya bisa rugi kalau kamu jatuh kemudian amnesia."Tia menatapnya Riffat sesaat. Lalu ia meniru aksi Rifat. Yaitu mengibas-ngibaskan bahunya yang tadi dipegang oleh Riffat.Riffat mengetatkan geraham geram. Tia membalas hinaannya dengan cara yang sama. Bahkan tanpa ia perlu berbicara.Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Tia melangkah menuju mobil pikap. Ini lalu naik ke mobil dan tidak menoleh ke belakang lagi.***Baru saja mobil pikap berhenti di depan kontrakan, Tia sudah mendengar suara keributan dari dalam rumah.Teriakan ibunya bersahut-sahutan dengan suara beberapa perempuan.Tanpa berpikir panjang, Tia melompat turun dari bak pikap dan berlari masuk.Begitu masuk ke ruang tamu ya

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   31. Terusir Dari Rumah Sendiri.

    "Angkut semua barang kalian. Jangan ada satu pun yang tertinggal."Suara Riffat menggema hingga ke lantai dua. Tia mengabaikannya. Ia pura-pura tidak mendengar sambil terus memasukkan barang-barang terakhirnya ke dalam dua koper besar.Tak banyak yang tersisa. Sehari sebelumnya, sebagian besar barang pribadi mereka sudah lebih dulu dipindahkan ke rumah kontrakan. Pernak-pernik mewah yang dulu memenuhi rumah telah habis dijual untuk melunasi utang bank. Satu-satunya mobil keluarga yang biasa dikendarai Bang Mahmud juga sudah dijual oleh ibunya. Hal itu terpaksa dilakukan demi membayar biaya sekolah Rima yang baru naik ke kelas empat. "Setelah ruangan kosong, segera bersihkan semuanya ya, Bu. Saya tidak mau melihat ada "sampah" lagi di sini!"Teriakan Riffat kembali terdengar. Dengan cepat Tia mengemas sisa-sisa barangnya. Dari pagi bekerja sendirian membuatnya kelelahan. Ibunya memilih menunggu di kontrakan bersama Rima. Ibunya beralasan tak sanggup melihat Riffat mengambil alih

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   30. Sahabat Sejati.

    Clara terdiam beberapa saat."Serius lo?""Iya. Dua rius malah." Menutupi kegugupannya Tia mencoba bercanda."Lo mau jual berapa?"Tia menelan ludah."Dulu gue beli sekitar dua puluh jutaan. Tapi sepatunya udah pernah gue pake beberapa kali sih. Kalau lo mau gue jual sepuluh juta aja deh."Untuk meyakinkan Clara, Tia memotret kotak sepatu, kondisi sepatunya, serta bukti pembelian yang masih ia simpan."Oke deh. Deal."Tia mengembuskan napas lega."Lo bisa transfer sekarang nggak? Nanti sore gue anter langsung sepatunya ke apartemen lo.""Bisa. Bentar ya."Tak lama kemudian, notifikasi mobile banking berbunyi. Tia langsung membukanya. Matanya membelalak. Jumlah uang yang masuk bukan sepuluh juta. Melainkan dua puluh juta rupiah.Tia buru-buru menelepon Clara lagi."Cla, lo transfernya kebanyakan!"Di seberang sana Clara malah tertawa."Nggak apa-apa. Gue lagi banyak duit. Lagian memang segitu kan harganya?""Tapi... gue nggak enak, Cla.""Gue-nya enak-enak aja kok. Udah ah, nggak usah

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   29. Mencari Jalan Terbaik.

    Tia langsung mematikan laptop saat mendengar pintu rumah terbuka. Ibunya pasti sudah pulang. Tia melongok ke bawah dari tingkat dua. Tebakannya benar. Ibunya sudah duduk di sofa.Dengar berlari-lari kecil Tia menuruni tangga. Ibunya tadi pergi ke rumah keluarga besar untuk meminta bantuan.Dua minggu lagi mereka sudah harus mengosongkan rumah. Tenggat waktu yang diberikan Riffat akan segera tiba. Ia menaruh harapannya besar pada kabar yang di bawa oleh ibunya. Semoga saja ibunya membawa berita baik. Tia berjalan ke dapur terlebih dahulu. Mengambil segelas air dingin dari dalam kulkas lalu berjalan ke ruang tamu."Ini, minum dulu, Bu." Tia menyodorkan air dingin yang segera diteguk ibunya hingga separuh.Wajah ibunya tampak letih. Riasan tipis yang biasanya selalu sempurna, kini sudah luntur. Menyisakan gurat kelelahan yang sulit disembunyikan."Berhasil tidak, Bu?" tanya Tia harap-harap cemas.Ibunya menggeleng lemah."Tidak, Ti. Mereka semua kompak bilang tidak punya uang." Ibunya

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   28. Aku Takkan Menyerah!

    Tia merasa punggungnya mendadak dingin. "Apa maksud Anda, Pak Riffat?" Tia menyembunyikan kedua tangannya yang mulai gemetar ke saku jaket. Instingnya mengatakan ada masalah besar lain lagi di hadapannya. Riffat menoleh kepada pria berkacamata di sampingnya."Pak Haris. Perlihatkan dokumennya."Pak Haris mengeluarkan sebuah map lain dari dalam tas kerjanya. "Silakan dibaca dulu isi perjanjiannya." Pak Haris membuka map dan mendorong beberapa lembar kertas ke hadapan Bu Astri dan Tia."Ini adalah perjanjian pinjaman antara almarhum Pak Aminuddin dengan klien kami," imbuh Pak Haris.Dengan cepat Tia dan Bu Astri membaca baris pertama.Nominal pinjaman: lima milyar!Tangannya langsung gemetar."Li... lima miliar?" Suara Bu Astri bergetar. Tia mengepal tangannya makin erat di dalam saku. Jangan histeris, Tia. Jangan membuat laki-laki jahat ini tertawa puas di atas kehancuranmu. Tia merapal kata-kata itu bagai mantra di kepalanya. Pak Haris mengangguk."Benar. Ini adalah pinjaman pri

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   27. Serigala Berbulu Domba.

    "Jadi... kamu mau mengusir kami dari rumah kami sendiri, Rif?"Suara Bu Astri bergetar menahan amarah.Pagi itu genap satu bulan sejak suaminya dimakamkan. Riffat datang bersama seorang pengacara dan membawa setumpuk dokumen. "Rumah kalian sendiri?" Riffat mengangkat sebelah alisnya."Rumah ini sudah menjadi milik saya sekarang," ucapnya sambil menyilangkan kaki."Perlihatkan AJB-nya, Pak Haris." Riffat menoleh pada pengacaranya yang dengan sigap mendorong satu map ke atas meja."Ini adalah akta jual beli yang sudah ditandatangani oleh almarhum beberapa minggu sebelum beliau meninggal. Karena rumah ini merupakan harta pribadi Pak Aminuddin sebelum menikah dengan Ibu, penjualannya sah tanpa memerlukan persetujuan pasangan." Pak Haris menjelaskan prosedur sesuai hukum yang berlaku.Bu Astri memandang dokumen itu dengan napas memburu. Tangannya bergetar saat membaca AJB tersebut."Jadi, jangan bilang kalau saya mengusir kalian dari rumah kalian sendiri. Ini rumah saya," lanjut Riffat sa

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status