“Ruslan, apa dia putrimu? Kalau yang ini Maura, yang satu ini pasti Alena, kan? Putrimu Alena pintar bercanda, ya!” kata dokter Bram pada Ruslan dengan suara tenang, lalu beralih menatap Alena. “Kata siapa saya ayah kandungnya Maura?” “Kenapa, Dok? Mau menyangkal? Masa Anda nggak kenal dengan putri Anda sen—” Silvia buru-buru menyikut Alena, meminta putrinya untuk tak berbicara lagi. “Apa, sih, Ma?” “Jaga ucapan kamu!” pinta Silvia dengan suara rendah, meski begitu masih dapat didengar beberapa orang. “Tapi, Ma—” “Diam.” Kali ini Silvia lebih tegas, membuat Alena tak terima. “Ini hal serius, lho. Kata siapa saya ayah kandungnya Maura?” tanya dokter Bram lagi dengan sungguh-sungguh, meski nada bicaranya santai. “Apa kamu yang bilang, Ruslan?” “Kalian saling kenal, ya?” tanya oma Ambar bingung. “Kami pernah menjadi teman saat awal masuk kampus, Bu,” jawab Ruslan. “Pernah menjadi teman?!” Dokter Bram tersenyum sedikit sarkas, miris, dan mengejek. “Kita dulu teman dekat
Read more