LOGIN“Apa? Calon istri dari desa?” “Pasti kampungan dan tidak modis.” Itulah ucapan Dante Julian Vascos saat sang nenek akan menjodohkannya dengan seorang gadis yang bukan dari kota tempat tinggalnya juga tidak selevel dengannya. Bak menelan ludahnya sendiri, seakan terkena karma atas ucapannya itu, Dante yang dalam pengasingan bertemu seorang gadis yang tak pernah dibayangkannya. “Ayo kita pura-pura menikah saja, biar saudara-saudaramu itu tak berbuat seenaknya lagi.” Ajak Dante. Ayo lanjut baca dan support karyaku dengan komentar membangun, folow akun GN atau IG @authorparadista. Semoga buku ini menjadi buku dengan tulisan yang lebih baik dari buku-buku sebelumnya, maaf apabila masih banyak kekurangan :) Terimakasih dan selamat membaca.
View MoreMalam hari di kota Coast Field yang dingin.
“Lepaskan! Apa yang kalian lakukan!”“Tolong… “Sayup-sayup terdengar suara seorang wanita berteriak meminta pertolongan sambil berlari ketakutan di dalam lorong yang disampingnya berjejer para tunawisma yang sedang beristirahat.“Lepaskan! Tolong… tolong!”Salah satu pria diantara para tunawisma itu terbangun dan mengangkat kepalanya, pria tersebut itu melihat sekeliling, dia sadar jika itu bukan mimpi apalagi halusinasi karena tepat beberapa meter di depannya terlihat ada seorang gadis yang tampaknya sedang dikejar tiga orang pria. Ada begitu banyak tunawisma, tapi tak ada satupun dari mereka yang mau menolong seorang gadis yang kini sedang diganggu beberapa pria hidung belang itu, mereka tak mau peduli dan memilih mengabaikan dengan pura-pura tidur.Baiklah, masa bodoh! batin pria itu, dia jadi ingat akan dirinya sendiri yang baru saja mengalami hal tak mengenakan, mengapa juga dia harus mempedulikan gadis malang itu, yang bukan siapa-siapa baginya? Orang lain saja memilih diam, lalu atas dasar apa dia harus bersikap sok pahlawan?“Lepaskan saja bajunya, kita lakukan disini!” teriak salah satu pria dari tiga pria pengganggu itu.“Hey! Dia milikku, Sam!” seru pria lainnya terdengar marah.“Apa kau ingin mati!” lanjutnya mengancam.“Akrg! I-i-iya, maafkan aku Ian.” Pria yang dipanggil Sam itu tampak ketakutan saat tangan pria yang dipanggilnya Ian itu mencengkram kerah bajunya, suaranya terdengar seperti orang tercekik.“Apa yang kau lakukan Jemima? Ayo kita pulang, jangan berbuat onar!” seru Ian.Gadis yang dipanggil Jemima itu terlihat berusaha menghindar dan menggunakan alat apapun untuk mencegah ketiga bajingan itu mendekatinya. Tapi sepertinya pertahanan itu sia-sia, bagaimanapun juga gadis itu terlihat lemah hingga akhirnya pria bernama Ian itu memegangi dan mencengkram tubuhnya.“Lepas! Lepaskan aku, brengsek!” maki Jemima.“Ayolah menyerah saja, Jemi.” Kata Ian, kedua matanya terpejam dengan hidung mendengus leher juga rambut gadis bernama Jemima.“Apa maumu Ian? Siapa yang menyuruh kalian?!” teriak Jemima sambil meronta-ronta.“Kamu mungkin sudah bisa menebaknya dan kami tak mau mengecewakannya, lagipula kamu adalah pengecualian bagiku.” Jawab Ian.“Kalau kamu tidak mau aku paksa, lebih baik kamu mau menjadi wanitaku saja, bagaimana?” lanjutnya bertanya.“Piuh! menjijikan!” seru Jemima sambil membuang air liur ke arah wajah Ian.“Aish! Sial! Menjijikan!” ringis Ian sambil mengelap wajahnya.“Ayo cepat seret dia ke atas dan masukan ke dalam mobil!” perintah Ian yang sepertinya ketua dari kedua pria lainnya.Kedua pria yang dari tadi sudah sangat ingin meraih tubuh sang gadis itu tampak tak sabaran apalagi sudah ada perintah dari Ian.“Ih! Pergi kalian! Jangan sentuh aku! Lepaskan aku!” “Jangan sentuh aku!”“Tolong… siapapun itu tolong…”Gadis bernama Jemima itu tak hentinya berteriak-teriak sambil meronta-ronta ingin melepaskan diri, satu pria yang kini sedang merangkul tubuh gadis itu terlihat tak senonoh memegang dan menelusuri sebagian tubuhnya.BRUAK!“Akh!”Terdengar suara jatuh diikuti teriakan sang gadis, Pria misterius yang dari awal memperhatikan serta tak ingin ikut campur itu, kini hati nuraninya mulai tergerak, pria yang meraba-raba gadis tadi ingin rasanya dia patahkan saja kedua tangannya. Tapi kini pandangannya terpaku pada satu pria lainnya yang kini sedang meraih tubuh sang gadis, sedangkan satu temannya yang ingin sekali pria itu hajar kini tengah terkapar berada di atas aspal sana.“Kenapa kau mendorongku? Aish! Sialan kau Ian!” seru pria di bawah sambil berusaha berdiri, tapi pria itu tak akan menyangkanya karena Ian kembali mendorong dan menendangnya.BRUAK!Suara jatuh tubuh pria itu terdengar begitu empuk, sudah dipastikan tubuhnya amat sakit karena dihantamkan ke atas aspal oleh pria bernama Ian tadi.“Sialan kau Ian! Apa-apaan ini?!” teriak pria itu lagi sambil meringis kesakitan.“Kau yang sialan Mat, berani-beraninya kau menyentuh tubuh Jemima ku!” balas Ian, berteriak sampai-sampai Mat gentar.Melihat situasinya, pria misterius itu bisa menebak kalau pria bernama Ian itu menyukai gadis yang kini sedang diganggunya, sama halnya dengan pria bernama Sam juga Mat. Hanya saja Sam sudah tahu posisinya siapa, sedangkan Mat masih tak tahu diri dan tak sadar sedang berurusan dengan Ian.“Sekali lagi kau berani macam-macam, kuhancurkan kedua tangan mesum mu itu!” lanjut Ian terdengar mengancam.“Sialan! Ayo Jemima!” teriak Ian lagi sambil menarik tubuh Jemima, gadis itu terlihat meronta tapi tak berdaya. Hingga pada suatu titik, kedua mata gadis itu melihat ke arah pria asing yang juga sedang memandang ke arahnya, lagi-lagi tatapan gadis itu membuat hati pria misterius itu tersentuh.“Ah! Sial!” dengus pria itu sambil berdiri dari duduknya.Pria itu berjalan mendekat sambil mencari-cari sesuatu untuk iseng dia lemparkan pada ketiga pria pengganggu itu.Pria tersebut akhirnya menemukan beberapa kerikil, lalu melemparnya tepat ke arah kepala Ian.Pluk! Satu kerikil mendarat di kepala Ian.“Siapa itu?!” seru Ian, tersentak kaget sambil meraba kepalanya lalu mencari-cari orang yang sudah berani melempar kepalanya.Pluk! Belum selesai urusan dengan Ian, lemparan kali ini tepat sasaran meluncur ke arah punggung Sam.“Sialan! siapa itu?!” seru Sam dengan suara nyaring.“Apaan sih?” Mat tampak kebingungan tapi dia juga segera mundur beberapa langkah takut terkena lemparan batu yang mulai berdurasi cepat itu.“Kalau berani, keluar kau!” teriak Ian.Darah seketika berdesir di tubuh Jemima. Ia mundur selangkah, napasnya tertahan. Dante? Pria yang pernah berkata namanya Julian… yang menyembunyikan identitasnya… yang ternyata… "Julian…" bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Julian itu… Dante, sayangku." Ucap nyonya Valencia dengan mata berbinar. Nyonya Valencia mengangguk pelan, air mata kembali menetes. "Dia menyembunyikan nama aslinya dari semua orang, bahkan darimu. Demi keamanan, katanya. Demi melindungimu dari dunianya yang rumit. Dan aku… aku juga tidak pernah bilang siapa aku sebenarnya. Aku takut jika kamu tahu tentang siapa aku, kamu akan merasa terbebani, atau takut…" Wanita itu menggenggam tangan Jemima erat. "Aku tidak menyangka… takdir membawa kamu ke sini, ke tempatku, tanpa kita sadari siapa kita sebenarnya satu sama lain." Jemima terdiam, pikirannya berputar cepat. Semua potongan teka-teki itu akhirnya menyatu. "Selama ini…" Jemima menelan ludah, dadanya sesak oleh campuran rasa haru dan keterkejutan.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan, bibi?" tanyaJemima, tersirat keraguan di wajahnya. "Kamu tidak harus memutuskan sekarang," jawab Bibi Alma lembut namun tegas. "Kamu sedang sakit, tubuhmu butuh waktu untuk pulih. Dan hatimu juga sama. Biarkan waktu yang menjawab. Yang penting sekarang adalah—kamu tahu kebenarannya. Dan kamu tahu jika suami yang kamu pilih ternyata sangat mencintaimu." Jemima menunduk, menyentuh perutnya yang terasa sedikit lebih tenang setelah mandi tadi. Pikirannya kembali ke rasa mual dan kelelahan yang terus menghantui dirinya. Bibi Alma benar—ada sesuatu yang lain di sini, sesuatu yang bukan sekadar patah hati. Dan ia harus tahu apa itu. "Bibi…" Jemima mendongak, menatap wanita itu dengan mata yang masih basah namun kini mulai memancarkan keteguhan. "Besok… bisakah kita pergi ke dokter?" Wajah Bibi Alma langsung bersinar. Senyum tulus merekah di wajahnya yang keriput itu. "Tentu saja, Nak. Besok pagi, kita pergi bersama-sama. Tidak peduli apa hasilnya, ki
Mata Jemima membelalak. Apa? "Tapi bukan dengan alasan yang kalian pikirkan," cepat-cepat Dante menambahkan. Matanya menatap tajam ke arah para wartawan, seolah memperingatkan mereka untuk tidak menyimpulkan sembarangan. "Saya menyembunyikannya bukan karena ada pihak ketiga, bukan karena hubungan itu terlarang, dan bukan karena saya malu padanya. Saya menyembunyikannya karena… saya sedang dalam proses menyelesaikan masalah keluarga yang sangat rumit—masalah yang jika diketahui publik pada saat itu, justru akan membahayakan Jemima. Saya berusaha melindunginya, tapi ternyata… cara saya salah. Dan justru karena menyembunyikannya, ia menjadi sasaran kemarahan orang-orang yang tidak tahu kebenarannya." Ia berhenti sejenak, menelan ludah. "Saya tidak akan menjelaskan detail masalah pribadi keluarga saya di sini. Itu bukan urusan publik. Tapi satu hal yang harus kalian ketahui: sejak awal, niat saya tulus. Perasaan saya pada Jemima tulus. Dan kesalahan terbesar saya adalah tidak memberita
"Dulu, saat kamu masih kecil, setiap kali kamu menangis karena dihina teman-temanmu, atau karena kalah lomba, Bibi selalu menyisir rambutmu seperti ini," ucap Bibi Alma pelan, suaranya terdengar lembut di tengah keheningan kamar. "Kamu selalu bilang, kalau Bibi menyisir rambutmu pelan-pelan, rasanya seperti semua kesedihanmu ikut tersisir pergi." Jemima menelan ludah. Air mata itu kembali ingin muncul, kali ini bukan karena kesedihan, tapi karena rasa syukur yang mendalam. "Aku ingat…" "Nah, sekarang pun begitu. Biarkan semuanya ikut pergi. Jangan dipendam terus di dalam hati. Nanti hatimu bisa pecah, Jemi." Sisir itu berhenti bergerak. Bibi Alma merapikan rambut Jemima ke belakang bahunya, lalu menepuk bahu gadis itu pelan. "Sudah selesai. Sekarang… apakah kamu sudah siap untuk melihatnya?" Jemima menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Jantungnya berdegup kencang kembali, seolah tahu apa yang akan datang. Ia mengangguk—kali ini lebih tegas. "Iya, Bibi. Aku siap.
Wajah Diego tampak senang, di tangannya dia main-mainkan kunci mobil sport mahalnya. Sayangnya senyuman sumringah itu segera terhenti saat di depannya ada beberapa pria serentak melihat ke arahnya. “Tuan, lihatlah. Ada orang gila yang ingin naik lift ini.” Kata Montana segera mengadu. “Ah, kenapa
Jemima masih berusaha mencari celah untuk kabur karena tak mau berurusan dengan Ian lagi, namun tampaknya pria itu sangat teguh serta bersungguh-sungguh.“Tolonglah.”“Hanya kita berdua.” Lanjut Ian memastikan.Terdengar suara klakson mobil lain hingga beberapa kali dan membuat keributan, kelihatannya
Jemima hanya berdiri mematung, air matanya terlihat mulai mengalir, gadis itu sudah berusaha tak menjatuhkan air mata dengan menggigit kuat bibir bawahnya. Tapi sepertinya itu tak berhasil, adegan itu terlihat sangat miris hingga rasa sakitnya terasa sampai ke ulu hati Julian.“Hey! Kamu siapanya? P
“Kamu mau yang mana? Yang pedas atau yang gak pedas?” tanya Jemima lagi, dia masih menunggu keputusan pria asing itu.“Terserah kamu saja.” Jawab pria itu lirih, sebaiknya kalimat itu saja yang dia katakan dan memendam rasa penasaran terhadap bungkusan itu belakangan saja.Jemima tampak memilih-mili






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews