Share

03. Jodoh di Tangan Mami (1)

Semasa kecilnya, saat itu Juda masih kelas tiga SD ketika harus menjalani operasi usus buntu, yang membuatnya harus drawat inap di sebuah rumah sakit selama hampir satu minggu. Meski masa-masa itu tidak menyenangkan karena rasa sakit yang membuatnya kerap menangis, ada yang Juda syukuri. Dokter yang merawatnya sangatlah ramah dan baik. Dokter itu menjadi sosok pria favorit kedua setelah ayahnya.

Sejak saat itu, Juda bercita-cita menjadi seorang dokter anak, mengikuti jejak dokternya yang bagi Juda telah menciptakan keajaiban untuknya. Juda menyebutnya keajaiban karena karena dengan kemampuannya itu, bekas operasi di perut Juda berangsur-angsur hilang hingga tak terlihat seperti pernah melakukan operasi.

Mimpi itu bertahan hingga Juda naik kelas dua SMA. Beberapa teman yang mendengar cita-cita mulianya itu mencibir dan mengoloknya, bahwa seorang Juda yang tidak akan pernah bisa menjadi dokter jika tidak pernah mau belajar bagaimana cara menghadapi orang dengan baik. Bukan malah bersikap judes dan galak, yang membuat orang-orang segan dekat dengannya.

Yang paling menyakitkan adalah saat teman yang ia kira cukup dekat dengannya, dengan tega melontarkan, “Lo belajar attitude dulu yang bener. Bisa-bisa pasien lo trauma semua kalau mereka dapet dokter setan kayak lo.”

Di hari itu, Juda langsung memutus pertemanan dengan entah siapa namanya. Juda enggan mengingat nama mantan teman yang telah melubangi hatinya dengan kata-kata menyakitkan itu.

Di lain waktu, kala itu saat sedang pelajaran olahraga, Juda tak sengaja menghantam kepala temannya menggunakan bola basket karena tahu-tahu muncul di tengah lapangan saat Juda melemparkan bola untuk temannya yang lain. Temannya itu tidak terluka dan bahkan tidak menyalahkan Juda, tetapi seseorang langsung menyeletuk dengan sinis seolah ia yang baru saja dihantam bola.

Begini katanya, “Orang barbar kayak lo nggak cocok jadi dokter anak, tapi cocoknya jadi sipir penjara, Ju. Kriminal-kriminal di sana pasti langsung tunduk sama kebrutalan lo.”

Suara lain−milik seorang laki-laki−ikut berkomentar dengan nada yang sarat penuh ejekan, “Dasar calon penganut KDRT. Eh, tapi nggak mungkin juga ada cowok mau sama cewek barbar.

Tidak sekali dua kali Juda mendapat cemoohan jahat serupa di saat dirinya bahkan hanya sedang bercanda dengan salah seorang teman−yang tidak bermuka dua dan mau berteman dengan siapa saja. Di depan teman-temannya, Juda akan membalas dengan kalimat yang lebih menyakitkan, bahkan terkadang mempermalukan mereka dua kali lipat lebih kejam dari ucapan mereka, tetapi setelah sampai di rumah, Juda akan menangis tersedu-sedu selama berjam-jam di kamarnya.

Juda terkadang bingung dengan dirinya sendiri. Tidak ada yang salah dengan cara orang tuanya mendidik dirinya dan kedua kakak laki-lakinya. Namun, kenapa hanya dirinya yang seolah gagal menyerap didikan orang tuanya? Kenapa hanya dirinya yang susah bergaul? Kenapa ia tidak bisa seramah orang tua dan kakak-kakaknya?

Juda benar-benar sudah berusaha untuk menjalin pertemanan, tetapi usahanya malah menjadi bumerang. Bukannya diterima dengan baik, ia malah dianggap cari muka. Bahkan ada yang menuduhnya ingin menjadikan mereka anak buah yang bisa diperbudak dengan ucapan-ucapan sinis yang sering terlontar dari bibirnya.

Saat mengadukan hal itu di hadapan Papi, Papi berkata, “Kata siapa anak Papi jahat? Kalau anak Papi yang paling cantik ini jahat, dia nggak akan nangis di kamar sendirian. Dia pasti sudah akan mendatangi mereka, membalas perlakuan mereka yang sampai menyakiti hati anak Papi.”

“Tapi Juju memang balas mereka, Pi. Juju bikin mereka nangis karena ucapan Juju yang jahat.” Juda meringkuk di atas tempat tidur, memunggungi Papi yang duduk di tepi tempat tidurnya. “Juju mau punya teman dekat juga, Pi. Tapi kata mereka semua Juju jahat. Juju nggak berhak punya teman dekat. Mereka yang Juju deketin, pada akhirnya cuma mau . Nggak ada yang mau temenan sama Juju. Di mata mereka Juju selalu salah, padahal Juju udah berusaha sebaik mungkin.”

Papi mengelus rambut panjang anak gadisnya.

“Kalau anak Papi udah berusaha, dan mereka nggak melihat usaha kamu, berarti mereka memang bukan teman yang tepat. Seorang teman yang benar-benar tulus, dia akan menerima kamu apa adanya. Mengingatkan saat kamu salah, bukan malah mengatai dan mengolok-olok.”

Juda menghapus air mata. Masih tidak mau berbalik menatap ayahnya yang terus bicara untuk menenangkannya.

“Ini semua salah Mami sama Papi. Kalau aku nggak dikasih nama Juda, aku nggak akan judes sama orang-orang. Kalau aja Papi sama Mami kasih aka nama Rahma atau apa pun selain Juda, aku pasti bisa lebih ramah. Kenapa sih Papi kasih aku nama jelek ini?”

Kala itu, Papi tertawa terbahak-bahak. Rajukan Juda dianggapnya begitu lucu hingga membuat Juda menangis lagi sampai-sampai membuat Mami dan kakak-kakaknya berbondong-bondong menyusul masuk ke kamar, untuk melihat apa yang terjadi dan kemudian mengomeli Papi setelah mendengar rajukan Juda.

Dan di hari itu juga, Juda langsung mencetuskan keinginannya untuk pindah sekolah. Kalau tidak mendapat restu pindah, Juda mengancam tidak akan mau pergi ke sekolah lagi.

Awalnya, Mami menentang karena menurut wanita itu, pindah sekolah hanya karena tidak akur dengan teman terasa terlalu berlebihan. Namun, setelah berdiskusi cukup alot−diselingi dengan tangis drama Juda setiap kali tidak tercapai keputusan yang diinginkannya, Juda pun akhirnya pindah sekolah tepat saat memasuki semester dua kelas dua SMA.

Di sekolah baru, Juda memegang apa yang telah dikatakan Papi. Ia menjadi dirinya sendiri saat ia berkenalan dengan teman-teman barunya. Dalam tiga bulan, Juda mempunyai dua teman dekat. Teman yang menerima dirinya apa adanya, yang tidak menyakiti hatinya meski ia seringkali berkata dengan nada pedas. Dan keinginan untuk menjadi dokter anak pun gugur seiring berjalannya waktu−terutama karena masih sakit hati akibat olokan teman-temannya di sekolah lama.

Mempunyai teman baru yang bisa dibilang memiliki sifat yang hampir mirip, membuat Juda tidak lagi merasa rendah diri. Ia memang tidak lantas bangga dengan sifat galak dan judesnya yang sulit ia hilangkan, tetapi setidaknya hal itu tidak menghambatnya dalam bergaul. Memang bukan pergaulan yang luas, namun ia tidak lagi merasa tersisihkan. Ia mendapatkan masa-masa indah bersama teman-temannya yang tidak bermuka dua. Juda juga bisa merasakan manisnya memiliki gebetan dan berpacaran dengan kakak kelas.

Masa-masa itu berlalu dalam sekejap mata. Hingga ia mengenal patah hati. Dipatahkan hingga remuk oleh laki-laki yang ia kira tidak akan pernah tega menyakiti, bahkan untuk sekadar membunuh nyamuk. Namun, nyatanya laki-laki itu tega berkhianat dengan begitu kejam hingga Juda merasa bahwa ia sudah tak punya kepingan hati yang tersisa untuk laki-laki lain. Mengakhiri masa-masa indah di SMA-nya dengan mimpi buruk yang kemudian menjadi momok dalam hidupnya selama bertahun-tahun.

Hingga umurnya kini menginjak 28 tahun, Juda belum bisa benar-benar membuka hati. Setiap kali ada yang mendekatinya, Juda selalu terbayang akan rasa sakit yang menghantuinya karena terlalu percaya terhadap laki-laki sehingga ia mau tak mau memasang banteng yang cukup kuat agar tidak mudah luluh dan terperangkap dalam tipu daya. Yang pada akhirnya menjadi bumerang untuk dirinya sendiri karena hampir semua laki-laki yang awalnya tulus mendekatinya mulai lelah, dan menganggap Juda hanya main-main dan kemudian ditinggalkan.

Siklus itu terus terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Awalnya, Juda menganggap itu hal biasa. Bahwa mereka memang tidak tepat untuknya, karena tidak mau berjuang lebih keras untuk mendapatkan hatinya.

Hingga beberapa minggu terakhir ini, Juda mulai kelabakan saat terus-terusan ditodong Mami agar segera menikah. Menyusul kedua kakak laki-lakinya yang masing-masing sudah menikah dan mempunyai anak. Atau setidaknya mengenalkan pasangan yang akan dinikahinya.

“Ju, besok Sabtu pulang ke rumah, kan?” tanya Mami lewat sambungan telepon.

Juda mendengus malas.

Ini masih hari Senin. Baru tadi malam ia kembali ke indekosnya−yang berada di dekat tempat kerjanya−setelah menginap di rumah orang tuanya yang berada di Bogor selama akhir pekan.

“Kenapa, Mi?”

“Mami butuh teman belanja.”

Juda mengernyit hingga timbul lekukan dalam di keningnya.

“Kok nggak minta antar Papi? Papi emangnya ke mana? Jangan bilang Papi mau camping sama teman-temannya lagi?” berondong Juda dengan pertanyaan.

“Mami belum tanya papi kamu, sih. Soalnya Mami emang niat ngajak kamu. Males ngajak Papi. Kamu kan tahu sendiri papi kamu rempong banget.”

Juda ingin menjawab kalau Mami-lah yang paling rempong, tetapi Juda tidak mengatakannya, karena sudah pasti akan langsung diomeli dari A sampai Z.

Akhirnya Juda menyahut, “Ini masih ada hubungannya dengan teman arisan Mami yang nggak jadi datang kemarin? Mami suruh main ke rumah lagi sama anaknya?”

“Bukan teman arisan yang kemarin aja, sih. Tapi emang arisannya minggu ini di rumah kita. Nah, Mami butuh kamu buat bantu-bantu ngelap piring.”

Juda mencibir. Tentu saja Mami tidak akan melibatkan Juda perihal masak-memasak.

“Aku nggak janji, Mi. Aku belum tahu ada acara apa enggak.”

“Hari Sabtu kan libur, Ju,” protes Mami.

“Libur bukan berarti aku nggak punya kegiatan, Mi. Katanya Mami pengen anak gadisnya buru-buru kawin. Nah ini aku lagi usahain.”

“JUJU! Mami nggak minta kamu kawin! Mami mau kamu nikah dulu sebelum kawin!” erang Mami penuh drama. “Astaghfirullah, Mami kayaknya darah tingginya kumat. Punya anak gadis satu bikin stress minta ampun.”

Semakin berumur, bukannya menjadi kalem, Mami malah semakin banyak drama. Terutama jika menyangkut Juda dan kelakuannya yang bikin sakit kepala.

“Mi, sambung nanti lagi, ya. Aku lagi kerja, nggak enak sama yang lain kalau malah teleponan sama Mami dan nggak kerja.”

Mami tidak terlalu mengindahkan ucapan Juda dan malah berkata, “Pokoknya usahain buat pulang ke rumah. Ada anak temen Mami yang Mami jamin cocok sama kamu.”

“Sakha yang duda itu?”

“Bukan. Semalam Mami ngobrol sama temen Mami kalau Sakha katanya nggak mau kasih harapan terlalu banyak dengan rencana perkenalan kalian. Ternyata belum move on dari mantan istrinya. Untung belum jadi ke sini. Makanya, Mami bilang kalau lebih baik dibatalkan aja demi kebaikan masing-masing,” ucap Mami dengan agak nyinyir.

“Oh, Mami udah ngobrol sama teman Mami yang lain, anaknya baru pulang dari Kanada. Namanya Hamish−tapi bukan Hamish Daud suaminya Raisa loh ya. Dia cari istri yang mau diajak tinggal di sana. Kamu mau kan kenalan sama dia?”

Padahal belum ada sehari Juda merasa lega karena tidak perlu bertemu dengan si duda Sakha, dan hari ini ia sudah harus menghadapi acara jodoh menjodohkan yang sangat disukai Mami. Mau menolak pun percuma. Mami akan terus mengejar-ngejar dirinya hingga Juda tidak punya pilihan selain menurut.

“Emangnya Mami nggak capek jodoh-jodohin aku terus sama anak temen Mami?” Juda mendesah. “Mami pernah ngitung nggak udah seberapa banyak anak temen Mami yang gagal Mami jodohin sama aku?”

“Mami juga sebenarnya malu sama teman-teman Mami. Punya anak gadis satu kok seret amat jodohnya. Tapi ya mau gimana lagi, selama kamu masih jomlo, Mami juga bakal sekuat tenaga menahan malu. Asal anak Mami bisa menikah.”

Juda menggeram kesal. Mami memang sangat sulit dilawan.

“Mi, nanti juga pada akhirnya aku bakal nikah kok.”

“Ya itu Mami juga tahu. Tapi kalau melihat usaha kamu, Mami nggak yakin kamu bisa dapat pasangan tanpa bantuan Mami.”

“Aku udah berapa kali bilang kalau aku bisa cari pasangan sendiri, Mamiku Sayan. Aku cuma butuh waktu aja. Cari suami yang cocok kan nggak segampang cari sepatu,” ujar Juda dengan gemas.

Kalau saja tidak dosa, Juda sudah akan memutus paksa sambungan teleponnya dengan Mami agar tidak lagi mendengar kecerewetan ibunya itu.

“Kamu emang bisanya banyak alasan. Itu juga jadi salah satu faktor yang bikin kamu susah dapat jodoh.”

“Jodoh nggak ke mana kalau kata pepatah.”

“Jodohmu memang nggak akan ke mana-mana. Tapi kalau nggak dicari dan dijemput, nggak mungkin tiba-tiba muncul di hadapan kamu.”

Juda menyerah mendebat Mami. Ia akan selalu kalah karena Mami selalu punya jawaban untuk setiap kata yang ia ucapkan.

“Iya-iya. Terserah Mami aja, deh. Pusing aku debat sama Mami mulu.”

“Mami juga pusing mikirin anak gadis Mami,” gerutu Mami.

“Kalau Mami mau aku pulang hari Sabtu besok, jangan bikin aku kesel, Mi, please.”

“Ya udah, selamat bekerja lagi, anak gadis Mami yang paling jomlo se-Jakarta.”

Juda tidak sempat membalas ejekan Mami karena sambungan sudah diputus lebih dulu. Juda meremas ponselnya dengan gemas untuk melampiaskan rasa frustrasinya.

Dan tampaknya, sejak ia berbincang di telepon, salah seorang seniornya di tempat kerja menyimak obrolannya dengan Mami, karena tiba-tiba berkata, “Lo mau gue kenalin sama temennya suami gue nggak, Ju? Siapa tahu cocok.”

Juda tersenyum dengan agak dipaksakan.

“Nanti deh, Mbak, kalau sama anak temen nyokap gue nggak cocok.”

Seniornya yang sudah menikah lebih dari sepuluh tahun itu tersenyum geli.

“Gue pernah ada di posisi lo, Ju. Tapi ntar juga lewat kok.”

“Ini udah cowok entah keberapa yang nyokap gue sodorin ke gue, Mbak.”

Seniornya tertawa. “Kalau belum jodoh yam au gimana lagi. Nanti bakal ada saatnya ketemu yang tepat.”

“Nah, masalah itu kapan?” erang Juda putus asa, yang sekali lagi ditertawakan oleh seniornya.

.

.

to be continued

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status