LOGINHujan turun tipis di pemakaman. Tidak deras, tidak pula benar-benar reda. Seperti duka yang menggantung di dada semua orang. Payung-payung hitam berjejer, langkah kaki tertahan lumpur, dan doa-doa mengalir pelan dari bibir para pelayat. Pak Ahmad dimakamkan dengan cara paling sederhana, tapi dihadiri begitu banyak orang. Tetangga. Jamaah. Santri lama. Warga yang pernah ditolongnya diam-diam. Semua datang, sebagian dengan mata sembap, sebagian dengan cerita baik tentang almarhum yang mereka simpan rapat-rapat. Suci berdiri kaku di sisi liang lahat. Wajahnya pucat, matanya sembab, tapi air matanya seperti sudah habis. Fariz menggenggam tangannya erat, seolah itu satu-satunya cara agar istrinya tetap berdiri. “Bapak orang baik,” bisik seorang ibu pada Suci. Suci hanya mengangguk, bibirnya bergetar. Tanah ditimbun. Doa ditutup. Dan untuk pertama kalinya, Suci benar-benar menyadari, rumah orang tuanya tak lagi utuh. *** Malam harinya, rumah orang tua Suci ramai. Keluarga Fariz
“Meidei, meidei!”Suara Fariz menggema di HT kecil yang ia jepit di jaket riding-nya. Angin pegunungan menusuk sampai ke tulang, tapi gaya sok gagahnya tetap dipertahankan. Motor sewaan yang ia pakai meraung-raung kecil, seolah ikut protes kenapa harus dipaksa nanjak.Di ujung sana, suara Bobby terdengar santai. Terlalu santai untuk ukuran orang yang barusan diteriaki meidei.“Situasi aman terkendali,” jawab Bobby. “Lu kenapa, Riz? Baru jalan dua jam udah drama.”Fariz mendecih. “Gue cuma ngetes HT. Jangan parno.”Padahal tengkuknya sudah dingin, kepala mulai berat. Tapi gengsi lelaki beristri itu lebih besar daripada sinyal tubuhnya sendiri.Rombongan touring mereka akhirnya berkumpul di sebuah rest area kecil. Bobby, Sherly, dan dua teman lain tampak menikmati kopi panas sambil tertawa-tawa. Fariz ikut tertawa—tertawa yang dipaksakan.Awalnya semua terasa menyenangkan.Mereka singgah di spot-spot indah, sawah bertingkat, jalanan berliku dengan kabut tipis. Fariz bahkan sempat minta
"Assalamualaikum.""Waalaikumsallam."Faqih menyambut kedua sepupunya yang baru saja datang berkunjung. Dengan kaki yang tak lagi pincang, dia menuntun Akmal dan Hafiz masuk, lalu menjamu mereka seadanya karena kebetulan Suci memang ada jadwal mengisi materi akhir pekan ini."Om Fariz ke mana, Qih?" tanya Hafiz. Pandangannya menyapu sekeliling rumah sederhana milik orang tua Suci yang hampir sebulan keluarga Omnya tempati."Ada, tuh di kamar. Nggak tahu dah si Bapak ngapain? Begitu Ibuk pergi dia nggak keluar-keluar, padahal toko udah seharusnya buka dari tadi.""Bapak bisa denger, Faqih ...!" Terdengar suara teriakan Fariz dari dalam kamar. "Bapaknya lagi sibuk bukannya dibantuin, malah lu omelin."Faqih nyengir, lalu mengusap tengkuk. "Faqih tahu Bapak lagi ngapain juga enggak," elaknya."Bapak lagi packing. Dahlah, lu kasih orson atau teh manis aja dulu tuh anak berdua. Bentar lagi bapak kelar," titahnya kemudian."Iya, ini juga lagi." Faqih berlalu ke dapur dan kembali dengan nam
DiaperDynamo : Bangke! Ngetik begitu doang ampe setengah jam.SleepyRingleader : Sebenernya gue nggak sanggup melakukan ini (emot nangis)Winni Tiny Bunny : Dah, bubar-bubar! Susah kalau berhubungan sama Bavak-bavak bucin dan laperanSleepyRingleader : Diem lu, Terong! Makanya kawin, biar tahu enaknya. Bukan nyevongin mesin tato mulu. Madesu, lu!Fariz melempar ponselnya ke samping kursi yang diduduki dengan perasaan dongkol. Bukannya mendapat solusi dari permasalahan yang terjadi, mereka justru saling adu argumen dan saling menyalahkan siapa yang salah di sini.Tak lama ponselnya berbunyi. Panggilan video dari Bobby tampak di layar."Halu.""Gud morning, Brother!" Wajah Bobby memenuhi layar ponsel Fariz saat sambungan video call tersambung. Terlihat, lelaki di seberang sana tengah asik menyeruput kopi dengan baground Sherly yang sibuk momong adik Salsa yang tahun ini baru masuk TK."Gue mau ngobrol tentang hal penting, bisa pindah dari sono? Backgroundnya kurang sedep di pandang mat
Suci dan Fariz saling melempar pandang. Sesekali mereka memerhatikan Ainun yang tampak canggung. Perempuan 22 tahun itu memilin-milin ujung kerudungnya yang lebar setelah menyaksikan kejadian melorotnya sarung yang Faqih kenakan, hingga berakhir dengan mengurung dirinya dia kamar."Ekhem, uhuk, hatchi!""Mas!" Suci menyikut perut buncit suaminya saat Fariz mencoba mencairkan suasana dengan cara yang cukup berlebihan."Jadi, Ainu--""Ini ada titipan--"Suci dan Ainun membuka percakapan secara bersamaan. Mereka terkekeh setelahnya. Begitulah perempuan."Maaf kalau saya datang nggak kasih kabar dulu, ya, Bu, Pak. Jadi, nggak enak." Ainun tersenyum kikuk, entah kenapa dia merasa tak enak dengan apa yang baru saja terjadi. Faqih pasti malu sekali."Nggak apa-apa, Nun. Kalau tentang si Faqih-- dia mah udah biasa mempermalukan diri kali!" Enteng sekali Fariz mengatakan."Mas!" Sekali lagi Suci menegur sang suami. Matanya menyipit mengingatkan.Ainun tertunduk, kulit wajahnya yang kuning lang
Sepulangnya check up. Suci langsung mempersiapkan makan siang untuk keluarga kecilnya. Sementara kedua orang tuanya langsung pamit pulang setelah berbincang-bincang sebentar tentang kondisi kesehatan Pak Ahmad. Di sela menyiapkan makan, Suci langsung menceritakan tentang keresahannya setelah mendapati kondisi kedua orang tuanya yang tak lagi bugar. Perempuan itu juga mengatakan tentang undangan H. Sulton yang jatuh pada lusa. Setelah membaca situasi, Suci merasa tak yakin bisa kembali ke Jakarta untuk waktu yang cukup lama.Mendengar penjelasan istrinya, Fariz mulai memutar otak. Di satu sisi dia tak sanggup Ldr dengan anak dan istrinya, tapi di sisi lain ada pekerjaan yang tak sepenuhnya bisa dia tinggalkan. Setelah cukup lama memikirkan di sela makan siang. Dia memutuskan untuk mendiskusikannya dengan Bobby."Bapak beneran nggak makan lagi Ikan setelah tragedi Denok dipepes Ibuk?" Pertanyaan Faqih memecah lamunan Fariz dan Suci yang masih bergelut dengan pikiran masing-masing. "Me







