Mag-log inShinta Ex Chipto, 17 tahun, putri kandung dari Anugrah Ex Chipto. Seorang gadis yang dipaksa menikah dengan pria yang tidak dia kenal, bahkan usianya 13 tahun lebih tua darinya. Jelasnya menikah dengan Om-om, namanya Alex Chandra Syailendra, yang merupakan seorang Mafia kejam dan memiliki perusahaan ternama di Indonesia. Shinta dan Alex. Pertemuan mereka membangun kisah rumit mereka lagi dengan berbagai perjuangan untuk mendapatkan semua keinginan mereka untuk bersatu.
view moreDetik demi detik berlalu mengukir kepingan kejadian pada hari ini. Hujan sudah mereda sedari tadi. Tepatnya pukul lima sore. Seorang gadis yang bernama lengkap Shinta Ex Chipto, biasa dipanggil Tata oleh teman-teman dekatnya. Dia bisa duduk di bangku mahasiswa karena adanya peningkatan kualitas pendidikannya yang terlalu jenius, sehingga dia langsung lulus padahal belum waktunya dia lulus sekolah. Dia langsung diangkat dan duduk di bangku SMA tanpa duduk di bangku SMP dulu. Itulah karena kepintaran yang dimilikinya, sudah melebihi orang-orang pintar yang ada di DUNIA.
Shinta yang masih duduk di bangku mahasiswa tingkat dua, dengan jurusan kedokteran, mengharuskan dirinya untuk belajar lebih giat lagi, supaya jurusan yang dia ambil tidak melenceng pekerjaannya saat dia melamar pekerjaan nanti.Termasuk kedua orangtuanya yang sangat mencintai gadis unik tersebut. Dengan sikap ramah dan tamah kepada semua orang dan juga kecerdasan yang dimilikinya, membuat gadis kecil nan imut itu disukai banyak orang.Shinta tetap berdiam di dalam mobilnya. Hanya memandangi sebuah rumah yang berpagar putih. Pikirannya kosong ntah kemana. Tidak ada yang ingin dia lakukan, atau apa saja yang akan menjadi kesibukannya hari ini.Bosan. Dia sangat bosan untuk hari ini. Semua sangat buruk untuk dipandang oleh matanya sendiri.Tadi siang sepulang kuliah, baru saja dia berhenti di sini, sekarang dia berhenti di sini lagi. Kepalanya masih pusing, ajaibnya saat Shinta mengendarai mobilnya, dia dalam keadaan selamat hingga sampai kemari.Sudah dua jam Shinta hanya menunggu gadis itu. Menunggu kepulangannya yang ntah sampai kapan harus dia tunggu. Sahabatnya paling terbodoh di muka bumi yaitu Sifa. Sahabat lama Shinta mulai dari kecil. Berkat Shinta, mereka bisa kuliah bersama di universitas ternama di Indonesia. Padahal, dirinya sangat bodoh.Lagian, Shinta juga tidak mengerti kenapa harus menunggunya? Dan kenapa dia harus berteman dengan gadis seperti Sifa. Tentu bukan hal yang sepadan untuk berteman dengannya, ditambah dia yang terkenal kepintarannya di Indonesia dan di luar negeri pun dia layak terpakai. Dia adalah salah satu mahasiswa yang dijadikan bahan tanding oleh dosen-dosennya, yang ajaibnya, gadis itu selalu menang dalam lomba.Walaupun dia selalu berhasil dalam lomba, masih banyak teman-temannya yang iri akan kepintarannya. Tidak tahu kenapa, tapi dia tidak ambil pusing sama sekali.Trisno. Kenapa Shinta masih mengingat pria itu? Kenapa Shinta masih mengejarnya setelah sukses dia toreh luka di hati pria itu? Menyesalkah?Melihat sahabatnya tidak muncul juga, dia tidak mau menunggu lama lagi. Dia melajukan mobilnya untuk menjemput Trisno. Tidak peduli Trisno ada di mana, yang penting cari saja. Shinta memutar balik mobilnya keluar komplek. Dia menyusuri jalanan yang sepi, temaram, nan suram.Trisno yang tiba-tiba menampakkan wajah pertama kali pada hari ini, di mal yang tadi pagi harus dia kunjungi karena sedang ada presentasi di kelas. Besok dia akan berbalik lagi ke Bali. Sebenarnya bukan hanya urusan persentasi saja dia mau ke sana. Dia hanya butuh ketenangan hati setelah melakukan perjalanan jauh. Shinta sengaja ke Bali untuk menemui seorang pria yang bernama Trisno. Sebelum pria itu kembali ke London, tempat asalnya. Maksud dan tujuannya masih rahasia.Ingatan Shinta yang buram menyulitkannya. Tapi semakin Shinta memperjelas ingatan itu, kepalanya malah berdenyut. Ada satu cara agar Shinta ingat semuanya. Cara orang pesakitan yang depresi. Tentu saja orang tua Shinta melarang itu.Sinta menyetir mobil sambil membuka ponselnya. Menekan tombol dial pada satu nama yang tertera di kontaknya."Mama. Aku sudah bertemu pria yang bernama Trisno. Aku sedikit ingat dia. Iya, aku tahu. Aku akan mengingatnya, Ma. Tidak apa-apa. Jangan khawatir. Aku sudah ke makam adik kok."Shinta terdiam sebentar. "Iya, Ma. Semua urusannya sudah beres. Shinta besok pulang. Tapi Shinta harus urus yang ini dulu. Iya. Iya. Makasih Ma..."Panggilan tertutup. Shinta memantapkan batinnya. Dia harus menemui adiknya satu kali lagi, setelah itu dia akan ke Bali. Tidak ada alasan untuknya melupakan. Kalaupun dia terus bertahan dalam kehancuran, berarti Shinta adalah seorang gadis yang tidak mudah melupakan seseorang di masa lalunya.Shinta melihat sebuah mobil yang dia tahu kalau mobil itu adalah mobil pria bernama Trisno. Pria yang dia bela-belain untuk mencarinya. Shinta sempat melihatnya dari kejauhan saat keluar dari kampus, memperhatikan Trisno yang masuk ke mobil itu.Ini adalah kesempatan untuknya. Berarti dia tidak harus ke Bali. Pria itu sudah ada di depan matanya, tidak perlu lagi jauh-jauh ke tempat dimana pria itu tinggal. Tadinya mau mengikuti Trisno dari belakang, tapi Shinta mengurungkan niatnya lantas beralih pergi ke makam.Dia sudah tahu kalau pria itu masih berada di Bandung, tempat yang sama mereka tinggal. Dia sekarang perlu memikirkan untuk yang selanjutnya. Perintah mamanya yang menyuruhnya untuk ke makam adiknya. Dia sudah sangat rindu dengan adiknya yang sudah dua tahun pergi selamanya dari sisi mereka.Shinta memacu kecepatannya agar bisa menyalip mobil itu. Untunglah suasana jalanan sepi dan tidak macet. Shinta menginjak pedal gas, menyalip dari arah kanan lantas mengehentikan mobilnya beberapa meter di depan mobil Trisno.Trisno yang melihat ada mobil yang mencegatnya, hanya bisa menginjak rem kuat-kuat agar mobil mereka tidak bertabrakan. Persetan, orang gila mana yang berhenti tiba-tiba di depan mobil yang sedang berjalan! Geram Trisno.Shinta menatap mobil yang berhenti mendadak di depannya. Dia kenal mobil itu. Trisno keluar setelah mobil berhenti, Shinta ikut keluar. Shinta sudah keluar menunggu dua orang itu. Trisno berhadapan dengan Shinta, sedangkan Shinta tidak mengerti apa yang terjadi."Nyari mati Lo?" Sengit Trisno.Meskipun dia tahu gadis itu siapa, tapi dia tidak bisa tenang-tenang saja setelah gadis itu telah mengganggu perjalanannya.Shinta hanya menatapnya datar, matanya beralih menatap gadis yang berdiri di samping Trisno.Ada rasa cemburu yang berdebar dalam hatinya. Bagaimana dia bisa menahan rasa cemburunya di saat hatinya terbakar karena gadis yang sekarang berdiri di sampingnya.Apa gadis ini pacar barunya? Apa dia sudah melupakan aku? Secepat itukah masa-masa indah yang telah kami jalani dia lupakan tanpa rasa bersalah? Mengapa hanya aku yang terluka dan merasa kehilangan saat kami putus?"Ayok pulang, Tris." Tanpa berpikir panjang, gadis itu memegang tangan Trisno. Dia tahu kalau Shinta adalah mantan kekasih pacarnya.Shinta cukup tersentak dengan perlakuan gadis tersebut. Setelah sekian lama mereka putus, akhirnya mereka bertemu kembali, tapi tidak kembali seperti dulu lagi. Tangan yang dia genggam dulunya, kini telah digenggam oleh gadis lain."He apa-apaan lo! Jangan sentuh gue!" Trisno melepas paksa. Menyembunyikan tubuh gadis itu dari balik tubuh jangkung miliknya. Meskipun mereka sudah putus, tapi tidak menutup kemungkinan, pria itu sudah menghapus semua kenangan terindah yang pernah mereka lalui bersama.Gadis itu mendengus kesal. Halangan besar satu ini benar-benar merepotkannya. Apa yang menjadi kesalahannya, sehingga dia harus disingkirkan dari hadapan mantan kekasih pacarnya itu?"Gue hanya tidak suka jika di antara kalian berdua masih ada perasaan! Apa lo sudah lupa bahwasannya gue adalah kekasih lo sendiri karena gadis ini ada di hadapan lo, Tris?" Sosornya."Gue tidak ada perasaan lagi padanya. Gue hanya ingin marah padanya. Pada gadis tolol seperti dirinya yang sudah berani menghalangi jalan kita. Apa dia pikir ini jalan hanya miliknya seorang?" tukas Trisno tenang.Shinta mengusap wajahnya sebentar, dia tertawa, "Marah? Marah saja! Gue sama sekali tidak tertarik untuk mendengar semua omong kosongmu!""Gadis tolol!" Umpat pria itu lagi.Shinta diam. Mencari kata balasan yang pantas untuk membungkam Trisno. "Maaf, gue emang tolol, tolol karena sudah pernah mencintai pria brengsek seperti lo. Gue permisi!" Pamit gadis itu setelah mengeluarkan kata-kata pedas dari mulutnya. Dia berharap kata-katanya bisa membuat pria itu sadar dan tahu apa kesalahannya."Dasar gadis tolol!" Pekik pria itu. Dia terus menatap mobil yang dibawa oleh Shinta yang melaju cepat meninggalkan mereka berdua di tengah jalan itu. Hatinya memanas saat gadis itu kini berani lancang bicara di hadapannya. Atas dasar apa dan kekuatan dari mana, dia tidak tahu. Tapi, itu sangat menusuk perasaannya, hingga kata-kata pedas itu selalu berdengung lama di telinganya."Hei! Lo yang tolol! Lo kira gue takut sama lo? Kita lihat saja seberapa kuat lo melawan gue.! Gue diam tadi bukan berarti seenak jidat lo injak-injak harga diri gue. Dasar tolol!" Umpat gadis itu berbalik.Soal melawan musuh dia tidak pernah kalah. Jika pun dia sedang mengalami sakit di kepala, tidak menutup kemungkinan bahwa gadis itu akan lemah di hadapan pria itu. Apalagi, mengenai hal bahwa pria itu adalah mantan kekasihnya yang baru saja mereka putus sudah memiliki pacar yang lain.Dia tidak akan terima begitu saja. Selama hidupnya, tidak pernah ada penolakan. Selagi dia mampu melakukannya, apapun yang dia kerjakan akan berhasil."Dasar tolol! Tolol! Tolol! Tolol!" Umpat gadis itu sangat keras. Dia sangat marah dengan sikap Trisno. Bisa saja dia menerima kalau pria itu sudah memiliki seorang pacar. Tapi tidak berarti dia bisa mengatakan Siintha tolol di depan pacarnya. Ibaratnya, sama saja dia telah membangkitkan harimau yang melekat di tubuh gadis itu.Enam bulan kemudian. Rumah Stela dan Reno.Stela kini sedang hamil tua. Perutnya sudah besar, usia kehamilan sudah memasuki bulan kedelapan. Reno sangat protektif. Ia tidak mengizinkan Stela melakukan pekerjaan berat. Setiap pagi, ia menyiapkan sarapan sebelum berangkat kerja. Setiap sore, ia pulang lebih awal untuk menemani Stela. Setiap malam, ia memijat kaki Stela yang mulai bengkak.Glensi yang kini berusia 12 tahun, sudah menjadi remaja yang bertanggung jawab. Ia membantu ibu tirinya—begitu ia menyebut Reno, meskipun Reno bukan ayah kandungnya. Tapi Glensi sayang pada Reno. Reno tidak pernah membedakan. Ia memperlakukan Glensi seperti anak sendiri.“Glensi, tolong belikan gula di warung, ya,” pinta Stela suatu sore.“Iya, Bu. Glensi beli juga telur, ya. Stok habis.”“Iya, Nak. Terima kasih.”Glensi berlari ke warung. Di perjalanan, ia bertemu Laut yang baru pulang sekolah.“Laut! Ikut belanja yuk!” ajak Glensi.“Belanja apa?”“Gula sama telur. Buat Ibu.”Laut mengangguk. Mereka b
Tiga tahun kemudian. Rumah keluarga Alex.Laut kini berusia tiga belas tahun. Ia sudah duduk di bangku SMP kelas satu. Tubuhnya mulai meninggi, suaranya mulai berubah, dan ia mulai menunjukkan minat pada dunia teknologi dan desain. Nilai-nilainya bagus, terutama matematika dan menggambar teknik. Cita-citanya sebagai arsitek masih kuat, bahkan ia sudah mulai membuat sketsa rumah impian untuk keluarganya.Bintang berusia sembilan tahun. Gadis kecil itu kini duduk di kelas tiga SD. Rambut ikalnya panjang sebahu, matanya bulat dan bersinar, kulitnya putih bersih. Ia sangat populer di sekolah karena suaranya yang merdu. Setiap acara sekolah, ia selalu diminta menjadi penyanyi solo. Cita-citanya adalah menjadi dokter, seperti bundanya.Shinta kini sudah berusia 32 tahun. Wajahnya masih tampak muda, hampir tidak berubah sejak pertama kali menikah. Praktik dokter kecilnya di rumah kini sudah berkembang menjadi klinik sederhana dengan dua ruang periksa dan satu ruang rawat inap kecil. Ia memil
Satu tahun kemudian. Rumah keluarga Alex.Bintang kini sudah berusia satu tahun. Bayi mungil yang dulu hanya bisa menangis dan tidur, kini sudah bisa merangkak, duduk sendiri, dan mulai belajar berdiri dengan berpegangan pada furnitur. Rambut hitamnya yang dulu tipis kini tumbuh tebal dan ikal, persis seperti rambut Alex. Matanya bulat dan hitam pekat, seperti milik Shinta. Kulitnya putih bersih, kombinasi sempurna dari kedua orang tuanya.Laut yang kini berusia lima tahun, sudah masuk TK B. Ia sangat bangga menjadi kakak. Setiap pulang sekolah, hal pertama yang ia lakukan adalah mencari Bintang.“Adek Bintang! Kakak pulang!” teriak Laut sambil melepas sepatunya di teras.Bintang yang sedang merangkak di ruang keluarga, menoleh. Wajahnya langsung berbinar. “Kak... Kak...” ucapnya terbata-bata.Laut berlari menghampiri, lalu mencium pipi Bintang. “Kakak kangen Adek! Adek sehat? Adek makan?”Shinta yang sedang memasak di dapur, tersenyum mendengar itu. “Laut, cuci tangan dulu! Jangan la
Tiga bulan kemudian. Rumah baru.Waktu berlalu seperti air mengalir. Tak terasa, perut Shinta semakin membuncit. Usia kehamilannya sudah memasuki bulan kesembilan. Dokter Sari memprediksi bahwa persalinan akan terjadi dalam satu hingga dua minggu ke depan. Alex menjadi sangat protektif. Ia hampir tidak mengizinkan Shinta melakukan pekerjaan rumah tangga. Setiap pagi, ia bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan. Setiap malam, ia memijat kaki Shinta yang mulai bengkak.“Kamu istirahat saja. Aku yang kerjakan semuanya,” kata Alex setiap kali Shinta mencoba membantu.“Alex, aku tidak sakit. Aku hanya hamil. Aku masih bisa memasak.”“Tidak bisa. Dokter bilang kamu harus banyak istirahat.”Shinta menghela napas, tapi hatinu hangat. Alex memang berlebihan, tapi itu karena ia peduli. Laut juga ikut-ikutan. Setiap pulang sekolah, ia langsung lari ke kamar Shinta, menempelkan telinganya di perut bundanya.“Bunda, adiknya ngomong nggak?”“Belum, Sayang. Adiknya masih di dalam perut. Nanti kala
Dua tahun lalu. Rumah Keluarga Ex Chipto, Jakarta Selatan.Hujan deras mengguyur Jakarta malam itu. Petir menyambar-nyambar, seolah alam ikut menangis melihat drama yang sedang berlangsung di dalam rumah megah bergaya Eropa itu.Shinta Ex Chipto, gadis berusia 17 tahun dengan rambut panjang hitam t
Sembilan bulan kemudian. 2025.Rumah yang dulu kontrakan sempit kini telah menjadi rumah permanen dua lantai dengan halaman yang asri. Bukan rumah mewah, tapi cukup. Cukup untuk keluarga kecil yang terus bertumbuh. Alex membangun rumah ini dengan tangan sendiri—dibantu Victor, Micheal, dan beberapa
Dua hari kemudian. Sebuah restoran mewah di kawasan Pantai Indah Kapuk.Stela duduk di kursi VIP, menghadap jendela besar yang memperlihatkan pemandangan laut. Gaun hitam sederhana tapi elegan. Riasan tipis. Di dalam tas Chanel-nya, tersembunyi sebuah perekam suara kecil—pemberian Shinta."Jangan t
Tiga minggu kemudian.Hidup berjalan dalam ritme baru yang sederhana.Setiap pukul 5 pagi, Alex bangun, mencium kening Shinta dan Laut, lalu berangkat ke proyek. Pukul 5 sore, ia pulang dengan tubuh linu, bau keringat dan semen, tapi selalu membawa senyum.Shinta belajar menguasai kursi rodanya. Be
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu