Partager

9. Curahan Hati.

Auteur: Suzy Wiryanty
last update Date de publication: 2026-07-09 10:42:02

Ternyata apa yang dikatakan Ronald benar. Begitu sampai di ruang guru, Tia langsung melihat dua pria yang duduk di kursi tamu dekat meja Pak Aziz.

Keduanya mengenakan pakaian sipil biasa.

Tidak ada seragam polisi mau pun atribut kepolisian. Namun Tia langsung tahu kalau mereka bukan orang biasa. Postur dan bahasa tubuh keduanya yang kaku dengan rambut dipotong cepak, sudah mendeskripsikan profesi mereka.

Saat Tia masuk, salah satu pria berdiri.

"Selamat pagi, Justitia Rahmadsyah?" tanyanya.

Tia mengangguk. Pria itu mengeluarkan kartu identitas.

"Saya IPTU Ridwan."

Pria di sampingnya ikut berdiri.

"IPDA Gultom."

Pak Aziz yang sejak tadi mendampingi segera mempersilakan Tia duduk.

"Duduk, Tia. Pak polisi ini hanya ingin menanyakan beberapa hal," kata Pak Aziz menenangkan.

Tia menarik kursi lalu duduk.

Meski wajahnya terlihat santai, dalam hati ia sedikit gugup.

Bagaimanapun juga, ini pertama kalinya ia dimintai keterangan oleh polisi.

IPTU Ridwan membuka buku catatannya.

"Jangan takut. Kami tidak mengambil keterangan resmi Anda di sini. Kami hanya ingin memastikan beberapa informasi yang sudah kami dapatkan dari para tersangka."

Tia mengangguk kaku.

"Untuk pemeriksaan resmi sebagai saksi sekaligus korban, nanti kami akan mengirim surat panggilan kepada orang tua Anda."

Tia kembali mengangguk. Ternyata permasalahannya tidak sesederhana itu.

"Bisa kita mulai sekarang, Tia?" Kali ini IPDA Gultom yang bertanya.

"Bisa, Pak," jawab Tia tegas. 

"Baik. Kami akan mencocokkan beberapa informasi terkait kejadian di Club Sky Light dan Hotel Paramount."

IPDA Gultom mulai bertanya satu per satu. Tentang jam berapa ia datang ke klub. Dengan siapa ia datang. Dan apa yang ia lakukan malam itu.

Tia menjawab semuanya apa adanya. Tidak ditambah. Tidak juga dikurangi. Saat sampai pada bagian Airin dan Amira, wajahnya mulai mengeras.

"Mereka meminta saya turun dari dance floor untuk istirahat."

IPDA Gultom mencatat.

"Lalu?"

"Airin dan Amira memberi saya air mineral."

"Kemudian?" Alis IPDA Gulton berjungkit ke atas. 

"Karena haus, saya pun minum. Awal saya minum, saya merasa aneh," ucap Tia sambil mengingat kejadian kemarin.

Kedua polisi itu saling pandang.

"Aneh? Seperti apa rasanya?"

"Pahit." Tia mengernyit mengingatnya. "Seperti ada obatnya. Lalu saya bilang ke mereka kalau rasa airnya aneh."

"Terus?" IPDA Gultom terus mencatat.

"Amira bilang mungkin saya kebanyakan joget."

IPTU Ridwan ikut mencatat di bukunya.

"Kapan Anda mulai kehilangan kesadaran?"

"Beberapa menit setelah saya minum."

Tia terus mengingat-ingat.

"Kepala saya pusing dan pandangan mulai kabur," imbuh Tia lagi.

"Saya ingat ada dua laki-laki yang sebelumnya mengobrol dengan Airin dan Amira."

IPTU Ridwan mengangguk.

"Jason dan Alvin."

"Saya tidak tahu nama mereka," pungkas Tia. "Yang saya ingat walau samar, sepertinya salah satu dari mereka menggendong atau memapah saya keluar dari klub. Itu ingatan terakhir saya."

