LOGINTami dan Juna memulai pernikahan mereka dengan selembar surat kontrak, akankah keduanya bisa memulai hubungan serius ke depannya? Demi uang pengobatan sang ibu, Tami rela menikah dengan pria kaya yang arogan. Di sisi lain, Arjuna sangat mencintai kekasihnya, Viviane, namun karena sebuah alasan dia terpaksa meninggalkan gadis itu dan menikah dengan orang lain.
View More“Menikah?”
Tami nyaris tersedak saat mendengar tawaran tersebut keluar dari mulut pria di hadapannya, sebab selama hampir dua puluh delapan tahun hidup di dunia baru kali ini ada pria yang terang-terangan melamarnya.
Memang, harus diakui ada banyak sekali pria yang hilir mudik masuk ke kehidupan seorang Utami Prameswari. Malah hampir setiap malam dia bertemu dengan pria yang berbeda, tapi masalahnya tak ada satu pun dari mereka berani melamarnya. Pun pria gila mana yang mau melamar perempuan sepertinya? Perempuan yang terang-terangan mengabdikan hidupnya sebagai ..., pacar sewaan.
Tapi jangan salah paham! Utami tidak menyediakan pelayanan lebih dari sekadar teman kencan. Teman pendamping kencan, lebih tepatnya. Dengan target pasar orang dewasa kesepian yang ingin memiliki gandengan ketika datang ke pesta atau pertemuan. Bukan sekadar gandengan biasa, akan tetapi juga perempuan yang cerdas dan tampak berkelas hingga bisa dipamerkan. Atau, untuk pelayanan paling intim, perusahaan tempat Utami bekerja juga menyediakan jasa pemenuhan emosional.
“Itu lebih ke mendampingi mereka menghabiskan waktu bersama, tapi tanpa hubungan seksual.” Jelas Utami kepada Rebecca, kakak sekaligus saudara kembarnya yang malam itu berkunjung ke apartemen.
Sebagai orang waras sudah bisa ditebak penjelasan Utami terdengar sangat tidak masuk akal di kepala wanita dua puluh sembilan tahun dengan tahi lalat di ujung hidung tersebut. “Tetap saja, apa tidak bahaya? Maksudku, bagaimana kalau klienmu baper lalu tahu-tahu kamu disekap, diculik dan sebagainya? Kamu tidak takut?”
Pertanyaan Rebecca sangat wajar, sebab dulu Utami sendiri pun pernah memikirkan hal yang sama saat pertama kali mendaftar ke Mawar Merah. “Tenang. Pihak aplikasi akan membantu kita menyaring klien. Karena di sana bukan hanya para talent yang disaring, para klien yang masuk pun dilihat dulu latar belakangnya biar nggak sembarang orang boleh masuk.”
“Seberapa akurat?”
“Sejauh ini lumayan akurat. Setidaknya, selama dua tahun gue kerja di sini, semuanya aman.” Jawaban Utami mantap, tanpa keragu-raguan dia memotong daging sapi di piringnya sebelum mencocolnya ke dalam sambal buatan sang kakak yang ada di tengah meja makan. Tapi sebelum dia memasukkan makanan lezat tersebut ke dalam mulut, dia lebih dulu melanjutkan, “Memang sih, nggak benar-benar tanpa masalah. Tapi paling tidak, bukan masalah serius.”
“Apa hal terkonyol yang pernah kamu hadapi ketika kerja di sana?”
“Untuk aku pribadi, untungnya, aku belum pernah dapat kasus aneh-aneh tapi temanku,” dia memberi jeda untuk menarik napas panjang sekaligus memberi kesempatan pada sang adik untuk mempersiapkan diri terlebih dahulu. “Seniorku, Mbak Gania, pernah disewa untuk berpura-pura menjadi selingkuhan hanya untuk membuat seseorang cemburu.”
“Di mana keanehannya?”
“Yang menyewa dia perempuan, bukan laki-laki!” Kalimat lanjutan Utami masih memberi tanda tanya besar di wajah Rebecca. Wanita berambut pendek tersebut menunggu sang adik melanjutkan, “Penyewanya pasangan lesbian. Itulah kenapa aku bilang target kami orang, bukan spesifik laki-laki.”
Rebecca tersenyum kikuk, lalu meraih segelas jus jeruk di hadapannya untuk mengisi tenggorokan. Bukan sekadar karena dirinya haus, melainkan karena dia tak tahu harus berkomentar apa lagi. Maklum saja, bagi Rebecca yang hidupnya lurus-lurus saja, pilihan hidup Utami memang luar biasa tak masuk logika.
“Ya mau bagaimana lagi? Mencari kerja sangat susah di zaman sekarang,” kata Utami. “Kalaupun ada, gajinya tidak sebanding.”
“Jadi, kamu mengambil pekerjaan ini karena uang?”
“Bohong kalau tidak!” Utami malah tertawa, sangat renyah. “Namun, itu bukan satu-satunya alasanku memilih bekerja di sini. Lebih jauh, aku menyukai pekerjaan santai. Pun aku senang bisa bertemu berbagai macam orang setiap harinya, yang bisa memperluas relasi sekaligus mempermudah jalan hidupku. Kau tahu, bahkan bisa diterima bekerja di kantorku yang sekarang karena apa?”
“Karena klienmu menawarimu?”
“Lebih tepatnya, aku bertemu dengan bosku di pesta saat mendampingi klienku. Lalu, setelah ada banyak obrolan, dia menawariku bekerja di kantornya. Gajinya lumayan.”
“Apa dia tahu hubunganmu dengan kliennya?”
Utami menggeleng, tegas. “Tentu tidak. Kami dilarang membocorkan informasi apa pun soal klien, Kak. Semua ada di perjanjian kerja yang ditandatangani setiap talent dan klien. Harus melindungi satu sama lain.”
“Tapi, apa bosmu tidak curiga saat tahu kamu gonta-ganti pasangan?”
“Tahu.” Utami mengambil lap untuk mengusap tangannya yang basah oleh gelas minum yang mengembun. “Tapi yang namanya masih muda, bukankah sangat biasa menjajaki cinta? Kubilang saja pada bosku kalau aku dan klienku sudah lama putus. Mudah, kan?”
Mudah apanya?
“Kau benar-benar sudah tidak waras, Tami.” Rebecca kembali menggeleng-gelengkan kepalanya. Kali itu, sambil mencicit pelan. Mencoba memproses semua informasi yang diberikan sang adik setenang mungkin.
Yang alih-alih membikin Utami marah, wanita berambut hitam, panjang dan bergelombang tersebut malah tertawa keras-keras. Menertawakan kebingungan sang kakak seolah sedang meledek. “Memang. Aku memang sudah lama kehilangan kewarasan, Becca. Sama seperti Mama, aku juga suka hidup seperti ini. Jadi, tolong berhenti mengasihaniku.”
Tami dan Juna saling menatap satu sama lain. Mereka tentu tidak pernah menyangka jika Ruben akan senekad itu. Mengirimkan foto dirinya dan Asya kepada Nyonya Anggara? Apa yang sebenarnya diinginkan oleh pria itu? Apakah dia memang berniat membunuh sandiwara Tami dan Juna?"Mama kayaknya nggak bakal semudah itu percaya deh, Mas." Tami menyeka keringat dingin yang membasahi tubuhnya. "Bagaimanapun juga, setelah ini Mama pasti akan mencari tahu semuanya dengan jelas. Maksudku, siapa sih orang yang bakal dengan tegas mempercayai berita kayak begini?"Juna yang menyetir mobil akhirnya menghela napas panjang. "Kamu benar, Tam.""Terus, kita harus gimana, Mas?""Bagaimana kalau kita datangi saja dia?" "Kalau menurutku jangan." Tami menjawab dengan tegas. "Ruben yang sekarang bukan Ruben yang dulu aku kenal. Dia sudah sepenuhnya disetir oleh Gina.""Maksudmu?""Mas Jun," Tami menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu mungkin akan menganggap ini omong kosong tapi dia adalah pria yang bodoh. Ruben
"Bagaimana? Bajunya bagus, kan?" Tami menatap Viviane yang kini dibalut gaun putih pernikahan dengan kagum. Kulit putih dan badan yang tinggi jenjang itu seolah memang sengaja dirancang untuk seorang malaikat. Malaikat yang tentu saja wajar bila membuat Juna jatuh cinta. "Bagus banget, Ma." "Pilihan Mama memang nggak salah." Nyonya Anggara dengan bangga berdiri di samping Viviane. "Mama sengaja minta perancang busana ini untuk membuat gaun pernikahan kalian. Anjasmara pasti langsung kasmaran lihat kecantikan kamu, Vi." "Mama bisa saja." Viviane tertawa. Dia merangkul mertuanya. "Makasih ya Mama sudah mau menerimani aku cari gaun." "Iya, Nak." "Oh iya, Tam," Vivi menatap Tami dengan ekspresi dingin. "Kamu tolong ambilkan kain untuk seragam di depan ya. Yang warna biru." Tami mengangguk. Dia menuruti calon adik iparnya itu dengan sebaik mungkin. Sebenarnya, Tami tahu jika Vivi tak menyukainya. Barangkali Vivi sudah mengetahuinya. Soal kebohongannya. Namun, sejauh apa Vivi tahu, T
"Kamu kenapa sih pakai bilang begitu segala ke mereka?" Tami menerima segelas es krim dari tangan Paulino. Udara panas membakar keduanya, dari lantai dua sebuah toko es krim, kini duanya duduk berdua menyaksikan kota yang sibuk. Juna tersenyum lalu mendudukkan badannya di kursi tepat di seberang Tami. "Biar semakin meyakinkan, Tam. Kamu kan tahu sendiri kalau sekarang posisi kita makin terdesak. Mama kayaknya juga mulai curiga sama kita."Tami mengangguk. "Tapi nggak harus juga kan kamu memamerkan aku ke depan orang-orang dan ngaku aku istrimu?""Tapi, kan memang kamu istriku.""Istri sewaan!" ralat Tami. Juna diam sejenak tapi kemudian melanjutkan. "Kalau sendiri, bagaimana? Sudah mulai memikirkan mau buka laundry di mana?""Kan aku sudah bilang nggak usah.""Tami, kan aku sudah bilang kalau aku mau bantuin kamu ...." Juna kembali menekankan ucapannya. "Anggap saja ini bagian dari kewajibanku sebagai kompensasi untukmu.""Harus berapa kali aku bilang nggak usah?""Harus berapa kali
"Kami langsung berangkat ya, Ma!" Juna mencium pipi Nyonya Anggara, kemudian menggandeng tangan Tami. Keduanya keluar dari rumah, menaiki mobil dan hanya ditatap dengan senyuman tipis di wajah wanita tua itu.Nyonya Anggara sejujurnya tidak ingin berprasangka buruk pada anak dan menantunya, hanya saja dia masih heran dengan sang menantu sebab Tami terlalu banyak menyimpan rahasia, seolah ingin menyembunyikan segalanya darinya. Padahal jelas Nyonya Anggara penasaran. Kenapa? Ya, kenapa dia seolah tidak pernah mengenali keluarga menantunya sendiri. Bahkan paman dan bibi Tami, tidak dia kenali sama sekali.Lalu, dikeluarkannya ponsel dari dalam saku. Dia hendak menghubungi Viviane tapi mobil perempuan itu telanjur datang lebih dahulu."Ma? Tami mana?" tanya Viviane. Nyonya Anggara menjawab, "Ikut Juna ke acara peluncuran buku.""Di toko buku Gramedia?""Ya.""Ya ampun!" Viviane menghela napas panjang. "Terus gimana? Mama sudah bicara sama Tami?"Nyonya Anggara mengangguk. "Tapi, katanya
“Kamu serius, Mas?”Mata Tami membelalak saat menerima uang tersebut. Lebih tepatnya, tidak percaya denga napa yang dia lihat. Juna mengangguk. “Ya. Tentu saja, Tami.”“Astaga!” Tami menggeleng tegas, lalu mendorong tangan Juna dan uang itu menjauhinya. “Aku nggak bisa menerima uang ini.”“Kenapa?”“Mas
Selepas makan malam, Tami memilih untuk menemani Juna di kamar pribadinya, sebab tak ingin membuat Nyonya Anggara curiga. Tidak banyak yang bisa dilakukan. Tami hanya duduk dan membaca buku-buku koleksi suaminya, sementara Juna mengerjakan tugasnya mengetik di meja kerja.Suasana di sana sangat cerah
"Makan dulu," kata Juna sambil meletakkan piring berisi nasi goreng buatan ibunya ke samping ranjang Tami. "Udah nggak usah terlalu dipikirin. Nanti rumah sakit."Tami mengalihkan wajahnya dari Juna. "Enak banget kalau ngomong. Belum tahu ya rasanya disakitin, dikhianatin sampai segitunya sama pacara
Keesokan harinya kami berangkat ke rumah lamanya, tidak lupa dia membeli beberapa barang dari minimarket bagi oleh-oleh untuk sang kekasih. Semua ini dia lakukan juga sebagai permintaan maaf karena telah menyakiti perasaan Ruben, serta ingin dia kembangkan bisnis laundry yang selama ini dikembangkan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews