Malam itu, setelah kami pulang dari rumah sakit, suasana di rumah terasa berbeda. Ada kelegaan yang mengapung di udara, seperti beban berat yang selama ini kami pikul mulai terangkat satu per satu.Tejo duduk di tepi kasur kami dengan wajah yang masih terlihat lelah. Aku duduk di sampingnya, menggenggam tangannya erat."Mas, hari ini sangat melelahkan ya," kataku pelan.Tejo mengangguk. "Iya, Dek. Tapi Mas senang, kamu sudah mau menceritakan semuanya padaku."Aku menunduk. "Maaf, Mas. Aku seharusnya menceritakannya sejak dulu."Tejo meraih daguku dan menatap mataku. "Tidak apa-apa, Dek. Yang penting sekarang kamu sudah jujur padaku."Aku tersenyum tipis. Ada kehangatan di matanya yang membuatku merasa aman. Seperti tidak ada yang perlu aku takutkan lagi."Mas," panggilku pelan. "Aku ingin bertanya sesuatu.""Tanyalah, Dek," jawabnya."Mas benar-benar tidak marah dengan masa laluku?" tanyaku. "Mas benar-benar tidak merasa jijik?"Tejo menghela napas panjang. "Dek, Mas mencintaimu. Buka
Read more