Kila tertunduk sembari tersedu.“Berhenti menangis, aku tidak suka melihat orang menangis.”“Aku tidak bisa berhenti, air mataku jatuh begitu saja. Aku bahkan tidak bisa mengontrolnya.”Kama membiarkan Kila menangis, hal buruk telah terjadi, bahkan tak perlu Kila cari tahu. Kama sudah mengetahui banyak hal buruk yang terjadi diantara mereka jauh dari ini. Hanya saja Kama adalah laki - laki, ia bisa menahan banyak rasa sakit dan penderitaan dengan tetap menunjukan wajah tanpa perasaan. Sedangkan Kila? Dia hanya wanita lemah yang mudah tersentuh hatinya karena banyak hal. Kama bangkit, ia berdiri di hadapan Kila. Kama mengulurkan tangannya, mengusap pundak dan berhanti mengusap ujung kepala Kila, meski gerakannya kaku, karena Kama tidak biasa menenangkan orang yang menangis, tapi itu cukup membantu.“Berhenti menangis,” perintah Kama.Kila menggelengkan kepalanya, ia malah mengubur diri pada Kama. “Kama, aku dengar dari Raga ada yang butuh di obati.”Seorang pria muda berdiri di am
Baca selengkapnya