“Ssstt ..! Siapa?” bisikku mencubit paha Shinta.Berganti Shinta yang meringis. “Bos baru yang bakal gantiin Pak Anwar,” jawabnya dengan berbisik pula.“Oh, ini yang katanya Camat muda itu. Mukanya jutek, Shin. Alamat kita nggak bisa bebas ngerumpi lagi nanti.”"Ssstt ...! Diem dulu, dia lihat ke sini." Shinta mencubit lenganku kuat.“Aaaawwwh!”“Kamu, yang baru datang. Ada apa? Ada masalah?” tanya Camat jutek menatapku tajam, serasa ingin menguliti.“Hah? Eh, nggak, Mas, eh, Pak. Aduh, maaf ....”Kutundukkan mukaku dalam, merutuki lidahku yang berubah gagap saat netra coklatnya mengunciku.“Setelah ini, kamu ikut saya ke ruangan Pak Anwar,” titahnya.Duh! Mati aku. Tidak lucu rasanya kalau kesan pertama dari bos sudah jelek seperti ini.“Baik, Pak.”Lima menit kemudian perkumpulan bubar, masing-masing mendapatkan nasi kotak yang ternyata telah disiapkan oleh Camat Jutek tersebut.
Última atualização : 2026-01-28 Ler mais