LOGINWhen Billionaire Andrew Templeton first saw Miranda Duran, she was gorgeous yet clumsy, and he couldn't help but feel compelled to take her on his bed. They did meet in an absurd scenario, but fate brought them back together when Miranda applied for the role of personal assistant to the CEO of the Templetons Enterprise. They collided again, and a brief fling of sex and pleasure ensued. Andrew was forced to choose between his brothers and pleasure when he discovered a terrible truth about Miranda's birth....She was his pleasure and at his Mercy!
View More"Dari mana kamu, Arya?" tanya Mas Fahmi pada Arya anak kami. Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore dan Fahmi baru pulang dari sekolah. Padahal biasanya jam setengah tiga sudah sampai di rumah. Memang beberapa hari belakangan ini, Arya sering pulang terlambat. Tapi biasanya ia selalu memberitahu kalau ada kegiatan di sekolah.
"Dari rumah teman, Ayah," sahut Arya. Belum sempat Arya melangkah, Mas Fahmi sudah menghardiknya.
"Duduk!" perintah Mas Fahmi dengan suara yang keras. Aku jadi deg-degan mendengarnya. Jangan sampai terjadi keributan antara Mas Fahmi dan Arya.
Akhir-akhir ini, aku lihat hubungan mereka sedang bermasalah. Entah Mas Fahmi yang terlalu posesif atau memang Arya yang sudah mulai bandel. Maklum seusia Arya, kelas sepuluh SMA, masanya mencari jati diri.
Arya duduk di hadapan kami, dengan menundukkan wajahnya. Sepertinya ia enggan menatap kami.
"Arya, kamu itu sudah besar. Bukan saatnya kamu bermain terus. Kamu harus rajin belajar, kurangi keluyuran. Nilai rapormu harus bagus, biar bisa masuk universitas negeri. Kalau seperti ini terus, kamu mau jadi apa?" kata Mas Fahmi.
Arya hanya terdiam, tidak berani berkata apa-apa.
"Ngapain kamu ke rumah temanmu itu? Siapa nama temanmu?" tanya Mas Fahmi lagi.
"Mengerjakan tugas, Yah. Membuat video untuk lomba film pendek," sahut Arya masih dengan menunduk.
"Kalau diajak berbicara, perhatikan! Jangan menunduk, lihat Ayah dan Ibu," seru Mas Fahmi.
Arya langsung mengangkat kepalanya dan melihat aku dan Mas Fahmi secara bergantian.
"Kenapa nggak di sekolah saja?" cecar Mas Fahmi.
"Mau nyari lokasi yang bagus. Dekat rumah Tedi ada sawah. Jadi cocok untuk syuting video."
"Benar? nggak bohong kan?" selidik Mas Fahmi.
"Benar, Yah. Kalau nggak percaya tanya saja sama Tedi."
"Mungkin kamu sudah sekongkol dengan Tedi."
"Ya tanya teman yang lainnya. Tadi ada Dini, Vita, juga Setyo."
"Ada perempuannya juga? Nggak pacaran kan?" selidik Mas Fahmi.
"Enggak, Yah." Arya sepertinya sudah jengkel menjawab pertanyaan Mas Fahmi.
"Ingat ya Arya. Kamu jangan pacaran dulu. Belum saatnya kamu pacaran. Belajar yang benar, kalau sudah sukses terserah sama kamu."
"Iya, Yah."
"Ingat Arya, kamu itu anak pertama. Kamu harapan Ayah dan Ibu dan bisa menjadi contoh untuk adikmu. Ayah tidak mau kamu terjerumus dalam pergaulan yang tidak baik. Paham?" kata Mas Fahmi.
"Paham, Ayah. Sekarang Arya boleh masuk ke kamar?" tanya Arya.
Mas Fahmi menatap Arya dengan tatapan tajam, kemudian Mas Fahmi mengangguk. Aku pun bernafas lega.
"Mas, jangan terlalu keras dengan Arya. Kasihan dia. Jangan dibebani dengan banyak hal," kataku pada Mas Fahmi, ketika Arya sudah masuk ke dalam kamarnya.
"Ibu jangan selalu membela dia. Nanti malah besar kepala. Anak laki-laki itu harus tangguh. Jangan selalu berada di ketiak ibunya. Apa Ibu mau kalau Arya itu lemah? Beda dengan Adiva, dia perempuan. Kita harus ekstra menjaganya, jangan sampai ia salah pergaulan." Mas Fahmi malah menceramahiku.
Drtt...drtt. Hp Mas Fahmi berbunyi. Mas Fahmi segera keluar dari ruangan dan mengangkat hpnya di luar.
Aku segera menuju ke kamar Arya.
"Arya…. Boleh Ibu masuk?" tanyaku sambil mengetuk pintu kamar Arya.
"Masuk saja, Bu," sahut Arya dari dalam kamar.
Aku segera membuka pintu kamar Arya. Kulihat ia sedang rebahan dengan hp ditangan. Buku-buku berserakan di meja belajarnya.
"Lain kali kali pulang telat, kabari Ibu ya? Biar Ibu dan Ayah tidak bingung mencarimu," ucapku pada Arya.
"Iya, Bu." Arya menjawab sambil bangkit dari rebahan. Ia pun duduk di sebelahku.
"Kamu ada masalah apa dengan Ayah? Ibu lihat akhir-akhir ini, sepertinya kamu sengaja menghindar dari Ayah. Kamu marah dengan Ayah?" tanyaku lagi.
Kutatap wajah Arya, sepertinya ada keraguan atau semacam rasa ragu-ragu.
"Ada apa? Bilang saja sama Ibu," ucapku lagi.
"Nggak apa-apa kok Bu. Nanti kalau Arya sudah siap lahir batin, pasti Arya akan bercerita."
Aku semakin penasaran dengan kata-kata Arya. Tapi kalau memaksanya untuk banyak berbicara, takutnya malah menjadi bumerang bagiku.
"Ya, sudah. Kalau ada masalah apa-apa, bicara dengan Ibu ya? Ibu akan selalu ada untukmu. Ayo bereskan buku-buku yang berserakan itu. Habis itu langsung mandi, sudah sore."
Arya mengangguk. Aku segera keluar dari kamar Arya. Kulihat Mas Fahmi masih menerima telepon, entah dari siapa. Aku menjadi kepo, masa sih dari tadi menelpon belum selesai juga. Akhirnya aku menguping pembicaraan mas Fahmi.
"Iya, besok ya. Jangan sekarang, ada Hanum di rumah. Kalau aku pergi sekarang, apa alasanku pada Hanum?" kata Mas Fahmi.
".........."
"Oke, bye Sayang," sahut Mas Fahmi.
Sayang? Kok panggil sayang? Siapa yang dipanggil sayang? Aku sangat penasaran. Mas Fahmi menutup telpon dan akan masuk ke ruangan.
"Lama banget nelponnya? Memangnya siapa yang nelpon?" tanyaku pada Mas Fahmi.
"Pak Yanuar," sahut Mas Fahmi.
"Bener?" tanyaku lagi.
"Iya, kok curiga gitu sih."
"Masa sama Pak Yanuar manggil sayang?" ucapku lagi.
Wajah Mas Fahmi langsung pucat. Ia kelihatan gugup.
"Sudah, jangan gugup gitu. Pikirkan dulu jawaban yang tepat untukku. Mengarang indah juga boleh," kataku sambil tersenyum. Aku kemudian berjalan menuju ke dapur, hatiku mulai kesal. Ada apa dengan Mas Fahmi? Sepertinya ada yang disembunyikan. Aku mengambil air putih dan segera meminumnya, hatiku terasa berdetak sangat kencang. Menahan emosi.
