"Americano satu," ucap Lana begitu masuk dan duduk di sebuah kafe yang dia tunjukkan tadi. Sembari menunggu pesanannya diantar, dia mengisi waktunya dengan menggulir layar, dan berhenti pada sebuah kontak bernama Hana."Halo." Suara sapaan terdengar."Halo. Benar ini Hana teman Gendis?" tanya Lana dengan sopan."Oh, iya. Ini siapa ya?""Saya suaminya Gendis. Lana. Saya rasa Gendis sudah menghubungi Anda.""Oh, iya, tadi dia sempat bilang. Kalau boleh tahu ada perlu apa ya Mas Lana sama saya?""Sebelumnya maaf, saya mau sedikit merepotkan.""Oh, gak apa-apa, Mas. Santai saja, asal saya bisa maka saya akan bantu.""Jadi begini, Hana. Ini masih seputar kejadian yang kata Gendis itu ternyata tempat kamu.""Oh, iya, Mas. Memang itu kamar yang saya sewa. Memangnya kenapa ya?""Kamu masih di sana?""Masih, Mas. Tapi saya emang jarang nginep. Tempat kos itu cuma untuk persinggahan kalau saya sedang capek aja jadi nggak pulang. Memangnya kenapa ya?"Lana menghela napas, ada sedikit rasa ragu,
Ler mais