Dengan dada yang terus berdebar dan tubuh yang gemetar, Gendis memberanikan diri untuk tetap melangkah menuju tempat yang diberitahukan Aga. Taman kota dekat kampus menjadi tujuannya sekarang. Langkahnya melambat sebelum akhirnya berhenti sama sekali. Di bawah pohon rindang dia berdiri, membeku, menatap dua insan yang sedang beradu pandang dalam bisu. Tak ada yang bisa dia dengar, namun tatapan keduanya seolah mengatakan bahwa Gendis harus berbalik dan mundur."Beginikah rasanya patah hati?" Gendis mundur beberapa langkah, di balik pohon besar dia mendudukkan diri sembari memeluk lututnya yang melemah dan berbisik pelan. Meratapi nasibnya yang sialan.Ingin lari, namun langkahnya seolah tertahan. Ribuan kali hantaman demi hantaman perasaan yang datang, tak membuatnya serapuh dan sehancur kali ini.Pesan tak terbaca, panggilan terabaikan, bahkan kelas yang tak dihadiri dan jawaban yang selalu mengambang saat dirinya bertanya perihal Kanaya Larasati, semua seakan berputar di dalam kepa
Ler mais