***
Aku terbangun dari tidurku. Kulihat mas Fahmi tidak ada disampingku. Aku segera bangun dari tempat tidur dan mencari Mas Fahmi. Ketika melewati kamar Arya, pintu agak terbuka.
"Arya, yang kamu lihat itu tidak seperti yang ada dipikiranmu. Jangan menyimpulkan sendiri." Terdengar suara Mas Fahmi berbicara dengan Arya.
Ada apa ya? Aku penasaran sekali, akhirnya aku mendengarkan.
"Nggak usah ikut campur masalah orang tua. Tugas kamu hanya belajar. Kalau sampai ibumu tahu, kamu akan merasakan akibatnya, paham?" ancam Mas Fahmi.
"Iya, Ayah," sahut Arya dengan suara seperti ketakutan.
"Anggap saja kamu tidak pernah melihat kejadian itu. Sekali lagi, kalau sampai terbongkar, Ayah tidak akan segan-segan mengusirmu dari rumah ini."
Aku kaget setengah mati mendengar ucapan Mas Fahmi. Aku segera masuk ke kamar lagi. Takut ketahuan Mas Fahmi. Kubaringkan tubuhku di tempat tidur lagi. Mencoba memejamkan mata. Mata terpejam tapi pikiran kemana-mana. Masih memikirkan ucapan Mas Fahmi tadi. Berarti Arya melihat sesuatu yang membuat ayahnya marah. Tapi apa ya? Atau mungkin Arya melihat Mas Fahmi sedang bersama dengan perempuan? Seperti cerita-cerita di sinetron. Kok aku jadi paranoid sendiri ya? Mungkin terlalu banyak membaca cerita novel online.
Kudengar langkah kaki masuk ke kamar. Pasti itu Mas Fahmi. Hatiku berdebar-debar, kau mencoba untuk bernafas dengan rileks. Mas Fahmi keluar lagi dari kamar, entah apa yang akan dikerjakannya.
Aku mengikuti Mas Fahmi dengan langkah yang pelan. Di ruang keluarga dan ruang tamu tidak ada. Kamar Arya pun pintunya sudah tertutup rapat. Sayup-sayup aku dengar suara Mas Fahmi berbicara dengan pelan. Ternyata Mas Fahmi ada di dapur sedang menelepon.
"Sudah Mas ancam Arya, pasti ia tidak akan cerita dengan Hanum," kata Mas Fahmi.
".........."
"Iya, tenang saja. Hanum itu orangnya bodoh dan lugu. Ia terlalu bucin denganku. Jadi dia nggak akan percaya walaupun nanti Arya buka suara."
"........."
"Tenang, Sayang? Apa pun akan Mas lakukan untukmu."
".........."
"Oke, besok pagi aku jemput."
"........"
"Iya sayang."
Aku sudah tidak sanggup mendengarkan Mas Fahmi berbicara. Segera aku masuk ke kamar. Kurebahkan tubuhku, air mata langsung menetes. Teganya kamu Mas, ngomong kalau aku ini bodoh dan lugu. Memang aku terlalu bucin padamu, tapi aku tetap percaya anakku. Apapun yang akan Arya katakan padaku, terutama berhubungan denganmu, aku akan percaya.
Aku harus melakukan pendekatan pada Arya. Supaya ia mau membuka suara. Aku yakin kalau Arya pasti mengetahui suatu rahasia tentang ayahnya. Mungkin Mas Fahmi sudah mulai main hati, dan Arya mengetahuinya. Makanya Mas Fahmi mengancam Arya.
Aku tidak bisa tidur. Memikirkan masalah yang mungkin akan terjadi. Aku harus berbicara dengan siapa? Berbicara dengan Mbak Hani, sepertinya tidak mungkin. Karena ia juga sedang memiliki masalah dalam rumah tangganya. Pada Bapak dan Ibu juga tidak mungkin. Aku tidak mau membebani mereka dengan masalahku. Mereka tentu juga banyak pikiran, memikirkan masalah Mbak Hani.
Mbak Hani, kakak perempuanku dalam proses cerai. Aku tidak tahu permasalahan sesungguhnya. Kalau menurut ceritanya, suaminya selingkuh dan sering melakukan KDRT. Tapi kami baru mendengar dari salah satu pihak saja, belum mendengar dari pihak suaminya. Ia pulang ke rumah orang tuaku. Nadya, anak tunggalnya masih tinggal bersama Mas Kevin suaminya. Nadya seumuran dengan Arya.
Ah aku pusing memikirkan ini semua. Semoga ada titik terang dari semua ini. Dan berharap ini hanya ketakutan yang berlebihan saja. Jangan sampai kisah hidupku seperti Mbak Hani yang rumah tangganya berada di ujung tanduk.
Terdengar azan subuh berkumandang. Kulihat Mas Fahmi ada di sampingku. Aku tidak tahu kapan ia masuk kamar. Berarti tadi aku sempat terlelap. Kulihat wajah Mas Fahmi. Laki-laki yang sudah hidup bersamaku selama hampir tujuh belas tahun. Laki-laki yang tega mengatakan aku bodoh dan bucin pada seseorang di telepon.
Aku bangun dari tempat tidur, kepalaku sangat pusing. Semua terlihat berputar.
"Mas...Mas...." Aku membangunkan Mas Fahmi. Ia langsung terbangun, dan tiba-tiba pandanganku gelap.
Just after terminating one of Andrew's enemies, Damien made his way to a club nearby to settle his scores. Getting inside after passing by the club bouncers at the door, he walked in with his guards and he was welcomed by the sound of very loud music, sweaty people were almost everywhere grinding their bodies together. Everyone around looked almost wasted, only few weren't and most of them were business men and Mafias who came to the club to have a good time and to get some sluts on their bed for tonight. This club was known for its violence. Every man gets to bid on a woman and the highest bidder gets to punish her thoroughly, by using different kinds of whips, libidos, neck collars and so on, on them. Almost everywhere looked crowded and only a few got to notice the arrival of the boss. He casually walked to the bar, as he raised his left hand to dismiss his guards, he could handle himself, especially now that he was in his club. Of course, he was the owner of this club and who wou
Three years later...Sitting upon a chair, a woman winced as she felt her hair being tugged in different directions. There were enough makeup supplies that could last a lifetime.Stylists scrambled around in the room, all of whom were rushing to get the beautiful woman in the white dress and ready.Miranda waited anxiously, she was so excited that she was going to make her vows to the man she loved. A lot of things had happened after the death of Victor, Damien made sure his body was burnt before disposing of the ashes while Andrew was seriously injured and had to stay in the hospital for proper care for two months. Life has been tough but as long as they have each other no one can break them apart, not even Amelia.
Nathan hid behind one of the garage's cars, hoping that Amelia wouldn't notice him. She walked rapidly towards her car, opened the door, started the engine, and drove backwards out of the garage, looking terrified.Nathan waited until her car was out of sight before opening the driver's door and getting into his car, ready to pursue Amelia. He prayed their strategy would work and Amelia wouldn't notice he was following her.Amelia, unbeknownst to him, has her own intentions.***Miranda was lying on her bed, unable to sleep. Her eyes were heavy, but no matter how hard she tried, sleep eluded her. She grew ignorant of her surroundings after a few minutes of staring blankly at the ceiling, so engrossed in her thoughts
Amelia sat in the room as she didn't know where Andrew could have gone early in the morning. Could it be he had known that she wasn't the real Miranda? It couldn't be, even if he was to know but not now, not today that they were about to get married. She needs to play her cards right so he wouldn't suspect or get any trace that she wasn't Miranda. Anyway, she should get ready for their wedding.She stood up from the bed, walking towards her wardrobe to pick up the dress she was going to wear.Finally, after waiting for years, Andrew was going to be hers.***Miranda woke up and found herself lying on a bed. She was inside a room, which was painted in all white and had only one door. Where was thi






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore