Home / Romansa / Bukan Pelakor / BAB 25: Racun di Balik Dinding

Share

BAB 25: Racun di Balik Dinding

last update publish date: 2026-04-07 14:01:38

Siang harinya, villa itu terasa seperti penjara bawah tanah yang panas meskipun pendingin ruangan menyala maksimal. Utari sedang berada di kamarnya saat Sarah masuk tanpa mengetuk.

"Nyonya... Tuan Darsa bilang Nyonya tidak boleh masuk tanpa izin," ucap Utari gugup.

Sarah mengunci pintu kamar itu dari dalam. Ia berjalan perlahan mengitari Utari, seperti singa yang mengepung mangsa. "Mas Darsa sedang di kantor, Sayang. Dia tidak akan tahu apa yang terjadi di sini."

Sarah mengeluarkan sebuah am
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bukan Pelakor   BAB 39: Tahta yang Berdarah

    Cahaya fajar menyusup malu-malu melalui celah gorden kamar VVIP rumah sakit. Utari mengerjapkan matanya, merasakan tenggorokannya yang kering dan perih. Aroma obat-obatan yang tajam kembali menyambutnya, mengingatkannya bahwa ia masih berada di dunia yang sama, dunia yang penuh dengan jerat dan air mata. Di samping tempat tidurnya, Tuan Darsa duduk tertidur di kursi kayu yang keras. Kepalanya tertunduk, dan gurat kelelahan tercetak jelas di wajahnya yang biasanya angkuh. Utari menatap pria itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Pria ini telah menyelamatkannya dari Juragan Somat, namun pria ini pula yang membuatnya kehilangan anaknya dan dicap sebagai wanita simpanan oleh satu negara. "Tuan..." suara Utari serak, hampir menyerupai bisikan. Darsa tersentak bangun. Matanya yang memerah langsung menatap Utari dengan binar lega yang tak bisa disembunyikan. "Utari? Kamu sudah bangun? Syukurlah, jangan banyak bergerak dulu. Jahitanmu masih rawan." Darsa dengan sigap membantu Utari m

  • Bukan Pelakor   BAB 38: Algojo di Ambang Maut

    Suara letusan senjata api yang memecah kesunyian gudang tua itu membuat telinga Utari berdengung hebat. Ia meringkuk di atas kursi kayu dengan tangan terikat, memejamkan mata rapat-rapat. Ia bisa mendengar teriakan panik dari para centeng Juragan Somat yang selama ini hanya berani menindas rakyat kecil, namun kencing di celana saat berhadapan dengan profesional. "Siapa kalian?! Berhenti! Saya punya koneksi di kepolisian!" teriak Somat, suaranya melengking ketakutan. Ia mundur hingga menabrak tumpukan karpet tua, cerutunya jatuh mengotori lantai tanah. Pria berbaju hitam itu adalah Bara, tangan kanan kepercayaan Darsa yang paling misterius. Iya melangkah maju tanpa ekspresi. Di belakangnya, empat pria lain bergerak dengan taktis, melumpuhkan anak buah Somat hanya dalam hitungan detik tanpa banyak suara. "Koneksi Anda tidak lebih tinggi dari uang Tuan Darsa, Somat," ucap Bara dingin. Suaranya datar, namun mengintimidasi. Ia menodongkan moncong

  • Bukan Pelakor   BAB 37: Mulut Buaya, Taring Harimau

    Hujan yang tadinya menderas kini menyisakan gerimis yang menusuk tulang. Utari mematung di pinggir aspal yang becek, menatap sosok Juragan Somat yang berdiri dengan pongah di depannya. Pria tua itu mengenakan jaket safari kulit dengan aroma minyak nyong-nyong yang menyengat, kontras dengan bau tanah basah di terminal itu. "Tuan... Juragan... bagaimana bisa?" suara Utari tercekat di tenggorokan. Juragan Somat tertawa serak, memperlihatkan perutnya yang buncit. "Dunia ini sempit bagi orang yang punya uang, Utari. Apalagi setelah wajahmu ada di setiap berita televisi. 'Pelakor Konglomerat', begitu katanya? Ck, ck, ck... seleramu tinggi juga ya, setelah lari dari ranjangku." Utari melangkah mundur, mencoba mencari celah untuk lari. Namun, dua pria berbadan tegap—centeng kepercayaan Somat—sudah berdiri di belakangnya, mengunci setiap jalan keluar. "Jangan takut. Aku tidak akan memukulmu," ucap Somat sambil mendekat, jemarinya yang kasar

