Di taman rumah sakit, beberapa orang tengah berjalan-jalan. Ada yang sambil duduk di kursi roda, ada juga yang berjalan sambil mendorong tiang infusan, juga ada yang duduk-duduk di bangku kayu termasuk dokter Bram dan Maura yang duduk di kursi roda.“Udaranya segar, kan?” tanya dokter Bram sambil membetulkan letak infusan Maura yang selangnya sedikit berputar. Maura hanya mengangguk sambil melihat sekelilingnya.“Mau sesuatu? Misalnya jus atau susu atau ….”“Nggak usah, Dok. Aku pengen tahu kejelasan ucapan Alena,” jawab Maura tanpa basa-basi.“Oke. Sebelum saya bicara, saya mau bertanya dulu. Siapa yang paling kamu sayangi antara saya dan Ruslan, dan apa alasannya?”Maura tertegun sebentar. Pertanyaan itu mudah dijawab, namun alasannya yang sulit.“Aku lebih sayang sama papa meski dia mengabaikanku selama beberapa tahun ini. Tapi untuk alasannya aku bingung. Sayang ya sayang. Udah, gitu aja,” jawab Maura.“Meski dia benar-benar bukan ayah kandungmu?”“Ya, meski dia bukan ayah kandung
続きを読む