Pagi ini kembali dimulai dengan suasana yang bikin gerah. Nayla Indira baru saja menuruni tangga ketika suara ibunya terdengar dari ruang makan."Kau mau ke mana?""Keluar sebentar, Bu.""Sudah menghubungi Juna. Kemarin ada ketemu tidak?"Langkah Nayla sontak terhenti. Pertanyaan serupa, dengan nada itu-itu juga. Ibunya seakan tidak akan pernah bersedia berhenti mengintimidasinya. Padahal, ada hal lain yang juga penting di dalam kehidupannya selain Juna. Termasuk kenyamanan dirinya sendiri, namun dia sadar ibunya tiada mau peduli. "Nanti, Bu. Akhir-akhir ini Juna pulang larut terus. Aku tidak enak mengganggu jam istirahatnya dia."Siska meletakkan cangkir tehnya sedikit lebih keras dibanding yang sewajarnya, "Nanti, nanti, nanti. Jawabanmu selalu begitu."Sejenak kelopak mata Nayla terpejam, lelah sekali menghadapi kekeraskepalaan ibunya. Dia selalu berusaha mendapatkan tidur yang cukup, agar bayinya tetap dalam kondisi baik. Namun, tekanan dari sikap ibunya lagi-lagi menguras energi
Read more