Bab 153Gendon bergerak cepat, ia menarik tangan Surya Yudha. Pemuda bertubuh gempal itu tidak banyak bicara, wajahnya yang biasanya penuh banyolan kini terlihat sangat serius. Ia menempelkan telapak tangannya ke punggung Surya Yudha, menyalurkan tenaga dalam dingin dari Ajian Lumut untuk menekan racun yang masih mengamuk di aliran darah sahabatnya.“Sabar ya, Den. Gendon kuras dulu racunnya. Kalau Den Bagus meninggoy sekarang, Gendon nggak punya temen buat pamer kalo Gendon udah kurus,” bisik Gendon, berusaha mencairkan suasana meski tangannya bergetar.“Ya, aku tidak akan mati, setidaknya untuk saat ini,”Keduanya sama-sama memejamkan mata, yang satu mengalirkan tenaga dalam sementara yang lainnya menerima. Hingga matahari tak lagi terlihat, keduanya masih fokus pada posisi masing-masing.Fajar mulai menyingsing, Gendon membuka matanya dan menghela napas panjang. Rasa lelah kini benar-benar menyelimuti seluruh tubuhnya, membuatnya terkapar di atas reruntuhan.“Edan, racunnya banyak
Read more