Witch Among Wolves - The Alpha's Enemy Bride

Witch Among Wolves - The Alpha's Enemy Bride

last updateLast Updated : 2025-09-15
By:  LJ BlackOngoing
Language: English
goodnovel18goodnovel
10
2 ratings. 2 reviews
72Chapters
1.2Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

When Thalia wakes reborn in the heart of Silverpine—a secluded werewolf pack—she remembers only fragments: the terror of her escape, the fire she unleashed, the coven sisters she left behind. Haunted by guilt and desperate to hide her witch’s power, Thalia is forced to play the role of the Alpha’s fated mate to protect herself and the pack from enemies within and without. Silverpine is a fortress of secrets, suspicion, and pack law. The council circles, hungry for weakness. Livia, the Alpha’s rival, wants Thalia gone. Only a handful know the truth of Thalia’s magic—and if word spreads, it will mean death for her and danger for the wolves she’s learning to care for. As she navigates brutal trials and dangerous alliances, Thalia is drawn to Rowan, the troubled Alpha who carries scars—physical and emotional—from battles with witches long past. Their fake engagement ignites a bond that neither can ignore, but trust is as dangerous as betrayal. When Rowan’s need for a mate clashes with Thalia’s instinct for survival, both are forced to confront the wounds of their pasts. Haunted by memories of her old coven—of Mira, the friend she left to burn—Thalia must decide: keep hiding, or reclaim the full force of her power. But the magic that saved her may destroy everything she’s come to love. As rival packs close in and the council demands blood, Thalia must choose between saving Silverpine and saving herself. In the ashes of her past, can she forge a new future—or will old betrayals rise to consume them all? A witch among wolves. A lie that can’t last. And a power that refuses to stay buried.

View More

Chapter 1

Chapter 1: Waking in the Wolf’s Den

Raka Pratama menandatangani kontrak itu karena ia terlalu miskin untuk memikirkan risikonya.

Di seberang meja kayu jati yang mengkilap, seorang pengacara tua berjas abu-abu menyodorkan pena bertinta hitam. "Dua puluh juta per bulan," suara pria itu serak, khas perokok berat. "Tempat tinggal disediakan. Makan ditanggung penuh. Tugasmu sederhana: kelola rumah, pastikan logistik harian beres, dan jaga keamanan para penghuni."

Dua puluh juta.

Bagi Raka, angka itu bukan sekadar gaji. Itu adalah batas mutlak antara hidup dan mati. Semalam ia masih harus menahan napas setiap kali mendengar deru motor berhenti di depan kos-kosannya yang kumuh. Ayahnya, Pramudya, mewariskan nama baik yang tidak bisa dimakan, ditambah utang puluhan juta yang bunganya terus mencekik leher Raka tanpa ampun.

"Kenapa saya?" tanya Raka, menahan ujung pena di atas kertas putih. "Saya hanya pernah jadi penjaga gudang logistik paruh waktu. Pekerjaan seperti ini biasanya butuh rekomendasi."

Pengacara itu menatapnya dengan kalkulasi dingin, seolah menelanjangi silsilah Raka. "Karena namamu ada di daftar."

"Daftar apa?"

"Daftar orang yang tak punya tempat untuk lari." Pengacara itu mengetuk meja pelan. "Nama rumahnya Rumah Nawasena. Mulai malam ini, kau bekerja untuk mereka."

Nawasena.

Mendengar nama itu, ada sesuatu yang berdesir di dada Raka. Bukan rasa sakit, melainkan sebuah denyutan asing. Seperti sensasi saat kau berdiri terlalu dekat dengan pinggiran tebing.

"Kontrak berlaku malam ini," sela pengacara itu. "Kalau kau menolak, besok pagi penagih utang ayahmu akan mematahkan kedua lututmu."

Tanpa membuang waktu lagi, Raka menekan pena dan menggoreskan namanya. Raka Pratama.

Untuk sepersekian detik, Raka melihat kilat ejekan di mata pengacara itu saat membaca nama 'Pratama'. Namun map itu langsung ditutup dengan bunyi ketukan yang final.

"Mobil di bawah. Rumah itu tidak boleh kosong tanpa pengelola lewat dari pukul sembilan malam."

"Saya belum ambil baju—"

"Semua kebutuhanmu ada di sana. Pergi sekarang."

Hujan turun seperti derai peluru yang menghantam aspal. Mobil SUV hitam yang membawa Raka melaju membelah kota. Kacanya terlalu gelap, dan sopirnya membisu seperti orang mati.

Raka menghabiskan sisa perjalanan dengan membaca salinan kontrak di bawah cahaya lampu jalan yang berkelebat. Di halaman ketiga, keningnya berkerut. Ini bukan kontrak kerja, melainkan protokol penjara.

Pasal 4: Dilarang keras membuka kamar penghuni. Pasal 5: Dilarang mengizinkan tamu luar masuk. Pasal 6: Dilarang meninggalkan area rumah di atas pukul sebelas malam.

Mobil berhenti mendadak.

"Turun." Sopir itu akhirnya bersuara. Ia menyerahkan kunci kuningan tebal dan ponsel hitam. "Kontak darurat ada di panggilan cepat. Jangan telepon polisi."

"Siapa sebenarnya yang tinggal di dalam?" tanya Raka.

Sopir melirik dari kaca spion. "Orang-orang yang mencoba tetap hidup."

Gerbang besi berkarat di depan mereka bergeser terbuka. Raka terpaksa turun ke tengah badai. SUV hitam itu langsung mundur dan melaju pergi, meninggalkannya sendirian.

Raka menatap Rumah Nawasena. Bangunan kolonial dua lantai itu berdiri angkuh di tengah tanah lapang. Cat putihnya kusam. Jendelanya tertutup rapat. Ini bukan rumah elit, ini benteng yang ditinggalkan.

Pintu utama tidak terkunci. Raka mendorongnya masuk. Aroma debu, kayu lapuk, dan wangi melati yang terlalu tajam menyengat hidungnya. Ruang depan remang-remang, didominasi tangga besar melingkar menuju lantai dua. Di atas meja konsol, ada papan kuningan:

ATURAN RUMAH NAWASENA:

1. Abaikan suara apa pun dari ruang bawah tanah. Kau tak punya yurisdiksi di sana.

2. Rumah ini melindungimu selama kau mematuhi aturan.

Napas Raka tertahan. "Ruang bawah tanah?"

Prang!

Suara kaca pecah dari lantai dua memecah kesunyian, disusul bantingan keras benda tumpul. Raka mendongak. Sedetik kemudian, bayangan manusia terlempar melewati pagar balkon dan mendarat menghantam meja kayu di dekat Raka hingga hancur.

Itu seorang wanita. Napasnya terengah-engah, batuk mengeluarkan darah. Jaket kulitnya sobek di bahu. Begitu menyadari ada Raka, wanita itu langsung melenting bangun. Sebuah pisau lipat taktis telah terbuka di tangannya. Matanya menatap Raka seperti serigala buas.

"Kau bajingan dari kubu mana?!" bentaknya.

Raka mengangkat tangan. "Aku bukan siapa-siapa! Pengelola baru. Raka."

Wanita itu meludah ke lantai. "Bohong. Pengelola rumah ini tidak pernah laki-laki."

Kaca jendela ruang tamu mendadak hancur berantakan. Pria berserba hitam menerobos masuk menembus tirai, membawa pipa besi pejal.

"Menunduk!" teriak wanita itu, mendorong Raka hingga jatuh tengkurap.

Pipa besi menghantam udara kosong. Wanita itu menangkis ayunan berikutnya dengan lengan bawahnya, memutar tubuh, dan menusukkan bilah pisau tepat ke paha penyusup. Pria itu meraung, mencoba mencekik leher sang wanita, tapi hantaman keras lutut ke rahang langsung membuatnya terkapar tak sadarkan diri di atas marmer dingin.

Hening kembali menyergap. Wanita itu terengah-engah. Darah menetes dari pelipisnya. Ia menoleh menatap Raka, sorot curiganya perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap. Ketakutan murni.

"Sialan," bisik wanita itu. "Kau bukan pengelola biasa. Mereka benar-benar menemukanmu."

"Apa maksudmu?" Raka merogoh sakunya, mengeluarkan salinan kontrak yang basah.

Di bawah lampu darurat yang tiba-tiba menyala, mata Raka akhirnya menangkap satu pasal terakhir di bagian bawah dokumen, yang sengaja dicetak dengan font sangat kecil:

Pasal 10: Sumpah Pengelola. Setelah darah pengelola melewati ambang pintu Nawasena, ia tidak dapat mengundurkan diri, pergi, atau membatalkan perjanjian sampai ajal menjemput.

Gerbang besi raksasa di luar sana membanting tertutup dengan suara memekakkan telinga. Mengunci mereka dari dunia luar.

Dan dari bawah lantai kayu tempat Raka berpijak, tepat dari arah ruang bawah tanah yang dilarang... terdengar suara ketukan.

Satu kali. Dua kali. Tiga kali.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

reviews

Anna
Anna
The book is interesting ............
2025-09-14 02:48:47
0
0
Anna
Anna
Tyuijnnkkkkk
2025-09-14 02:47:30
0
0
72 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status