Tiga minggu kemudian.Hidup berjalan dalam ritme baru yang sederhana.Setiap pukul 5 pagi, Alex bangun, mencium kening Shinta dan Laut, lalu berangkat ke proyek. Pukul 5 sore, ia pulang dengan tubuh linu, bau keringat dan semen, tapi selalu membawa senyum.Shinta belajar menguasai kursi rodanya. Belok tajam di dapur sempit, menjemur pakaian dengan jepitan di tali rendah yang sengaja dipasang Alex, bahkan memasak dengan panci di kompor kecil. Laut tumbuh sehat, pipinya makin tembem, matanya makin jernih.Mereka hidup pas-pasan. Tapi mereka hidup.---Sabtu pagi. Pasar tradisional.Alex mendorong kursi roda Shinta menyusuri lorong pasar yang becek. Laut tertidur pulas di gendongan depan Shinta, tidak terusik oleh hiruk-pikuk sekitar."Sayang, mau beli sayur apa?" tanya Alex."Ikan, Alex. Laut butuh ASI berkualitas, aku harus makan ikan.""Ikan bawal atau kembung?""Kembung aja, lebih murah."Mereka berhenti di lapak ikan. Alex menawar dengan semangat, gaya premannya masih kental tapi ka
Read more