LOGINDara, seorang istri dan ibu yang juga berkarier. Bekerja menjadi alasannya dalam meminta sang ibu mertua mengasuh anak yang usianya belum genap 2 tahun. Tidak hanya itu, pekerjaan rumah juga dibebankan pada ibu suaminya tersebut. Siapa sangka ada alasan di balik sikap semena-menanya itu. Siapa sangka juga, suami yang selama ini selalu berpihak padanya, tiba-tiba menunjukkan sisi berbeda.
View More“Madumu, Sarah.” Hilma merebahkan punggungnya pada ranjangku, kakinya yang masih tergantung bergoyang-goyang. “Mati kutu,” jawabku terkekeh. “Sudah kuduga, dia pasti nggak nyangka,” balas Hilma menatap lurus langit-langit kamar. “Pasti. Harusnya kamu datang lebih cepat, biar bisa nyaksiin gimana pucatnya muka dia.” Hilma terkakak, ia bangkit dari berbaring, lalu duduk. “Aku nggak nyangka Kakak sekuat ini, sumpah!” “Kita nggak pernah tahu kalau kita kuat, Hil, sebelum kita melewatinya. Setelah semua selesai, barulah kita sadari bahwa kita itu hebat.” Mataku mengecil seiring bibir yang kutarik tersenyum. Hilma mengangguk. “Kakak benar. Eh, itu tenda di luar buat apa?” “Syukuran tujuh bulanan Sarah,” jawabku datar. “Gi*a! Mereka nggak ngerasa malu apa sama orang-oang? Ampun, deh!” gerutu Hilma masam. “Ibu yang mau. Mas Nasrul bisa apa? Apalagi Kakak. Pa
Matahari kian merangkak naik ketika Hilma mengabari bahwa rombongannya sudah sampai di perbatasan desa. Tanpa memperdulikan panasnya ubun-ubun karena sengatan panas yang mendekati tegak lurus, kupacu motorku dengan cepat guna menjemput mereka. Bisa saja aku mengarahkan mereka hingga rumah, tapi kurasa mereka pasti akan lebih senang jika aku sendiri yang langsung menjemput.Dari jauh kulihat sebuah mini bus berhenti tepat di tugu batas, mereka nampak duduk selonjoran di bawah pohon mangga milik warga yang terletak di sisi jalan.“Kak Dara ...!” pekik Hilma kala melihatku semakin dekat.Aku tertawa melihat tingkahnya, dia memang tidak pernah berubah, selalu manja jika denganku. Kuputar kunci motor, mematikan deru mesinnya.“Lama, ya? Maaf tadi cari-cari kunci dulu.” Aku turun dari motor, menyambut uluran tangan Hilma yang sudah berjingkrak kecil sedari melihatku.“Nggak, kok. Kak, kenalin temen-temanku. Kami semua tinggal dalam satu komplek
punya Allah. Lebih kuat dari kalian semua. Aku bertahan agar kamu nggak akan pernah bisa menang ngelawan aku. Selamanya kamu hanya akan menjadi istri di mata agama, bukan istri sah secara negara. Kalaupun anak itu memang berasal dari benih Mas Nasrul, hingga menua ia tak akan diakui administrasi sebagai anak Mas Nasrul, ia hanya akan jadi anakmu saja selamanya. Pun jika janin itu kelak ternyata bukan milik Mas Nasrul, aku masih setia untuk menyaksikan kehancuran kamu karena didepak untuk kedua kalinya dari hidup suamiku yang kamu paksa menjadi suamimu. Itu kayaknya sudah cukup untuk membuat hidupmu tak lagi sempurna, dan aku akan sangat bahagia.” “Bren**ek! Ternyata kamu masih belum mau menyerah, kamu akan semakin sakit hati nanti kalau Nasrul benar-benar berhasil aku taklukkan lagi.” Tulang selangkanya yang kecil itu kini semakin terlihat kala seluruh urat dan ototnya menegang menahan amarah. “Silahkan saja, aku sudah nggak perduli. Aku di sini hanya i
Waktu yang terus bergulir membawa hari berganti dan berlalu dengan cepat. Tak terasa kehamilan Sarah sudah menginjak usia tujuh bulan, dan lusa kudengar Ibu ngotot ingin melakukan acara syukuran untuk itu. Selama itu pula hubunganku dengan Mas Nasrul semakin terasa renggang, hambar. Kali ini harus kuakui jika aku bertahan karena Nada. Akhir-akhir ini Nada sangat dekat dengan Papanya, sehingga setiap kali ingin tidur ia mecari sang Papa. Semakin membuatku muak ketika Sarah kerap mengajari Nada memanggil adik pada janin yang ada dalam kandungannya. Aku bisa apa? Tak ada, hanya membiarkan saja. Toh, Papa dan Utinya nampak sangat bahagia. Kini, Mas Nasrul mulai bisa menerima Sarah, sepertinya. Sakit? Jangan ditanya. Sering kali air mataku bercucuran tiada henti saat pikiranku fokus pada mereka, terlebih jika Mas Nasrul mengikuti kemauan Sarah untuk tidur di rumah belakang."Ra, Mbak mau ngomong," ajak Mbak Nira sembari mengelus perutnya yang tinggal menunggu hari kelahiran.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.