Mag-log inDari luar, hidup Justitia Rahmadsyah tampak sempurna—putri dari dua figur publik ternama, bergelimang harta, dan keluarga yang terlihat harmonis. Namun dalam kenyataannya, semua citra positif itu semu. Kedua orang tuanya kerap bertengkar dan saling membenci satu sama lain. Situasi rumah yang seperti medan perang membentuk Tia menjadi gadis yang kehilangan arah. Ia tumbuh liar—menenggelamkan diri dalam pesta, perkelahian, dan kehidupan tanpa batas, hanya untuk melupakan kehampaan yang menggerogoti jiwanya. Semua berubah dalam satu malam. Kecelakaan tragis merenggut nyawa ayahnya—bersama perempuan yang selama ini menjadi rahasia memalukan keluarga. Skandal itu menyeret segalanya hancur : harta disita, utang menumpuk dan ibunya yang tak sanggup menghadapi kenyataan, kehilangan kewarasannya. Dalam sekejap, Tia kehilangan segalanya. Dipaksa dewasa oleh keadaan, Tia bertarung sendirian di dunia yang kejam. Orang-orang yang dulu tersenyum dan menerima bantuan keluarganya kini berpaling, bahkan pura-pura tak mengenalnya. Namun, cobaan belum berhenti. Riffat, sosok dari masa lalu yang kelam, kembali hadir. Ia adalah anak dari musuh lama keluarga Rahmadsyah—dan kedatangannya bukan tanpa tujuan. Riffat membawa dendam yang belum terbayar, dan Tia menjadi sasaran paling mudah untuk melunasi semuanya. Terjebak antara masa lalu dan masa kini, Tia harus memilih: bertahan dan melawan, atau hancur bersama semua luka lama. Karena bagi Tia, untuk bisa tetap waras saja… sudah seperti keajaiban.
view more"Kamu ini bagaimana sih jadi seorang ibu, Tri?” suara Pak Aminuddin meninggi. "Anakmu dipanggil ke sekolah karena nilainya jeblok semua. Ditambah merokok dan tawuran. Lihat ini percakapan Bu Tantri denganku!"
Pak Aminuddin menunjukkan percakapannya dengan wali kelas putrinya pada sang istri. Di sana tertera rangkuman nilai sang putri, berikut percakapannya dengan Bu Tantri.
"Lho, kenapa Mas menyalahkan aku saja?" balas Bu Astri tak kalah tajam. "Tia itu bukan anakku sendiri. Mas kan ayahnya juga."
Mendengar sanggahan sang istri, Pak Aminuddin melotot.
"Betul. Tapi kamu ibunya. Dan seorang Ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya."
Bu Astri seketika tertawa mengejek.
"Halah! Jangan bicara soal madrasah-madrasah segala, Mas. Nggak pantes dengan kelakuan bejatmu!" cetus Bu Astri jijik.
"Siang malam main perempuan, berani-beraninya ngomong soal madrasah. Kualat nanti kamu, Mas!" Amarah Bu Astri makin menjadi.
"Lah, kamu sendiri, bisa menjadi ketua yayasan anak-anak bermasalah. Tapi mengurus anak sendiri kamu tidak pernah punya waktu!" tuduh Pak Aminuddin tak mau kalah.
"Itu artinya kita berdua sama-sama tidak becus. Bukan cuma aku saja!" balas Bu Astri tak kalah tajam.
Tia menonton pertengkaran seru kedua orang tuanya sambil duduk santai di sofa. Satu kakinya diayun-ayunkan. Sudah lama sekali mereka ribut seperti ini.
Biasanya mereka sangat sulit bertemu satu sama lain, apalagi bertengkar. Kesempatan langka ini tidak akan ia sia-siakan.
Hingga sekonyong-konyong,
Plak!
Kepala Tia terlempar ke samping. Pipi kirinya terasa panas. Ayahnya menamparnya keras.
"Kenapa kamu jadi nakal begini, hah?" bentak Pak Aminuddin.
"Merokok di sekolah, tawuran! Kamu itu anak perempuan, Tia! Mau jadi apa kamu nanti?"
Tia menoleh perlahan. Lalu… tersenyum bahagia.
Plak!
Tamparan kedua mendarat di pipi kanannya.
"Senyum lagi?" Pak Aminuddin bertambah murka. "Kamu meledek Ayah?"
Suara ayahnya semakin tinggi. Dan senyum Tia semakin lebar.
Akhirnya mereka melihatnya juga.
"Kamu senang ya melihat Ayah marah? Nih, rasakan!" Pak Aminuddin menjambak rambut putrinya geram. Sungguh, ia tidak tahu lagi harus bagaimana mendidik anak gadisnya.
Capek menghajar Tia namun sang anak gadis tetap santai, Pak Aminuddin menghentikan aksinya.
Tia merapikan rambutnya yang acak-acakan sambil tetap tersenyum.
"Nggak kok, Yah," ucapnya ringan. "Tia nggak ngeledek. Tia cuma senang… akhirnya Ayah sama Ibu melihat Tia juga," tuturnya.
Sunyi.
"Jadi walaupun harus ditampar, dihajar, nggak apa-apa," lanjutnya. "Yang penting Ayah dan Ibu tahu kalau Tia ada."
Untuk pertama kalinya, Pak Aminuddin dan Bu Astri terdiam. Kata-kata Tia menggantung di udara, pelan namun menampar balik tanpa suara.
Pak Aminuddin mendengkus, lalu mengambil kunci mobil.
"Dasar anak gendeng." Ia memaki pelan. "Sana, urus anakmu," katanya datar pada Bu Astri sebelum pergi begitu saja.
Pintu pun tertutup. Sekarang tinggal dirinya dan sang ibu.
"Jaga sikapmu, Tia!" ujar Bu Astri dingin. "Jangan mempermalukan Ibu. Apa yang kamu dapat dari semua itu? Merokok? Tawuran?"
Tia menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Perhatian," jawabnya santai.
Bu Astri menghela napas kesal. "Kamu sudah terlalu besar untuk Ibu timang-timang."
Bu Astri menyambar kunci mobil di meja.
"Ibu ada acara. Ingat, jangan ulangi lagi kebodohan-kebodohan seperti ini. Ayah dan ibu adalah orang penting. Jangan mencoreng nama baik kami."
Lalu tiba-tiba ia berbalik. "Oh ya, bilang pada gurumu. Kami tidak punya waktu ke sekolah. Kalau ada apa-apa, email Ibu saja."
Tanpa menunggu jawaban, Bu Astri ikut pergi. Pintu kembali tertutup. Dan rumah besar itu kembali sunyi.
Tia menatap kosong ke depan.
Seperti biasa rumah kembali sunyi. Beginilah nasibnya sebagai putri sulung Aminuddin Rahmadsyah. Seorang pengusaha tambang ternama.Ibunya Astri Rahmadsyah adalah pemilik brand kosmetik besar sekaligus sosok dermawan yang dielu-elukan karena membantu banyak anak terlantar.
Di luar, mereka sempurna. Di dalam mereka saling menghancurkan.
Semua bermula dari ayahnya yang kerap berselingkuh tanpa rasa bersalah. Awalnya ibunya sedih dan terus menangis. Namun ayahnya terus mengulangi perbuatannya.
Lama kelamaan ibunya berhenti peduli dan mencari kesenangan dengan cara berbeda. Mereka sibuk membangun citra, tapi lupa membangun rumah.
Tia dan adiknya Rima tumbuh tanpa merasakan kasih sayang orang tua.
Tia, kelas tiga SMA. Dan Rima kelas 3 SD. Mereka dibesarkan oleh pengasuh. Dikenal dunia sebagai anak Pak Amin dan Bu Astri, tapi asing bagi orang tuanya sendiri.
Ponselnya bergetar. Airin meneleponnya.
"Tia! Kita jadi ke club nggak? Gue dan anak-anak udah nungguin nih?" suara Airin terdengar bersemangat.
"Kata Amira ntar ada party gede pas midnight. Kita bisa dance sampai pagi!"
Tia menyeringai kecil. Kesempatan untuk melampiaskan kekecewaannya.
"Jadi. Gue jemput kalian semua bentar lagi. Gue nidurin adik gue dulu."
"Oke. Eh… tapi gue mau minta tolong. Cuma agak nggak enak sih." Suara Airin mulai disedih-sedihkan.
"Yaelah. Bilang aja." Tia memutar bola mata. Pasti sahabatnya ini ingin meminta sesuatu. Ia sudah hapal dengan kelakuannya.
"Gue pengen lipstik sama baju yang kemarin lo pakai. Beliin dong?" Nada suara Airin mulai merayu.
Tia mendengus pelan. "Ntar gue transfer. Lo beli sendiri aja."
"Asik. Beneran ya? Eh, Amira pengen juga katanya."
"Ya udah. Ntar gue transfer juga ke dia," kata Tia enteng. Uang bukan masalah buatnya.
"Lo emang sahabat paling top deh. Oke, kami tunggu ya. Jangan lama-lama!"
Telepon ditutup. Tia berdiri, lalu berjalan ke lantai dua. Berbeda dengan dirinya, Rima masih butuh dipeluk untuk bisa tidur.
Dan Tia… selalu ada untuk itu.Tia mendorong pintu pelan. Mungkin saja Rima sudah tidur. Seketika kepala mungil di ranjang berwarna pink menoleh.
"Kak Tia," seru Rima gembira.
"Rima kok belum tidur?" Tia duduk di samping ranjang. Mengelus sayang puncak kepala sang adik.
"Kan Kakak belum membacakan cerita?" jawab Rima manja.
"Soalnya sudah malam sekali. Kakak pikir Rima sudah tidur." Tia mencubit gemas pipi gembul Rima.
"Tadi sudah. Tapi bangun lagi karena ayah dan ibu bertengkar." Air muka Rima berubah kecut. "Eh, mereka marahin Kak Tia juga ya?"
Tia meringis. "Iya. Tapi nggak apa-apa. Karena itu artinya mereka masih ada perhatian walau sedikit." Tia menenangkan adiknya.
"Sekarang Kakak akan membacakan cerita. Tapi habis itu Rima langsung tidur ya?"
Kepala mungil itu pun mengangguk.
Tia lalu meraih salah satu buku cerita hardcover dari nakas samping tempat tidur. Buku impor mahal dengan ilustrasi indah yang dulu dibelikan ayahnya saat ulang tahun Rima.
Tia membuka halaman pertama.
"Di sebuah kerajaan besar…" suaranya mulai lembut dan mengalun," tinggal seekor burung kecil di dalam sangkar emas."Rima berbalik menghadap sang kakak. Mencari posisi yang paling nyaman.
"Sangkarnya cantik banget. Semua orang yang melihat bilang, burung itu pasti bahagia."
"Tapi dia nggak bahagia ya, Kak?" tebak Rima prihatin.
Tia tersenyum tipis.
"Nggak."
"Kenapa?"
"Karena setiap malam… burung itu kesepian walau sering di dalam istananya sendiri."
Rima terdiam.
"Dia punya makanan mahal, tempat tidur hangat, pokoknya semua ada," lanjut Tia lirih sambil mengusap rambut adiknya. "Tapi dia tetap kesepian."
Hening.
"Tapi, burung kecil itu punya satu hal yang bikin dia tetap kuat."
"Apa?" tanya Rima penasaran.
"Adiknya." Tia mengubah ceritanya.
Rima tersenyum kecil.
"Jadi tiap malam, burung itu akan bernyanyi sampai adiknya tidur. Karena selama adiknya masih bisa tidur dengan tenang, dia merasa dunia tidak sepenuhnya sunyi."
Kelopak mata Rima mulai berat.
"Kak…"
"Hm?"
"Kak Tia jangan tinggalin Rima ya…"
Kalimat itu menghantam tepat ke dada Tia. Ia menatap wajah kecil adiknya lama. Di rumah sebesar ini, ternyata cuma Rima yang masih membuatnya merasa dibutuhkan.
Tia tersenyum tipis meski matanya mulai panas.
"Nggak akan."
"Janji?" Suara Rima mengecil karena mengantuk.
Tia menggenggam tangan kecil itu pelan.
"Janji," jawabnya sambil membelai-belai kepala sang adik.
Setelah memastikan Rima benar-benar tertidur, Tia berdiri.
Wajahnya kembali datar. Ia mengambil kunci mobil. Jam menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Dan seperti biasa, ia akan pergi menuju tempat yang bisa membuatnya gembira walau semu.
Meninggalkan rumah yang tak pernah benar-benar terasa seperti rumah. Menuju dunia lain. Tempat ia bisa tertawa, menari, dan melupakan semuanya bersama teman-temannya walau hanya untuk sementara.
Tia menatap gelang di tangannya lalu memandang Pak Khalid."Kenapa, Pak?" tanyanya bingung."Jawab saja pertanyaan saya. Dari mana kamu mendapatkan gelang itu?" Pak Khalid menunjuk pergelangan tangan Tia."Ini?" Tia mengangkat lengannya. "Dari Ibu saya. Kata Ibu sekarang gelang ini milik saya.""Itu bukan gelang ibumu. Tapi gelang orang lain," pungkas Pak Khalid tegas. "Maaf, apa dasar Bapak berani mengklaim kalau gelang itu bukan milik Ibu saya?" Alis Tia bertaut. "Atas dasar kebenaran. Gelang itu adalah hadiah dari saya untuk Nila."Tia terdiam. Nama itu langsung mengingatkannya pada sesuatu.Pak Khalid pernah menyebut nama yang sama ketika mabuk di apartemennya. Pak Khalid mengangkat wajah."Kalau kamu tidak percaya, coba periksa. Di inisial huruf P itu, dibaliknya ada huruf R yang diukir kecil. Lalu di inisial huruf A ada huruf H yang juga diukir kecil."Penasaran, Tia pun melepas gelangnya dan memeriksa inisial huruf yang Pak Khalid katakan. Dan ternyata apa yang Pak Khalid ka
Setelah berpakaian rapi dan siap berangkat ke hotel, Tia tiba-tiba teringat sesuatu. Ia belum mentransfer utangnya pada Riffat!Tia buru-buru mengambil ponsel. Ia tidak ingin Riffat menganggapnya sengaja mangkir. Ia lalu mengetik pesan pada Riffat meminta nomor rekeningnya.Minta nomor rekening, Pak. Saya mau mentransfer cicilan.Tak sampai satu menit, balasan masuk. Riffat mengirimkan nomor rekeningnya tanpa basa-basi. Besok kamu tidak usah datang ke hotel.Tia mengernyit. Apa-apaan ini! Apa Riffat memecatnya?Tanpa berpikir panjang, ia langsung menelepon."Kenapa saya tidak boleh masuk kerja? Apa Bapak mau memecat saya?" tanya Tia gusar."Kalau saya dipecat, bagaimana saya bisa membayar utang?" lanjut Tia lagi.Di seberang terdengar suara decakan lidah."Kamu buta huruf atau bagaimana? Ada saya tulis memecatmu? Tia terdiam. Memang tidak."Saya cuma tidak ingin melihat wajahmu di restoran dalam dua hari ini."Tia masih belum bersuara."Saya ada pertemuan penting dengan beberapa kli
Tia melenguh pelan dan terbangun mendengar suara-suara orang yang berbicara bersamaan."Ada apa sih pagi-pagi buta udah ribut-ribut," keluhnya pelan.Rasanya ia baru memejamkan mata beberapa menit lalu.Perlahan ia membuka mata. Namun ia refleks menutupnya kembali karena silau.Silau?Ia langsung terduduk. Kalau silau berarti sudah pagi!Tangannya meraba-raba ponsel, tetapi matanya lebih dulu menangkap jam dinding.Pukul 07.30. WIB."Ya ampun!"Tia menepuk kening. Ia belum memasak nasi uduk! Ingatan terakhir yang tersisa adalah dirinya menangis di pelukan Bu Teti semalam. Entah kapan ia tertidur setelah itu.Tiba-tiba terdengar suara Bu Teti dari luar."Iya, Bu Novi. Hari ini Tia nggak jualan. Lagi sakit orangnya. Mungkin besok baru jualan lagi.""Oh, ya sudah. Saya heran aja. Biasanya si Tia nggak pernah tutup."Tia menajamkan pendengaran. Suara ribut-ribut itu berasal dari pelanggan nasi uduknya rupanya.Perlahan ia turun dari ranjang dan berjalan mengendap ke jendela. Dari celah ti
Tia baru saja membuka pintu rumah ketika langkahnya terhenti.Lampu di ruang tamu masih menyala terang. Di tengah malam seperti ini, seharusnya ibunya sudah tidur. Apakah ibunya lupa mematikan lampu?Tia menajamkan telinga. Ia mendengar suara ribut-ribut dari kamar ibunya. Penasaran, ia pun membuka pintu kamar sang ibu. Pemandangan di depannya membuatnya bingung. Alih-alih tidur, ibunya malah sibuk memasukkan pakaian ke dalam koper."Baru pulang, Tia? Cepat bantu Ibu dulu. Pakaianmu dan Rima belum ibu masukkan ke koper," kata Bu Astri tanpa melihat Tia.Tia mengernyit."Untuk apa, Bu? Kenapa Ibu menyusun pakaian malam-malam? Kita mau ke mana?""Jangan banyak tanya. Bantu saja Ibu dulu. Nanti baru Ibu jelaskan." Tangan ibunya dengan lincah menyusun sisa-sisa pakaian di ranjang ke dalam koper. Karena Tia tidak bereaksi, Bu Astri menatap putrinya. Pada saat itulah dia baru melihat keadaan sang putri yang luka-luka. Wajahnya lebam, lengan bajunya robek, dan luka di beberapa bagian tubu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu