Aku terhenyak. Vespa kuning? Aku harus fokus mendengarkan cerita ini dengan tetap melihat ke luar jendela.”Apaan? Masa bawa vespa, kuning pula ke sekolah?””Iya. Aku nggak tau dia parkir di mana, tapi seragamnya dari sekolah kita.”“Gila! Keren, sih.” Aku menggelengkan kepala, tidak seharusnya aku memikirkannya di sini. Aku kembali fokus melihat lingkungan sekitar, melihat sampai mana perjalananku. Sebentar lagi aku akan sampai di depan gang, aku harus bersiap untuk turun. Syla ternyata sedang melihatku, entah sejak kapan dia melakukan itu. Aku mengangguk sambil tersenyum, sudah sadar akan segera sampai.“Kiri, Pak!” Aku bicara pada pak sopir dengan nada biasa. Angkot tiba-tiba menjadi hening, sehingga tidak perlu effort lebih agar pak sopir mendengarkan.Angkot berhenti beberapa saat kemudian. Aku turun dari angkot dan membayar pada pak sopir, sebelumnya menyentuh paha Syla untuk berpam
Terakhir Diperbarui : 2025-09-20 Baca selengkapnya