MasukTami dan Juna memulai pernikahan mereka dengan selembar surat kontrak, akankah keduanya bisa memulai hubungan serius ke depannya? Demi uang pengobatan sang ibu, Tami rela menikah dengan pria kaya yang arogan. Di sisi lain, Arjuna sangat mencintai kekasihnya, Viviane, namun karena sebuah alasan dia terpaksa meninggalkan gadis itu dan menikah dengan orang lain.
Lihat lebih banyakSATU : UTAMI DAN KEHIDUPAN MALANGNYA
Tahu apa yang lebih menakutkan dari menjadi manusia? Iyalah menjadi manusia yang kehilangan kemanusiaannya.
Tiga puluh tahun tahun sudah Utami Saraswati hidup sebagai manusia yang dipaksa untuk berjalan di atas pecahan kaca. Tak peduli seberapa banyak luka yang harus dia tahan, tak peduli seberapa menyakitkan setiap kali beling menancap menembus kulitnya, perempuan bermata bening itu tetap setia berjalan. Bukan karena dia menikmati, mainkan sejak awal dia memang tak punya pilihan lain.
Hidupnya hancur. Tergerus. Dihujani pedang tajam sehari-hari, menembus jantungnya, merobek jiwanya, dan membuatnya tak lagi tahu ke mana dia harus mengadu.
“Tuhan?” Utami tertawa mendengar ocehan Sabina, kawan baiknya yang malam itu datang membawakan semangkuk sup ayam untuk dia dan Utama makan malam. “Jangan membicarakan yang tidak-tidak. Kupikir Tuhan memang sudah lama menghilang dari hidupku. Toh, mana mungkin Tuhan mau mampir ke tempat seperti ini? Tempat ini terlalu kotor, Sayang. Hanya maling, orang-orang brengsek, dan pecandu yang mau repot-repot datang menemui kita.”
Mendengar pernyataan dingin dari mulut wanita berambut panjang dengan gincu merah menyala tersebut, Sabina memilih tersenyum lembut. Mengingat, dia paham betul luka apa yang sudah dilalui oleh sang sahabat. Dia pun dulu pernah merasakan hal yang sama. Rasa yang sama. Pedih yang sama. Yang tak akan pernah bisa dipahami oleh orang lain. Terutama orang-orang yang hidupnya dipenuhi kebahagiaan di luar sana.
Hidup sebagai ibu tunggal dari seorang anak berkebutuhan khusus bukanlah takdir yang bisa dipilih. Sabina paham betul seberapa keras usaha Utami untuk menghidupi Utama, putra tunggalnya yang tidak bisa mendengar itu. Yang hanya bisa memahami dunia dengan gerak bibir ibunya. Juga bahasa yang hanya bisa dipahami oleh segelintir manusia.
Semua usaha yang Utami keluarkan tidak lain dan tidak bukan hanya agar putranya bisa hidup dengan Layak. Setidaknya supaya Utama bisa bersekolah di tempat yang seharusnya. Yang sayangnya, harganya lumayan mahal jika dibanding dengan sekolah umum biasa.
“Kalau Dia memang ada, seharusnya sudah datang ke sini dari dulu,” lanjut Utami sambil menghembuskan hasil bakaran nikotin dari mulutnya. “Bukankah suamimu bilang Tuhan itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang? Bukankah Dia Maha Mendengar? Lalu, kenapa selama ini Dia tidak pernah mendengar doa-doaku? Setidaknya dulu, suatu ku sedang jatuh-jatuhnya.”
Ada getir di sana. Sabina tau persis sorot mata getir yang dipasang oleh Utami. Getir yang sama dengan yang dulu pernah Sabina rasakan saat kehilangan buah hatinya. Keputusasaan. Kekosongan. Kekaburan.
Sebab disaat manusia putus asa, di saat yang sama pulas segalanya menjadi sangat kabur, seolah-olah tak ada jalan keluar.
“Bukan Tuhan yang tidak menolongmu, sebaliknya, kamu yang tidak ingin Tuhan menolongmu, Tami.”
Ucapan Sabina sekali lagi dijawab dengusan kasar oleh Utami. “Dia saja tidak menawarkan.”
“Tuhan tidak datang untuk menawarkan bantuan, melainkan datang saat kita meminta bantuan.”
Jawaban Sabina terdengar dibuat-buat. Di telinga Utami semua sama saja. Sabina terlalu membela keyakinan barunya. Keyakinannya akan dunia.
Sejak keluar dari lokalisasi, Sabina memang berubah banyak. Utami senang dengan itu karena artinya sang sahabat bisa terbebas dari belenggu dunia malam. Dia bisa menikah, punya keluarga bahagia, dan tidak perlu memikirkan getir-getir yang sebelumnya dia telan.
Namun, entah kenapa di saat yang sama Utami merasa kalau Sabina terlalu cerewet. Sabina terlalu merasa bahwa kehidupan sempurna itu juga perlu diterapkan dalam hidup Utami. Padahal jelas, Utami tidak seberuntung dia.
Bila Sabina masuk kemari karena keputusannya sendiri —karena terlalu bodoh memutuskan arah masa remajanya, maka Utami berbeda. Dia ke sini karena tak punya pilihan lain. Sehingga mustahil baginya pergi sekarang. Terlebih …, ada Utama yang mesti dia besarkan.
Terdengar bunyi ketukan pintu yang langsung membuyarkan obrolan mereka.
Utami segera menoleh, memastikan siapa yang datang. Utama. Anak itu tersenyum, menunjukkan deretan gigi putihnya berjajar rapi, kemudian berkata menggunakan bahasa isyarat, “Ibu, aku pulang!”
“Kamu pulang sama siapa?” Utami malah memberi pertanyaan. Agak panik karena seharusnya sang putra belum pulang sekarang.
“Diantar Pak Ustaz!” jawabnya semringah. “Pak Ustaz ada acara. Kegiatan mengaji dipulangkan cepat.”
“Lain kali, jangan pulang sendiri! Suruh Pak Ustaz telepon Ibu. Paham?”
“Sudahlah, Tam. Yang penting kan dia sudah sampai rumah dengan selamat,” sela Sabina menggunakan suara. Sebelum akhirnya berpindah, “Tama, kamu pasti lapar kan? Tante bawakan makan malam untuk kamu.”
“Yee! Terima kasih, Tante!” seru Utama sebelum berlari ke kamarnya untuk berganti pakaian.
“Bukankah dia anak yang sangat lucu?” ujar Sabina. “Tami!” Dia menyentuh punggung tangan sahabatnya itu dengan lembut. “Aku tahu kamu tidak pernah benar-benar melupakan Tuhan. Buktinya, sampai sekarang kamu masih mengajari anakmu untuk mengenal Tuhannya. Karena kalau kamu benar-benar membenci Tuhan, seharusnya kamu tidak akan repot-repot mencarikan dia tempat mengaji.”
Utami bergeming. Tidak menjawab sama sekali.
“Bukankah begitu?”
Tami dan Juna saling menatap satu sama lain. Mereka tentu tidak pernah menyangka jika Ruben akan senekad itu. Mengirimkan foto dirinya dan Asya kepada Nyonya Anggara? Apa yang sebenarnya diinginkan oleh pria itu? Apakah dia memang berniat membunuh sandiwara Tami dan Juna?"Mama kayaknya nggak bakal semudah itu percaya deh, Mas." Tami menyeka keringat dingin yang membasahi tubuhnya. "Bagaimanapun juga, setelah ini Mama pasti akan mencari tahu semuanya dengan jelas. Maksudku, siapa sih orang yang bakal dengan tegas mempercayai berita kayak begini?"Juna yang menyetir mobil akhirnya menghela napas panjang. "Kamu benar, Tam.""Terus, kita harus gimana, Mas?""Bagaimana kalau kita datangi saja dia?" "Kalau menurutku jangan." Tami menjawab dengan tegas. "Ruben yang sekarang bukan Ruben yang dulu aku kenal. Dia sudah sepenuhnya disetir oleh Gina.""Maksudmu?""Mas Jun," Tami menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu mungkin akan menganggap ini omong kosong tapi dia adalah pria yang bodoh. Ruben
"Bagaimana? Bajunya bagus, kan?" Tami menatap Viviane yang kini dibalut gaun putih pernikahan dengan kagum. Kulit putih dan badan yang tinggi jenjang itu seolah memang sengaja dirancang untuk seorang malaikat. Malaikat yang tentu saja wajar bila membuat Juna jatuh cinta. "Bagus banget, Ma." "Pilihan Mama memang nggak salah." Nyonya Anggara dengan bangga berdiri di samping Viviane. "Mama sengaja minta perancang busana ini untuk membuat gaun pernikahan kalian. Anjasmara pasti langsung kasmaran lihat kecantikan kamu, Vi." "Mama bisa saja." Viviane tertawa. Dia merangkul mertuanya. "Makasih ya Mama sudah mau menerimani aku cari gaun." "Iya, Nak." "Oh iya, Tam," Vivi menatap Tami dengan ekspresi dingin. "Kamu tolong ambilkan kain untuk seragam di depan ya. Yang warna biru." Tami mengangguk. Dia menuruti calon adik iparnya itu dengan sebaik mungkin. Sebenarnya, Tami tahu jika Vivi tak menyukainya. Barangkali Vivi sudah mengetahuinya. Soal kebohongannya. Namun, sejauh apa Vivi tahu, T
"Kamu kenapa sih pakai bilang begitu segala ke mereka?" Tami menerima segelas es krim dari tangan Paulino. Udara panas membakar keduanya, dari lantai dua sebuah toko es krim, kini duanya duduk berdua menyaksikan kota yang sibuk. Juna tersenyum lalu mendudukkan badannya di kursi tepat di seberang Tami. "Biar semakin meyakinkan, Tam. Kamu kan tahu sendiri kalau sekarang posisi kita makin terdesak. Mama kayaknya juga mulai curiga sama kita."Tami mengangguk. "Tapi nggak harus juga kan kamu memamerkan aku ke depan orang-orang dan ngaku aku istrimu?""Tapi, kan memang kamu istriku.""Istri sewaan!" ralat Tami. Juna diam sejenak tapi kemudian melanjutkan. "Kalau sendiri, bagaimana? Sudah mulai memikirkan mau buka laundry di mana?""Kan aku sudah bilang nggak usah.""Tami, kan aku sudah bilang kalau aku mau bantuin kamu ...." Juna kembali menekankan ucapannya. "Anggap saja ini bagian dari kewajibanku sebagai kompensasi untukmu.""Harus berapa kali aku bilang nggak usah?""Harus berapa kali
"Kami langsung berangkat ya, Ma!" Juna mencium pipi Nyonya Anggara, kemudian menggandeng tangan Tami. Keduanya keluar dari rumah, menaiki mobil dan hanya ditatap dengan senyuman tipis di wajah wanita tua itu.Nyonya Anggara sejujurnya tidak ingin berprasangka buruk pada anak dan menantunya, hanya saja dia masih heran dengan sang menantu sebab Tami terlalu banyak menyimpan rahasia, seolah ingin menyembunyikan segalanya darinya. Padahal jelas Nyonya Anggara penasaran. Kenapa? Ya, kenapa dia seolah tidak pernah mengenali keluarga menantunya sendiri. Bahkan paman dan bibi Tami, tidak dia kenali sama sekali.Lalu, dikeluarkannya ponsel dari dalam saku. Dia hendak menghubungi Viviane tapi mobil perempuan itu telanjur datang lebih dahulu."Ma? Tami mana?" tanya Viviane. Nyonya Anggara menjawab, "Ikut Juna ke acara peluncuran buku.""Di toko buku Gramedia?""Ya.""Ya ampun!" Viviane menghela napas panjang. "Terus gimana? Mama sudah bicara sama Tami?"Nyonya Anggara mengangguk. "Tapi, katanya
“Kamu serius, Mas?”Mata Tami membelalak saat menerima uang tersebut. Lebih tepatnya, tidak percaya denga napa yang dia lihat. Juna mengangguk. “Ya. Tentu saja, Tami.”“Astaga!” Tami menggeleng tegas, lalu mendorong tangan Juna dan uang itu menjauhinya. “Aku nggak bisa menerima uang ini.”“Kenapa?”“Mas
Mungkin apa yang dikatakaan oleh Vivi benar, Tami adalah orang jahat yang merencanakan sesuatu di balik kebaikannya pada keluarga ini hanya demi sesuatu. Atau lebih tepatnya demi keuntungannya sendiri. Dan, Tami tidak bisa mengelaknnya. Namun, dia juga tidak terima dituduh begini, seolah dia adalah
Keesokan harinya kami berangkat ke rumah lamanya, tidak lupa dia membeli beberapa barang dari minimarket bagi oleh-oleh untuk sang kekasih. Semua ini dia lakukan juga sebagai permintaan maaf karena telah menyakiti perasaan Ruben, serta ingin dia kembangkan bisnis laundry yang selama ini dikembangkan
Selepas makan malam, Tami memilih untuk menemani Juna di kamar pribadinya, sebab tak ingin membuat Nyonya Anggara curiga. Tidak banyak yang bisa dilakukan. Tami hanya duduk dan membaca buku-buku koleksi suaminya, sementara Juna mengerjakan tugasnya mengetik di meja kerja.Suasana di sana sangat cerah












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan