Mengabaikan makhkuk tak punya malu itu, aku menghampiri Bang Roy dan Mbak Nira. Menyalami mereka."Kapan datang, Bang, Mbak?" tanyaku berbasa-basi."Barusan kok, Ra. Sarah telepon, katanya Ibu sakit," jawab Mbak Nira. "Tumben kamu nggak kasih tahu Mbak kalau Ibu sakit?" Imbuhnya lagi.Ck! Sarah ini, memang ulat bulu ternyata. Gatel. "Sorry, Mbak. Aku nggak tahu Ibu sakit, Ibu nggak bilang ke aku. Justru Ibu bilangnya ke Sarah, ya sudah." Senyum masam kupersembahkan pada iparku itu."Mbak Wati dan Mbak Marni juga udah kamu pecat ya, Ra? Kualat kamu sengaja ngandelin Ibu kayak dulu." kata Mbak Nira lagi, tatapannya tajam layaknya menginterogasi."Kata siapa? Sarah lagi?" tanyaku balik. Mengangkat sebelah alis lebatku."Iya." Tawa miris akhirnya kulepaskan. Kugelengkan kepalaku sebentar, lalu mentap tajam pada iparku yang tengah hamil tersebut."Apa setiap aduan Sarah menjadi kebenaran di mata Mbak? Apa
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-01-08 อ่านเพิ่มเติม