Mag-log inRenací. Volví a los 18 años, justo antes del examen de admisión a la universidad. Era el año en el que Diego Alonso más me amaba, y también el último. Porque ya había conocido a su verdadero amor, Valeria Reyes, la mujer por la que se enamoraría de verdad. Por ella, fue capaz de todo, al punto de que me pidió ser su novia, solo para distraerme de mis estudios. Así que en lugar de la universidad de élite en la que hubiera podido entrar, terminé en una simplemente ordinaria. Hasta fingió un accidente para retenerme y que me perdiera el concurso; todo para que Valeria ganara esa medalla de oro. En otra ocasión, cuando Valeria perdió mucha sangre, él me manipuló para que donara una cantidad excesiva. Esto arruinó mi salud para siempre, dejándome con dificultades para quedar embarazada. Al final, Diego se vio forzado a casarse conmigo, pero pasaba los días sumido en la depresión, obsesionado con las fotos de su amor. El día que supo que Valeria se casaba, me abandonó sin piedad y se quitó la vida por amor. En esta vida, por fin estoy despierta. No volveré a amarlo. Solo quiero ser egoísta, y amar únicamente a mí misma. Entonces cuando Diego me preguntó con arrogancia: —Renata, ¿quieres ser mi novia? Yo, tranquilamente, negué con la cabeza. —No.
view more“Aah.. mas Dhimas pelan-pelan, ah ah…” suara Susi mengema pelan.
Dhimas senyum jail, sembari menghentakkan lebih kuat, “Bukankah ini yang kamu suka sayang hum?”
“Aaah… uhm— ya! Tapi aku takut ketahuan mbak Alisya…” bisiknya.
**
Alisya Halim menurunkan map tebal yang sejak pagi ia bawa dari ruang administrasi. Hari ini ia berkutat dengan laporan data mahasiswa yang menumpuk, revisi dokumen, dan permintaan tanda tangan mendadak dari dosen senior. Pundaknya pegal, jari-jarinya lelah, tapi ia tetap tersenyum pada setiap orang yang lewat di mejanya.
“Semangat Alisya, sebentar lagi beres.” Alisya berusaha menyemangatkan dirinya.
Saat jarum jam menunjukkan pukul setengah lima sore, ia memutuskan keluar sebentar untuk menghirup udara segar untuk sesaat. Ruang kerjanya di lantai dua dan kampus sudah mulai sepi, hanya tersisa suara printer dan mesin fotokopi di ujung lorong yang terus bergema.
Begitu keluar gedung, semilir angin sore tiba-tiba menyapu rambut panjangnya yang tergerai. Ia melangkah ke taman kampus, tempat favoritnya untuk melepas lelah. Taman itu cukup sepi sore ini, hanya ada beberapa mahasiswa yang duduk berkelompok sambil tertawa kecil bercanda gurau.
Langkahnya terhenti ketika matanya menangkap sosok yang asing tapi entah kenapa terasa menarik.
Seorang pria berseragam polisi duduk di bangku taman, satu kaki disilangkan di atas kaki lainnya. Di tangannya, segelas kopi kertas masih mengepulkan asap. Sinar matahari sore menyapu wajahnya, memantulkan kilau lencana di dada kiri seragam.
Alisya bukan tipe yang mudah terpesona, tapi ada sesuatu di tatapan pria itu—tajam, penuh percaya diri, namun seolah-olah hanya tertuju padanya.
Tatapan itu membuatnya lupa bernapas sesaat.
Pria itu menyadari keberadaannya, bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. “Sendirian aja, Mbak?” suaranya berat tapi hangat, seperti orang yang sudah lama dikenalnya.
Alisya sedikit terkejut, tapi berusaha tenang. “Eh… iya. Nunggu teman,” jawabnya singkat.
Pria itu menaruh gelas kopinya di bangku. “Kerja di sini?” tanyanya sambil melirik map yang Alisya bawa.
“Staf administrasi,” jawabnya sambil mengangguk.
“Pantesan rapi banget,” ujarnya, tatapannya turun sebentar ke tangan Alisya yang memegang map, lalu kembali menatap wajahnya. “Boleh kenalan mbak??”
Alisya hanya mengangguk pelan.
“Dhimas.” Ia mengulurkan tangan. Jemarinya hangat, genggamannya mantap, seperti tak mau melepas.
“Alisya.”
"Nama yang cantik, cantik seperti orangnya."
Alisya senyum tipis. "Namanya juga perempuan, pasti cantik. Kalau ganteng mah laki-laki."
Dhimas kemudian tertawa pelan.
Obrolan mereka terus mengalir. Dhimas bercerita ia sering mendapat tugas mengawal acara kampus, kadang mengatur lalu lintas saat wisuda. Nada bicaranya tenang, namun di baliknya ada aura percaya diri yang membuatnya terdengar berwibawa.
Sesekali, ia melontarkan humor tipis yang membuat Alisya tersenyum.
