Aku larut, dalam terpaan angin sore dengan langit jingga. Mataku jatuh ke dalam sana, awan kapas yang tersapu mulai membentuk gambar abstrak. Suara itu berdengung, tiga orang saling melempar kata demi kata, mengobrol kecil, berdiri di dekat pintu mobil.Hingga ....“Hanna,” aku menatap orang yang menyebut namaku lembut. “Apa yang kamu pikirkan?”“Ah, tidak. Hanya melihat langit.” Ujarku mengusap belakang leher tertangkap mulai terbawa lamunan.Karena matahari hampir terbenam, angin yang datang terasa lebih sejuk daripada tadi siang. Hawanya tidak sampai membuatmu kedinginan, namun setidaknya bisa mendatangkan perasaan aneh yang tidak dapat kujelaskan.“Terimakasih, sudah menjaga Risa.” Setelah memastikan istrinya duduk nyaman di dalam mobil. Farhan kembali kepada kami.“Ya, tidak masalah. Aku harap kamu bisa memastikan dia baik-baik saja setelah ini.” Suara Alex terdengar tenang, namun matanya terasa mengancam. Lelaki itu, menekan setiap setiap kata pada kalimat, memastikan Farhan men
Last Updated : 2026-01-25 Read more