Hujan turun tipis di pemakaman. Tidak deras, tidak pula benar-benar reda. Seperti duka yang menggantung di dada semua orang. Payung-payung hitam berjejer, langkah kaki tertahan lumpur, dan doa-doa mengalir pelan dari bibir para pelayat. Pak Ahmad dimakamkan dengan cara paling sederhana, tapi dihadiri begitu banyak orang. Tetangga. Jamaah. Santri lama. Warga yang pernah ditolongnya diam-diam. Semua datang, sebagian dengan mata sembap, sebagian dengan cerita baik tentang almarhum yang mereka simpan rapat-rapat. Suci berdiri kaku di sisi liang lahat. Wajahnya pucat, matanya sembab, tapi air matanya seperti sudah habis. Fariz menggenggam tangannya erat, seolah itu satu-satunya cara agar istrinya tetap berdiri. “Bapak orang baik,” bisik seorang ibu pada Suci. Suci hanya mengangguk, bibirnya bergetar. Tanah ditimbun. Doa ditutup. Dan untuk pertama kalinya, Suci benar-benar menyadari, rumah orang tuanya tak lagi utuh. *** Malam harinya, rumah orang tua Suci ramai. Keluarga Fariz
Dernière mise à jour : 2026-01-12 Read More