Namun, di tengah percakapan itu, ponsel Dhimas bergetar di saku kanannya. Gerakannya cepat—terlalu cepat—saat ia merogoh dan menekan tombol matikan. Ia bahkan tak sempat melirik layar.
Alisya mencondongkan tubuh sedikit. “Kenapa nggak diangkat?” tanyanya penasaran.
Dhimas menggeleng, senyumnya tipis tapi matanya tak berkedip. “Tidak terlalu penting. Lagian aku juga lagi ngobrol denganmu.”
Alisya menelan ludah, merasa pipinya menghangat. Ucapan itu terlalu manis untuk ditolak. Namun, ada bisikan kecil di hatinya yang bertanya 'siapa yang menelpon sampai ia buru-buru mematikannya?'
Bisikan itu, sayangnya, terkubur oleh tatapan Dhimas yang membuatnya ingin bertahan lebih lama di bangku taman itu.
Angin sore membawa aroma bunga kamboja dari sudut taman. Beberapa helai daun flamboyan berjatuhan, ada yang menempel di bahu Alisya. Refleks, Dhimas berdiri dan mengambilnya.
“Kalau ada lomba senyum tercantik di kampus ini, aku yakin kamu menang,” ucapnya sambil tersenyum kecil.
Alisya tertawa pelan, mencoba menutupi gugupnya. “Baru ketemu udah muji. Semua perempuan kamu gombalin gitu, ya?”
Dhimas mengangkat kedua tangannya seolah menyerah. “Enggak. Hanya yang bikin aku penasaran.”
Tatapan mata mereka bertemu lagi. Ada ketenangan aneh yang Dhimas pancarkan, membuat Alisya merasa diperhatikan, seperti hanya dia satu-satunya yang ada di taman itu.
Di sela obrolan, Dhimas mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tak biasa untuk ukuran orang yang baru kenal.
“Kamu tinggal di mana?”
“Sudah lama kerja di sini?” “Punya pacar?”Pertanyaan terakhir membuat Alisya tersedak udara. “Kok nanyanya langsung ke situ?”
Dhimas menyandarkan tubuh ke sandaran bangku, satu kakinya terentang santai. “Biar aku tahu, peluangku besar atau nggak.”
Alisya menggeleng sambil tertawa kecil. “Kamu percaya diri banget, ya.”
“Percaya diri itu perlu. Apalagi kalau yang aku lihat, orangnya sepadan buat diperjuangkan.”
Ucapan itu seperti anak panah yang tepat menancap di hati Alisya. Jarang ada pria yang berbicara lugas begitu, apalagi dengan tatapan mata yang seperti menyimpan janji.
Mereka berbincang cukup lama. Tentang pekerjaan Alisya di bagian administrasi yang membosankan tapi stabil. Tentang kesibukan Dhimas sebagai polisi yang katanya sering membuatnya susah punya waktu untuk bersantai. Tentang hal-hal remeh seperti makanan favorit, lagu kesukaan, sampai film terakhir yang mereka tonton.
Di tengah percakapan itu, ponsel Dhimas kembali bergetar lagi. Ia melirik sekilas layar, lalu cepat-cepat membaliknya menghadap ke bawah di bangku.
“Kamu nggak angkat lagi?” tanya Alisya, mencoba terdengar santai.
Dhimas tersenyum, tapi senyum itu kali ini singkat saja. “Bukan siapa-siapa. Kalau penting, dia pasti hubungi lagi. Aku nggak mau ngobrol sama kamu setengah-setengah.”
Kalimat itu lagi-lagi menenangkan Alisya. Namun, di kepalanya, benih rasa penasaran mulai tumbuh.
Langit sore mulai berwarna jingga. Cahaya matahari yang menurun membuat seragam Dhimas tampak semakin kontras. Alisya memperhatikan detailnya — nametag di dada, badge kecil di pundak, dan lipatan rapi di lengan bajunya.
“Kamu sering ke sini?” tanya Alisya.
“Kalau lagi tugas jaga acara, iya. Tapi kalau besok-besok kamu mau, aku bisa sering-sering nongkrong di sini.”
“Kenapa?”
“Supaya bisa ketemu kamu.”
Obrolan itu membuat waktu terasa berjalan lebih cepat. Mahasiswa yang tadi duduk berkelompok mulai meninggalkan taman. Suara azan magrib terdengar sayup dari masjid kampus.
“Sudah sore, aku pulang dulu,” kata Alisya sambil berdiri.
Dhimas ikut bangkit. “Kamu bawa motor?”
“Nggak, naik ojek.”
Dhimas menggeleng pelan. “Sekali ini aja, biar aku antar. Calon pacar masa naik ojek.”
Alisya memiringkan kepala. “Calon pacar?”
“Ya, kan kita baru kenal. Tapi aku yakin, besok-besok aku bisa bikin kamu setuju jadi pacar aku.”
Alisya tersenyum, setengah tak percaya pada keberanian pria ini. “Kamu nggak takut aku malah ilfeel?”
“Kalau sama kamu? Enggak. Soalnya dari tadi kamu nggak berhenti tersenyum.”
Sebelum Alisya bisa membalas, Dhimas sudah berjalan menuju parkiran. Langkahnya tenang, tapi ada aura kepemilikan yang terasa jelas. Tanpa sadar, Alisya mengikutinya.
Di dekat motor dinasnya, Dhimas menoleh. “Yuk, aku antar sampai depan rumah. Aku janji nggak akan ngebut.”
Alisya ragu sebentar, tapi lalu mengangguk. Entah kenapa, ia merasa aman bersama pria ini.
Yang ia tidak tahu… pertemuan sore itu akan menjadi awal dari cerita panjang dari kisahnya.
Para evitar a Diego, me encerraba en casa o salía temprano y regresaba tarde.Evitaba a propósito todos los lugares donde él pudiera aparecer.Incluso me fui de viaje con mi mejor amiga a otra ciudad por más de dos semanas.No regresé hasta que se acercaban los días de inscripción.Rechacé la sugerencia de mis padres de acompañarme a la universidad.Emprendí sola el camino a la universidad.Al subir al taxi en mi urbanización, de repente escuché que alguien gritaba mi nombre.Me volví por instinto y era Diego.Corría hacia mí con una expresión de emoción en el rostro.Inmediatamente le apremié al conductor que arrancara.Solo cuando el auto se perdió de vista entre el tránsito, pude verlo por el retrovisor, completamente deshecho.Durante los cuatro años de universidad, casi no regresé a casa.Cada vez que lo hacía, me quedaba solo un par de semanas.El resto del tiempo trabajaba y estudiaba.No era porque mi familia tuviera dificultades económicas y no pudiera pagar mis
Los días siguientes, Diego y yo apenas intercambiamos palabras.Cada vez que intentaba acercarse a mí en la escuela, yo ya había inventado una excusa para esquivarlo.Cuando venía a mi casa con sus padres, me encerraba en mi habitación sin salir.Concentré toda mi energía en los estudios. En tan solo un mes, mis notas dieron un salto impresionante.Al terminar el último examen, solté un largo suspiro de alivio.Guardé mis útiles y salí de la escuela lentamente entre la multitud.Para mi sorpresa, Diego, que había salido antes que yo, ya estaba con mis padres, esperándome.Fruncí el ceño al verlo, pero en ese momento él se lanzó hacia mí.Su expresión no podía ocultar las ganas de congraciarse y su adulación deliberada. Dijo:—Renata, seguro te fue muy bien en el examen, ¿verdad? ¡Y en todo este mes no te molesté! ¿Ya se te pasó el enojo?No sabía si reír o llorar.La atención que en mi vida pasada anhelé tanto, ahora se había convertido en algo que detestaba.No es que él n
De repente, una sensación de pánico se apoderó de él y soltó una retahíla de preguntas.Yo no dije mucho; solo asentí levemente y solté un "Sí..." seco.Al terminar, apreté el paso, lo dejé atrás y subí a un autobús.Por la ventana, vi que Diego seguía paralizado en el mismo lugar.Estaba clavado en el suelo, sin poder mover ni un pie.No fue hasta que el autobús arrancó que Diego pareció volver en sí.Con el rostro lleno de pánico, me miró y, de pronto, echó a correr hacia el autobús y gritó:—¡Renata, no lo creo! ¡No creo que seas tan fría conmigo! ¡Baja ahora, tengo que hablar contigo!No fue hasta que el autobús desapareció al final de la calle, que creí ver a Diego tambalearse y caer al suelo.No sé si fue un momento de humanidad o si aún quedaban rescoldos de un amor pasado, pero, por absurdo que suene, sentí que se me humedecían los ojos.¡Diego, por fin sabes lo que se siente que te partan el corazón!Poco después, el autobús se detuvo en la parada de la biblioteca.
Al verse detenido por mí, a Diego se le puso la cara color vinagre.—¡Renata, suéltame ya!No dije nada.Intentó zafarse de mi mano con furia, pero yo lo mantuve firmemente sujeto. Sabía que la llamada era de Valeria. De repente recordé: en mi vida pasada, hoy era también el día en que Valeria sufrió el accidente de tráfico.Él estaba ansioso por acompañar a Valeria en el hospital, pero yo no estaba dispuesta a dejar que se saliera con la suya. Aunque una angustia que casi me ahogaba inundaba mi corazón, logré controlar mis emociones y lo enfrenté:—Diego, está claro que puedes caminar perfectamente. ¿Por qué fingiste entonces? ¿Es que no querías que participara en el concurso de conocimientos e inventaste lo del accidente? Si hoy no me das una explicación razonable, ¡no pienso soltarte!Lo miré directamente a los ojos sin un ápice de temor.Detrás de nosotros, varios ancianos del barrio ya se habían percatado de su engaño. Sintiéndose engañados y avergonzados, no dudaron






Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.