Dua tahun lalu. Rumah Keluarga Ex Chipto, Jakarta Selatan.Hujan deras mengguyur Jakarta malam itu. Petir menyambar-nyambar, seolah alam ikut menangis melihat drama yang sedang berlangsung di dalam rumah megah bergaya Eropa itu.Shinta Ex Chipto, gadis berusia 17 tahun dengan rambut panjang hitam tergerai, berlutut di ruang tengah. Wajahnya basah—bukan karena hujan, tapi karena air mata yang tak berhenti mengalir sejak dua jam lalu. Gaun tidur putihnya kusut, matanya sembab, bibirnya gemetar."Ayah... tolong jangan lakukan ini. Aku masih muda. Aku masih kuliah. Aku belum siap menikah!" isaknya.Anugrah Ex Chipto, pria berusia 50 tahun dengan rambut mulai memutih di pelipis, duduk di sofa utama. Wajahnya tegang, tangannya menggenggam erat segelas wiski. Di sampingnya, ibunya, Ratna, hanya bisa menangis pelan—tak berdaya melawan keputusan suaminya."Shinta, Ayah tidak punya pilihan," suara Anugrah berat, penuh beban. "Perusahaan Ayah bangkrut. Utang Ayah di bank sudah menumpuk. Kalau ti
Read more