Ruangan sejenak hening.

Pak Aziz yang mendengar cerita itu terlihat terkejut. Ia tidak menyangka anak didiknya ; Amira dan Airin tega menjebak Tia.

IPDA Gultom mengangguk. "Keterangan Anda ini sama dengan keterangan yang diberikan Jason dan Alvin."

Tia menoleh. "Mereka mengaku?"

Gultom mengangguk.

"Iya. Kami sudah memeriksa keduanya kemarin secara marathon," kata IPTU Ridwan seraya menutup buku catatannya. 

"Airin dan Amira akan segera kami proses didampingi orang tua masing-masing."

Mata Tia langsung menyipit.

Jadi benar. Ia tidak salah menduga. Kedua sahabatnya memang terlibat.

"Nanti akan ada surat panggilan resmi dari kepolisian untuk Anda. Ayah Anda sudah membuat laporan. Jadi kami akan meminta keterangan resmi Anda sebagai saksi sekaligus korban."

Setelah beberapa pertanyaan tambahan, pemeriksaan singkat itu pun selesai. 

IPTU Ridwan berdiri sambil merapikan catatannya.

"Terima kasih atas kerja samanya."

Tia mengangguk.

"Sama-sama, Pak."

IPDA Gultom sempat tersenyum tipis. 

"Lain kali jangan pergi ke tempat yang seharusnya belum boleh Anda kunjungi."

Tia terdiam. 

"Ah, dan satu lagi, jangan terlalu percaya pada orang lain. Kadang sebutan teman itu hanya kedok."

Kalimat itu membuat Tia tersenyum getir.

"Saya sudah mendapatkan pelajaran berharga itu kemarin, Pak Polisi."

Kedua polisi itu kemudian pamit. Pak Aziz mengantar mereka keluar ruangan.

Sementara Tia berjalan kembali menuju kelas.

Dan selama pelajaran, Tia tidak bisa fokus. Ia terus memikirkan apa motif Amira dan Airin menjebaknya. Mengingat mereka bersahabat sudah cukup lama. Sejak awal masuk SMA hingga sekarang. 

Tia masih ingat bagaimana Airin dan Amira berusaha keras mengambil hatinya saat baru berkenalan dulu. Ia memang tidak mudah dekat dengan orang lain. Namun mereka berdua pantang menyerah dan terus mendekatinya selama berbulan-bulan lamanya. Hingga akhirnya ia luluh dan bersedia berteman. Ternyata keduanya adalah musuh dalam selimut. 

Tulisan Tia di buku nyaris robek karena ia menekan pena dengan keras. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu muka dengan dua penghianat itu. 

Karena terlalu banyak pikiran Tia tidak sadar kalau bell istirahat sudah berbunyi. Tia pun bergegas menuju kantin. Ia tidak mempedulikan panggilan Tony maupun Clara dan Desy. Ia tahu mereka pasti penasaran mengapa ada polisi yang mencarinya.

Tia mempercepat langkah. Perutnya keroncongan. Pagi tadi ia tidak sempat sarapan. Selain karena kesiangan bangun, ia juga harus membujuk Rima agar mau mandi, sarapan, dan berangkat sekolah tepat waktu.

Adiknya itu memang jauh lebih menurut padanya daripada kepada Bu Ambar, ART keluarga mereka.

Sesampainya di kantin, Tia langsung duduk di tempat yang biasa ia duduki bersama Airin dan Amira.

"Mbak Dewi, nasi uduk satu. Porsi besar ya. Laper banget ini," kata Tia pada putri pemilik kantin.

"Siap, Non Tia." Mbak Dewi segera meracik pesanan Tia.

Tia baru saja duduk ketika Bu Narti, Ibu Mbak Dewi sekaligus pemilik kantin tiba-tiba menghampiri. Di tangannya ada segelas es teh. Bu Narti memang sudah tahu minuman kesukaannya.

"Akhirnya Ibu ada kesempatan juga mengobrol berdua dengan Nak Tia."

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   88. Pengorbanan.

    Di luar restoran, situasi semakin ramai. Polisi terus memeriksa TKP dan menghalau warga yang beramai-ramai mendekati lokasi. Garis polisi pun dipasang.Seorang perawat mendekati dan mengobati luka-luka goresnya. Tia mengamati para rekannya juga sudah mulai diobati. Beberapa waiter yang mengalami luka lebih berat segera dibawa ke rumah sakit. Yang ringan sementara diobati di tempat. Menunggu ambulans-ambulans lain datang.Tia melirik Riffat yang terus saja menelepon sambil sesekali melihat ke arahnya. Seolah memastikan kalau ia tetap berada di tempat. Sebuah mobil berhenti di depan restoran. Charles turun lebih dulu. Tak lama kemudian Togar menyusul. Keduanya langsung berlari masuk dan membantu proses evakuasi. Sebuah mobil lain berhenti. Pak Khalid turun. Di belakangnya ada Pak Martin dan Alex.Begitu melihat kondisi restoran, Pak Khalid menarik napas panjang.Tatapannya mencari-cari seseorang. Saat menemukan orang yang membuat jantungnya berdebar sepanjang perjalananan, air mukany

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   87. Selamat.

    Tia terbaring di jalanan. Riffat mendekapnya erat di atas aspal yang bergetar. Telinganya berdenging, sementara pandangannya mengabur tertutup tirai asap. Udara mendadak beracun oleh aroma mesiu serta material dapur yang hangus terbakar.Tia menoleh ke samping. Asap tampak memenuhi sebagian jalan dekat restoran. Bau hangus bercampur dengan aroma tajam membuat dadanya terasa sesak."Kamu tidak apa-apa, Tia?"Riffat perlahan bangkit dari atas tubuh Tia.Wajahnya terlihat tegang. Debu menempel di rambut dan pakaiannya. Darah tampak mengalir dari luka di lengan dan sisi bahunya.Namun, hal pertama yang dilakukannya bukan memeriksa lukanya sendiri. Ia malah membungkuk dan memeriksa keadaan Tia."Kamu terluka?" Riffat membantu Tia bangun dan memapahnya ke pinggir jalan tak jauh dari restoran. Untunglah mereka dan para staf sempat keluar.Tia menggeleng."Sepertinya saya tidak apa-apa, Pak. Cuma masih syok saja," jawab Tia linglung."Kamu tunggu di sini," ucap Riffat sambil memandangi keada

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   86. Nyaris!

    Tia bekerja dengan perasaan tidak tenang. Sedari pagi hingga shiftnya akan berakhir sebentar lagi ia belum mendapat kabar dari Riffat, Azzam, maupun Pak Khalid. Padahal setelah kejadian semalam, ia berharap setidaknya salah satu dari mereka menghubunginya.Namun, ponselnya belum memunculkan notifikasi. Kegelisahan itu semakin bertambah ketika ia mendengar kasak-kusuk dari beberapa staf.Ia beberapa kali melihat mereka berkumpul dan berbicara dengan suara pelan. Ia ingin bertanya, tetapi tidak mungkin. Selama bekerja di hotel, ia memang selalu menjaga jarak. Ia datang untuk bekerja, menyelesaikan tugas, lalu pulang. Tidak banyak ikut bergosip atau mencampuri urusan orang lain.Karena itu, ia hanya bisa bersabar menunggu shift sore. Karena hari ini Mbak Lita masuk sore. Biasanya, Mbak Lita lebih cepat mendapatkan informasi dari staf lain.Tia baru saja mengambil beberapa botol minuman yang ditinggalkan tamu ketika telinganya menangkap percakapan Manda dan Silvi."Beneran, Man?""Ya bene

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   85. Luruh.

    Setelah Riffat, Bu Rini dan Alex meninggalkan rumah, Pak Khalid segera mengambil alih situasi."Charles, amankan seluruh area. Jangan ada yang menyentuh apa pun sebelum polisi datang."Charles mengangguk."Baik, Pak.""Togar, hubungi ambulans dan kepolisian."Togar langsung mengeluarkan ponsel."Katakan ada korban penembakan. Kondisinya sudah tidak sadarkan diri.""Bukankah Pak Husein bukan hanya tidak sadarkan diri, tetapi sudah mati?" tanya Togar bingung."Mati tidaknya dia, biar pihak rumah sakit yang memberikan keterangan," tegas Pak Khalid.Togar mengangguk lalu menjauh untuk melakukan panggilan.Pak Khalid kemudian menoleh kepada Pak Martin."Pastikan tidak ada orang yang keluar-masuk ruangan sebelum petugas datang.""Baik."Pak Martin kembali memeriksa keadaan Husein meskipun sebelumnya sudah memastikan pria itu tidak memiliki denyut nadi.Sementara itu, Tia masih berdiri di dekat ruang utama. Matanya sesekali tertuju pada Azzam.Pemuda itu masih berjongkok di samping tubuh aya

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   84. Rekonsiliasi.

    Ruangan mendadak sunyi.Tia berdiri terpaku. Ia memandang tubuh Husein tanpa suara. Tidak ada rasa lega.Tidak ada pula keinginan untuk marah. Yang tersisa hanya kekosongan.Di sisi lain, Azzam mematung.Wajahnya kehilangan warna. Ia menatap tubuh ayahnya beberapa detik sebelum akhirnya berjongkok."Ayah..."Tangannya mengguncang bahu sang ayah."Ayah, bangun!" panggilnya serak.Tidak ada jawaban."Ayah!"Kali ini suara Azzam pecah. Ia memeluk tubuh ayahnya sambil menangis.Tia memalingkan wajah. Bagaimanapun muaknya dirinya pada Pak Husein, tetap saja ia adalah ayah kandung Azzam. Pemandangan ini pasti menyakitkan bagi Azzam."Saya akan menyerahkan diri kepada polisi," ucap Bu Rini tegas.Semua mata beralih kepadanya."Namun sebelumnya saya ingin bicara dengan Pak Khalid dulu." Charles melirik Pak Khalid. Menunggu arahan. Ketika Pak Khalid mengangguk, barulah Charles melepaskan Bu Rini. Pak Khalid lalu membawa Bu Rini ke ruang kerja. Setiba di sana Pak Khalid mempersilakan Bu Rin

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   83. Pengorbanan Seorang Ibu.

    Tia mengamati Pak Martin yang sedang mengobati luka-luka luar di tubuh Bu Rini. Bu Rini terlihat sangat lemah. Pakaiannya kotor dengan beberapa bagian robek. Jilbabnya juga sudah tidak beraturan. "Luka bagian dalam nanti kita tunggu Dokter Sarah saja, ya," ujar Pak Martin sambil memeriksa luka di lengan Bu Rini.Bu Rini mengangguk."Kamu sekarang sudah berhijrah. Mungkin kurang nyaman diperiksa oleh dokter laki-laki. Besok saya akan menghubungi Dokter Sarah pagi-pagi sekali."Bu Rini kembali mengangguk."Dokter Sarah itu putrimu yang dulu pernah liburan di rumah ini, bukan?"Pak Martin tersenyum kecil."Iya. Saya tidak menyangka kalau kamu masih mengingatnya."Bu Rini balas tersenyum tipis."Dulu saya sering bermain dengannya kalau kamu sedang sibuk merawat anak-anak yang terluka."Tia menyimak percakapan itu dalam diam. Dari potongan-potongan pembicaraan tersebut, ia menyadari bahwa Bu Rini dan Pak Martin ternyata sudah saling mengenal sejak lama.Namun, sebelum mereka sempat berbic

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status