LOGINKila. Gadis malang yang harus diasuh oleh Pamannya sejak usia 12 tahun karena orang tuanya yang telah meninggal. Seumur hidup tinggal bersama keluarga Pamannya, Kila tidak pernah diperlakukan dengan baik. Hingga saat Kila menginjak usia 23 tahun, ia dinikahkan paksa dengan orang yang bahkan tidak Kila ketahui. Apakah Kila punya kuasa untuk menolak? Jawabannya, tidak.
View MoreKama akhirnya muncul di ruang tengah, tubuhnya sangat segar sekarang. Apalagi ia terkena air hujan. Sedangkan Kila sudah duduk dengan kepala tertunduk berhadapan dengan Raga dan Rafa. Ikan yang di masak sudah di taruh di meja dengan beralaskan daun. Sementara itu Rafa sedang sibuk memisahkan duri ikan dari daging ikan. Raga tengah sibuk memakan daging yang sudah Rafa bersihkan, bahkan tanpa malu - malu selah Rafa melakukannya untuk Raga. "Hujan - hujan begini mandi?" Tanya Rafa, ia kembali mengambil daging ikan dan melahapnya tanpa rasa khawatir tersedak duri ikan. Kama duduk mendekat dan megambil tempat duduk di samping Kila. "Memangnya kenapa? Bukanya segar mandi hujan.." Kama menjawab pertanyaan Raga. Diluar sudah gelap, meski begitu hujan tak kunjung reda. "Untuk kamu segar, tapi kamu tidak melihat Kila tadi... Dia basah kuyup karena tiba - tiba hujan saat di kamar mandi." Jelas Raga, ia menunjuk - nunjuk udara. "Kan aku sudah bilang, tutup saja kamar mandi belakang, Kil
*** Namun meski di dunia ini telah banyak di suarakan tentang kebebasan, setiap manusia, setiap individu bebas menentukan pilihan hidupnya. Sepertinya tidak berlaku untuk sebagian orang. Sama halnya dengan Kila, ia merasakan sendiri kalau Kama, tengah mengatur hidupnya. Kini ia di paksa untuk naik motor. Yah... Memang tidak ada pilihan lain selain mengikuti Kama. Sekarang sudah sore, sedikit sekai kendaraan yang bisa membawa Kila kembali ke rumah. Kama mengendarai motor dengan ugal - ugalan, Kila merasakan gemuruh angin yang di lewatinya. Bahkan di jalanan yang sunyi seperti ini, Kila merasa ngeri. Mesi begitu, ego Kila masih terlalu tinggi. Ia takut, tapi ia takan mendaratkan tanganya untuk menyentuh Kama. Tidak akan. Kama yang melihat situasi kali ini, malah semakin marah dan mengencangkan laju motornya. Kila makin takut, tapi mulutnya tertutup rapat, ia malah mencengkeram pahanya, mencondongan tubuhnya alih - alih berpegangan pada Kama. Namun akhirnya Kila kalah, seekor
*** Sepreti yang sudah Kila duga, ia sedikit kewalahan karena membersihkan toko dan membuat roti sendirian. Menyiapkan bahan - bahan, menguleni adonan kue tanpa alat yang canggih, serta masih mengandalkan tenaga manusia. Namun Kila tidak mengeluh, mengeluh bukanlah ciri khas dirinya. Kila adalah gadis yang pantang menyerah dan pantang mengeluh. Sejak pagi, cukup banyak pelanggan yang datang ke toko kue. Sebagian besar pelanggan yang datang pasti menanyakan kabar Kila, menanyakan kenapa ia tidak bekerja kemarin dan menanyakan keberadaan Tari. Hingga sore tiba, Kila bisa mengistirahatkan diri. Hampir seluruh roti yang ia buat hari ini, terjual. Menyisakan beberapa nampan yang masih bisa di jual keesokan hari kalau tak terjual habis hari ini. "Selamat sore.... " Suara lonceng pintu terdengar bersamaan dengan suara sapaan tadi. Tedengar suara langkah masuk dan Kila pun menjawab, "Sore... " Kila tersenyum dan di balas senyum oleh Adimas. "Seperti biasa, mengambil pesananku." Tutu
*** Kila tidak bisa tidur, ia menunggu Kama menghubunginya lewat pesan singkat. Mengabarkan keadaan Tari, tapi sampai tengah malam pun, Kila tak kunjung mendapatkan kabar dari Kama. Kila menyerah, kini rasa kantuk telah menguasainya. Perlahan matanya terpejam dan mungkin sebentar lagi... Ia akan terlelap dalam mimpi. Namun, suara dering ponsel yang tak kunjung berhenti menarik kembali Kila dari alam mimpi. Ia terbangun dengan perasaan kaget dan gugup ketika melihat layar ponselnya. Berkali - kali Kila mengucek matanya. Tapi ia tak salah lihat. Kama menelfonya. Butuh waktu sedikit lama untuk Kila berpikir, hingga akhirnya ia mengangkat telfon Kama. Kila terbaring di atas tempat tidur, beralaskan bantal dengan ponsel yang ditindih. '"Halo... " Kila tak langsung menjawab, tapi itu memang suara Kama. "Halo... Kenapa?" Tanya Kila. " Kabar temanmu, dia baik baik - baik saja. Sore tadi dia sudah siuman, namun Rafa memberikan obat penenang, jadi sekarang ia tertidur lagi." Mendenga
Sekarang sudah memasuki masa panen tebu. Kereta lori sudah sibuk mondar - mandir mengangkut hasil panen warga. Di pulau ini, ada satu pabrik gula terbesar dan satu - satunya. Di sanalah tebu - tebu itu akan di olah menjadi gula dan di perjual belikan dengan nilai ekonomis yang lebih tinggi. Kama s
Kila dengan cekatan memotong daun bawang menjadi ukuran kecil yang sama besarnya, ia juga memotong wortel dengan seukuran ibu jari. Kemudian Kila menyalakan kompor. Menuang sedikit minyak untuk menumis bawang bombay hingga layu, bersamaan dengan itu, Kila memasukan wortes. Menumisnya sebentar agar
Kila terduduk lemas, ia tak bisa berpikir tenang. Pikirannya masih tertinggal di rumah Kama, dan sialnya Kila tidak bisa melenyapkan bayangan Kama dalam benaknya.“Siall..... “ geram Kila dengan kesal, ia masih saja memikirkan laki - laki berengsek seperti Kama. Tanpa sadar, Kila menangis. Ia tidak
Laki - laki di depan Kila ini memang brengsek. Bahkan saat mata Kila sudah memanas karena menahan air mata yang siap tumpah, Kama, nama laki - laki brengsek itu. Ia tidak peduli dengan Kila, bagaimanapun mereka telah melewatkan malam bersama. Sebagai seorang suami dan istri. Tapi sekarang?Kama bah






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.