ログインEn mi vida pasada, obligué a Diego Ramírez —hijo de una familia en quiebra— a casarse conmigo usando como excusa el hijo que llevaba en mi vientre. El día de la boda, su amor verdadero dejó una carta de despedida antes de lanzarse al mar: “Al final, el verdadero amor nunca puede vencer al poder. Me rindo.” Cuando Diego recibió la noticia, no mostró la menor reacción; incluso sonrió mientras terminaba la ceremonia conmigo. Pero medio año después, el día del aniversario luctuoso de esa mujer, nos llevó a mí y a mi hijo de tres años a bucear. Me arrancó la manguera de oxígeno a mí y a mi hijo bajo el agua, y los dos fuimos ahogados vivos. Tras mi muerte, vi cómo colocaba mi cadáver frente a la tumba de su amada, pidiéndole perdón. “Carmen, ya vengué tu dolor. Si allá, donde descansas, lo supieras, ¿te daría alegría?” Al abrir los ojos de nuevo, regresé a aquella noche en que usé a mi hijo para obligarlo a casarse conmigo.
もっと見るPart 1
"Dek."
"Emm."
"Bangun, kamu kok gak buat sarapan buat mas dan mama?" tanya suamiku.
"Mas mulai hari ini aku gak mau masak, percuma aja aku lelah lelah masak tapi gak pernah di hargai oleh mama kamu.lagian kenapa mbok Inah di berhentikan dari sini? Kan masakannya mbok Inah enak."rajukku.
"Dek mama tu pengen ngajarin kamu bagaimana jadi istri yang saleha, jadi kamu seharusnya bersyukur dong ada yang memperhatikan bukan malah merajuk gini."
"Mas mama kamu tu perhatian ke aku atau mau jadiin aku pembantu ? Setiap hari aku di suruh ngurusin rumah dan ngurusin counter, memangnya aku gak capek?"
"Dek kamu jangan ngomong kaya gitu dong, itu semua kan buat kebaikanmu juga."
"Kebaikanku yang kaya gimana mas? Yang ada seharian badanku capek dan tak terurus gini, dan kamu mas kenapa gak bantuin aku ngurus rumah padahal kamu kan cuma nganggur main sama temen temenmu doang kerjaannya, sedangkan aku harus banting tulang cari uang di tambah suruh ngurusin rumah, sebenernya yang tulang rusuk itu kamu dan tulang punggung itu aku gitu padahal aku perempuan dan kamu yang laki laki jadi tulang rusuk padahal jelas jelas kamu punya pedang." jelasku panjang lebar.
"Mau gimana lagi mas kan gak bisa kerja sembarangan dek, malu sama teman teman mas kalau kerja nggak di kantoran, lagian mas ini suami masak seorang suami ngerjain pekerjaan rumah kan malu maluin, apa kata temen temenku dong."
"Ya Allah mas apa salahnya sih bantuin istri ngerjain pekerjaan rumah? Ngapain malu itu kan malah hal terpuji, apalagi mas ini gak ada kerjaan apapun, di rumah cuma makan tidur pup main gawai, orang itu tahu diri dikit gitu lho mas."
"Ah kamu itu seorang istri memang kewajibanmu memuliakan suami dek."
"Lalu kewajibanmu apa mas? Apakah sudah kamu lakukan kewajibanmu itu sebelum menuntut kewajibanku?" tanyaku telak.
"Ah kamu pagi pagi malah bikin emosi saja, aku gak mau tau lah pokoknya aku mau sarapan dan sekarang kamu buatin sarapan sana!" bentaknya.
"Kalau aku gak mau kenapa?" tanyaku.
"Kalau kamu gak mau melakukan kewajibanmu lebih baik kalian bercerai!" tiba tiba mama sudah ada di depan pintu kamarku menyerobot masuk dan berteriak lantang.
"Hah ?? Apa mama bilang? Bercerai??"
"Iya, kalau kamu tidak mau memuliakan Andra suamimu ini biar wanita lain yang akan memuliakannya!" ucapnya dengan berkacak pinggang.
"Wa..wanita lain????? Tunggu tunggu apa yang sebenarnya terjadi ma? Kenapa mama tiba tiba membicarakan wanita lain?"
"Kamu tahu anak jeng Mirna samping rumah? kemarin dia baru pulang dari luar negri, tanpa sengaja Angel anak jeng Mirna melihat Andra di depan rumah.dan malamnya jeng Mirna meneleponku dan memberitahu bahwa Angel anaknya tertarik dengan Andra dan bersedia menjadi istri kedua!" ucapnya lantang.
"HAH??!! Mas apa kamu tau tentang ini???"
"Ekhem iya dek tahu, dan kemarin tante Mirna juga Angel datang ke rumah membicarakan itu." jawabnya tanpa ada rasa segan.
"Lalu maumu gimana mas?"
"Tentu saja Andra mau lah, secara Angel cantik dan kaya raya."serobot mama tanpa memikirkan perasaanku.
"Mas aku ingin dengar jawaban dari mulutmu mas!" teriakku.
"Dek gini ya, kamu tahu kan poligami itu gak dosa dan malah berpahala untukmu." Jawabnya bertele tele.
"Gak usah bertele tele lah mas, jawab aja pertanyanku!"
"Heh Mimin kamu yang sopan dong kalau bicara sama suami jangan pakai teriak teriak!" serobot mama lagi, nih mertua suka banget ikut campur ya!
Aku diam sambil memandang sengit ke arah mas Andra.menunggu jawabannya yang bertele tele itu.
"Gak usah bertele tele lah mas, jawab aja pertanyanku!"
"Heh Mimin kamu yang sopan dong kalau bicara sama suami jangan pakai teriak teriak!" serobot mama lagi, nih mertua suka banget ikut campur ya!
Aku diam sambil memandang sengit ke arah mas Andra.menunggu jawabannya yang bertele tele itu.
"huft dek mas mohon izinkan mas untuk menikah lagi, kalau adek mengizinkan Surgalah balasannya!"
Jgeeeerr glegarrr gelegaarr suara petir menggelegar tapi yang denger aku doang.
"Mas kamu kan baru ketemu dia kemarin kenapa sudah ingin langsung nikah aja? Mas kan belum tau karakter dia seperti apa! Apa karena dia cantik dan kaya mas langsung menyanggupinya gitu?"tanyaku frustasi.
"Dek mas yakin Angel wanita yang baik, nyatanya dia datang baik baik bicara sama mama."
"Ya Allah mas, baik darimana kalau akhirnya hanya akan menyakitiku yang istri sahmu?!"
"Dek aku yakin kamu dan Angel bisa akur , lagian katanya kamu capek ngurusin rumah, ya udah kan kalau mas punya istri lagi ada yang bantuin kamu ngurusin rumah jadi kamu gak terlalu capek." jelasnya tak tahu malu.
"Mas kamu sekarangpun nganggur dan gak pernah ngasih aku nafkah, lalu kalau kamu nikah lagi mau kamu nafkahin apa?memangnya orang berumah tangga cuma butuh pedangmu saja? Kalau masalah ngurus rumah kan ada bi Inah nanti kita panggil lagi dia."
"Enak saja panggil Bi Inah, daripada uang di buang buang buat bayar pembantu mending di kasihin ke mama buat belanja! Biar lah Andra nikah lagi kan bisa bantuin ngurus rumah secara gratis tanpa harus ngeluarin uang!"
"Mama tuh mau nyari menantu apa nyari pembantu gratisan sih????? Lagian yang bayar Bi Inah tu aku ma bukan mama! Jadi mama gak rugi!"
"Aduh capek ngomong sama menantu durhaka, bisanya cuma ngelawan omongan mertua! Pokoknya mama gak mau tau, Andra tetap harus menikah dengan anaknya Jeng Mirna titik! Mau kamu setuju atau tidak Min!"
"Mas !!"
"Dek ayolah jangan jadi istri pembangkang dong!"
Ah si*l !!!!! Suami lakn*tt!! Aku pun berlari keluar rumah dengan frustasi menuju rumah tante Mirna.
Dor dor dor aku pun menggedor pintu rumah tante Mirna dengan keras, hati ini sudah tidak bisa menahan amarah.bisa bisanya menjodohkan anaknya ke laki laki yang sudah beristri.
"Tan buka tan! Buka !!!!!" teriakku.
Pintupun di buka dengan cepat nampak sesosok wanita sexy menurutku memakai pakaian dalam saja, dasar g*la! Perempuan ini memakai hot pant yang hampir mirip dengan celana dalam dan tangtop tipis memperlihatkan BH dan belahan dadanya, ya ampun di sini menerapkan budaya luar ya aneh dong!
"Kamu siapa? Angel anaknya Tante Mirnah kah?" tanyaku gak sabaran.
"Iya saya Angel anak mama Mirna, ada apa ? Mbaknya siapa?"
"Mana tante Mirna , saya mau ngomong sama dia!"
"Ck jangan teriak teriak dong, biasa aja ngomong nya!" sungutnya.
"Gak usah banya bac*t! Cepetan panggilin tante Mirna!" teriakku dengan emosi meradang.
Sebelum orangnya di panggil ternyata sudah nongol duluan.
"Heh heh ada apa sih teriak teriak kaya orang kesurupan? Oh Mimin ,ada apa Min dateng dateng kok teriak teriak gak jelas bikin malu aja!" ucap tante Mirna.
"Heh tante masih punya urat malu kah? Sebelum menjodohkan anakmu dengan suami orang kenapa gak di pakai malunya?!"
"Aduh ternyata jeng Asti sudah memberitahu kamu ya tentang perjodohan ini.ya sudah kamu terima aja keputusan nak Andra , lagian Angel anak aku ini sudah cantik uangnya banyak sangat cocok dengan nak Andra yang tampan dan kaya."pongahnya tanpa tahu menahu yang dia sebut laki laki tampan dan kaya itu ternyata pengangguran sukses ngibulin istrinya!.
"Apa? Mas andra tampan dan kaya?"
"Iya bukannya nak Andra punya counter besar dan cabang nya dimana mana sehingga dia tinggal ongkang ongkang kaki di rumah hanya terima bersih setoran dari anak buahnya!"
Medio año después, la película que había financiado se estrenó y fue un éxito rotundo.En la alfombra roja, vi a Carmen entre las actrices.Pero ya no tenía su aspecto inocente: se había operado el rostro y el pecho.Intentó acercarse a mí, pero mi asistente la detuvo.Todo salió según lo planeado.Carmen disfrutaba los flashes, su felicidad era evidente.Gracias a esa serie, había ganado decenas de miles de seguidores más.Estaba más cerca de su sueño de ser famosa.Esa misma noche, la película en la que había invertido ganó, efectivamente, el premio a la mejor película.Pero, al revisar mi celular, vi una noticia trending:“Grave accidente en la autopista junto al festival de cine: la actriz de la serie Carmen ha sido secuestrada.”En las imágenes borrosas de la cámara de seguridad se veía cómo la furgoneta en la que iba ella fue embestida por una destartalada combi.Cuando el chofer se bajó, de la combi salió un hombre flaco pero con un cuchillo de cocina en la mano.El conductor se
Esa noche, la fiesta transcurrió sin mayores problemas.Conseguimos varios proyectos más; yo corría de un lado a otro por todo el país.Dos semanas después, Susana me contó la continuación del asunto:—Aquel día fue un desastre, Carmen no consiguió el papel de la segunda protagonista y se mudó del pequeño departamento que Diego le alquilaba.Susana bebía su café, recostada en la silla, disfrutando el chisme.Se aplicó la crema de manos que le traje de Francia y, con los ojos brillantes de emoción, agregó:—Pero no rompió con Diego. Él la ama de verdad. Aunque sabe que su princesa es materialista, trabaja duro solo para comprarle lo que quiere.Respondí mientras contestaba mensajes de clientes:—¿Y qué? ¿Que diga que todo lo de antes fue porque él mismo fue un pendejo?Susana se rió a carcajadas y me envió unas fotos.Al abrirlas, vi a Diego repartiendo comida.¡Un joven heredero de familia adinerada convertido en repartidor!Me sorprendí:—¡Increíble!Susana continuó:—Para costear los
El machismo innato de Diego Ramírez se activó; frunció el ceño y protegió a Carmen detrás de él.—No hagas pasar un mal rato a ella.El inversionista se rió con desdén y rápidamente cambió de tono:—Está bien, entonces tú bébelo.Diego se quedó paralizado, sin pronunciar palabra.Entonces escuchó la voz dulce de su “princesa” detrás de él:—Mi amor Diego, toma esta botella de licor. Sabes que actuar siempre ha sido mi sueño…Carmen terminó la frase con lágrimas en los ojos, mostrando una ternura que daba lástima.Yo casi me río.¿Eso no me suena familiar?Ah, claro. Hace siete años, cuando Carmen recién se mudó a mi mansión, le dijo a Diego lo mismo… pero su sueño era ser chelista.Diego se lo creyó y, aunque su padre lo castigara arrodillándolo tres días y tres noches, la trajo a su casa para cuidarla.Él aún recordaba aquella noche, con la adolescente en su vestido desgastado, llena de expectación.Pero la joven había olvidado por completo la mentira que dijo.Seguía engañando a Dieg
Una semana antes de nuestra recepción, envié invitaciones a todos los contactos influyentes.Incluso a la familia Ramírez.Esa fue idea de Susana, que las metió a escondidas.Le encantaban los dramas y las peleas de sociedad.Cuando lo descubrí, no quise darle importancia; al fin y al cabo, con el orgullo machista de Diego, no pensé que se atrevería a venir.Pero el día de la recepción apareció.Mientras me rodeaban para brindar, lo vi entrar con paso vacilante.En apenas un mes, se notaba agotado.Ojeras marcadas, un traje que no le quedaba, como alquilado a última hora.Sin el aura de heredero rico, solo se veía desaliñado e incómodo, consciente de que ya no pertenecía a ese círculo.A su lado, en cambio, Moira seguía luciendo radiante y ostentosa.Susana se inclinó hacia mí, murmurando con sorna:—Ese imbécil vendió hasta los secretos más valiosos que su padre guardó toda la vida… todo para abrirle camino a su princesa en el mundo del espectáculo.Arqueé una ceja, indignada de verda
El llanto a mi alrededor se hizo más nítido.Abrí los ojos lentamente y vi a mis padres, vivos, de pie junto a la cama.El arrepentimiento me ahogó el pecho; arranqué la aguja del brazo y me lancé al regazo de mi madre, llorando con desesperación:—¡Papá, mamá, no me casaré con Diego Ramírez!Ellos,
Entre la penumbra, los recuerdos dolorosos de mi vida pasada se agolparon en mi mente.Después de la boda, Diego Ramírez nunca volvió a vivir conmigo.Se compró una villa en las afueras y la llenó con fotos de Moira.Durante todo mi embarazo, estuve siempre sola.Hasta el día del parto, cuando caí e
Frunció el ceño con fuerza, como si no creyera ni una palabra de lo que dije:—Inma, ¿tú misma te crees eso? Todos estos años te pegaste a mí como una perra, sin importar cuántas veces intentara apartarte. Hasta te metías en mi cama con descaro. Ahora que mi familia está a punto de irse a la ruina,
En mi vida pasada, obligué a Diego Ramírez, hijo de una familia en quiebra, a casarse conmigo usando como excusa el hijo que llevaba en mi vientre.El día de la boda, su amor verdadero dejó una carta de despedida antes de lanzarse al mar:“Al final, el verdadero amor nunca puede vencer al poder. Me






Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.