"Dulu, saat kamu masih kecil, setiap kali kamu menangis karena dihina teman-temanmu, atau karena kalah lomba, Bibi selalu menyisir rambutmu seperti ini," ucap Bibi Alma pelan, suaranya terdengar lembut di tengah keheningan kamar. "Kamu selalu bilang, kalau Bibi menyisir rambutmu pelan-pelan, rasanya seperti semua kesedihanmu ikut tersisir pergi." Jemima menelan ludah. Air mata itu kembali ingin muncul, kali ini bukan karena kesedihan, tapi karena rasa syukur yang mendalam. "Aku ingat…" "Nah, sekarang pun begitu. Biarkan semuanya ikut pergi. Jangan dipendam terus di dalam hati. Nanti hatimu bisa pecah, Jemi." Sisir itu berhenti bergerak. Bibi Alma merapikan rambut Jemima ke belakang bahunya, lalu menepuk bahu gadis itu pelan. "Sudah selesai. Sekarang… apakah kamu sudah siap untuk melihatnya?" Jemima menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Jantungnya berdegup kencang kembali, seolah tahu apa yang akan datang. Ia mengangguk—kali ini lebih tegas. "Iya, Bibi. Aku siap.
Read more