Isu yang melibatkan Alarick kemarin membuat Nerissa tidak cukup beristirahat. Otaknya terus berputar dan raganya dipaksa bekerja tanpa jeda. Itulah mengapa kini tidurnya begitu lelap. Bahkan suara ketikan keyboard di ruang kerja Alarick yang saling bersahutan pun, tak mampu membangunkannya. “Pulanglah, kasihan istrimu. Lagi pula pekerjaanmu tinggal sedikit lagi,” ucap Luciver. Ekor matanya beberapa kali melirik ke arah Nerissa. Bukan tanpa alasan, dia merasa iba pada gadis itu. “Hmm, baiklah.” Di luar dugaan Luciver, kali ini Alarick menuruti ucapannya. Ia bangkit dari kursinya. Netranya sempat menatap Nerissa sebelum kembali beralih pada Luciver. “Aku sudah meminta konfirmasi ulang pada klien. Tinggal menunggu jawaban mereka. Kalau sesuai dengan budget, lanjutkan saja. Sisanya kuserahkan padamu,” jelas Alarick. “Oke. Nanti akan langsung kukabari kalau mereka sudah membalas." Alarick mengangguk, lalu bergegas mendekati Nerissa. Sedikit gusar, dia dilanda kebimbangan. H
Mehr lesen