“Ini rumah baru kita.” Arjuna mengajak Utami ke rumah pribadinya tepat seminggu setelah pesta pernikahan berlangsung. Tidak seperti rumah keluarga Trenggana yang besar dan berlantai tiga, rumah ini jauh lebih sederhana tapi tidak kalah berkelas. Bertema minimalis dengan tiga kamar tidur, punya jendela besar yang menghadap langsung ke taman belakang rumah. Dia bahkan memasang ayunan di taman itu. Membuat suasananya tampak jauh lebih ramah untuk anak-anak.“Wah, ada mainan?” Utama yang bungah menunjuk ayunan besi tersebut dengan mata berbinar. “Boleh Tama ke sana, Papa? Tama ingin bermain.”Tanpa banyak bicara, Arjuna langsung mengangkat tubuh anak itu dari atas kursi roda. Menggendongnya, lalu mendudukannya di atas ayunan. Sebuah pemandangan yang lagi dan lagi, untuk kesekian kalinya, membuat hati Utami terasa …, janggal.Sebab untuk ukuran pernikahan palsu, ini terlalu manis. Namun, disisain dia juga sadar bahwa apa yang dilakukan Arjuna sesuai dengan kontrak mereka. Setidaknya, unt
Read more