  • Bukan Pelakor   BAB 36: Pelarian di Bawah Hujan Badai

    . Suara sirene polisi perlahan menjauh, tertutup oleh gemuruh guntur yang membelah langit Jakarta. Hujan turun dengan sangat deras, seolah alam sedang membantu menghapus jejak kaki Utari yang melangkah keluar dari pintu belakang rumah persembunyian itu. Utari mengabaikan rasa perih di perut bawahnya yang sesekali masih berdenyut. Ia hanya membawa tas kain kecil berisi pakaian ganti seadanya dan surat dari Ajeng. Mbak Lastri memegang payung dengan tangan gemetar, menuntun Utari menuju sebuah gang sempit yang tembus ke pangkalan ojek. "Mbak Utari, yakin mau pergi sekarang? Mbak masih lemas sekali," bisik Mbak Lastri khawatir. "Saya tidak punya pilihan, Mbak. Kalau saya tetap di sana, wartawan dan polisi akan menguliti hidup saya. Saya harus sampai di asrama Ajeng sebelum mereka melacaknya," jawab Utari dengan suara yang parau namun tegas. Utari menyerahkan selembar amplop berisi sisa uang tunai yang sempat diberikan Darsa padanya

  • Bukan Pelakor   BAB 35: Reruntuhan Sangkar Emas

    Tiga hari setelah malam berdarah itu, suasana rumah sakit terasa seperti kuburan yang dingin. Utari duduk di kursi roda, menatap taman kecil dari balik jendela kaca lantai lima. Wajahnya masih pucat, namun ada ketenangan yang mengerikan di matanya, ketenangan seseorang yang sudah kehilangan segalanya dan tidak lagi memiliki rasa takut. Darsa masuk ke kamar dengan membawa buket bunga lili putih. Langkahnya tidak lagi tegap dan penuh otoritas. Ada guncangan hebat di jiwanya melihat Utari yang hanya diam membisu sejak operasi itu. "Utari, aku sudah mengurus kepulanganmu hari ini. Kita akan kembali ke rumah yang aman. Aku sudah menambah pelayan untuk menjagamu," ucap Darsa pelan, hampir memohon. Utari menoleh perlahan. Ia tidak menatap bunga itu, melainkan menatap mata Darsa. "Rumah yang mana, Tuan? Rumah yang penuh wartawan? Atau rumah yang didatangi Nyonya Sarah untuk memaki saya?" Darsa tertegun. "Tidak akan ada lagi yang berani meny

  • Bukan Pelakor   BAB 34: Darah di Atas Kelopak Mawar

    Taman mawar yang biasanya harum semerbak kini tercium amis. Bau darah menyeruak di antara udara senja yang mendingin. Darsa membeku, tangannya yang kekar gemetar hebat saat merasakan cairan hangat itu merembes ke kemeja putihnya. Wajah Utari seputih kertas, matanya berputar ke atas sebelum akhirnya tertutup rapat. "Utari! Bangun! Jangan bercanda, Utari!" teriak Darsa, suaranya pecah oleh kepanikan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Sarah, yang tadinya tersungkur, ikut merangkak mendekat. Matanya membelalak melihat genangan merah di bawah gaun Utari. "Mas... anak itu... darahnya..." Sarah menutup mulutnya, antara ngeri dan rasa bersalah yang tiba-tiba menghantam dadanya seperti godam. "Panggil ambulans! Cepat, Sarah! Jangan diam saja seperti orang bodoh!" bentak Darsa. Tanpa membantah, Sarah berlari masuk ke dalam villa, mencari ponselnya dengan tangan yang bergetar hebat hingga menjatuhkan beberapa vas bunga di meja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status