Mag-log inDi hari itu adalah hari terburuk bagi Juna Janendra ketika menemukan perselingkuhan istrinya bersama sang paman. Banyak waktu dia lalui dengan kekosongan akibat perpisahan sementara. Dia hanya pergi ke luar kota demi memenuhi tanggung jawab sebagai pimpinan perusahaan. Sampai waktu kepulangannya justru disambut oleh peristiwa memalukan yang mungkin akan terus menjadi bayang-bayang hitam di sepanjang hidupnya. Kemarahan Juna diambang batas. Dia putuskan untuk mengusir Nayla, istrinya. Bahkan mengungkapkan perceraian guna mengakhiri pernikahan yang telah ternodai. Itu adalah satu kesalahan paling kotor serta sulit dimaafkan, bagi Juna. Seiring putaran waktu, segalanya mulai memengaruhi rutinitas. Mulai dari fokus yang terganggu, kesusahan tidur malam, juga aktivitas lain ikut terhambat. Dia mengalami semua kesengsaraan itu dan hendak mengakhirinya. Juna kukuh menempuh jalan perceraian agar dia dapat terbebas dari belenggu kekecewaan. Di tengah-tengah jarak yang terbentuk di dalam kehancuran rumah tangganya, Juna dipertemukan dengan seorang gadis manis dan segala daya tarik yang dia punya. Jihan Pitaloka, si penyanyi kafe atau bar keliling dapat dengan mudahnya membalik afeksi si direktur muda. Juna enggan terburu-buru, meski awal pertemuan mereka mengandung percekcokan terburuk berisi jenaka, dia tak dapat menampik semua dampak yang diberikan gadis itu bahwa dia jatuh cinta lagi.
view moreDua bulan bagai dua tahun bagi Juna Janendra. Jika menyangkut perasaan dan cinta, maka seluruh normalisasi makna kata akan berubah menjadi kiasan majas. Tak tahu di mana letak kewarasan, asal kesadaran masih bertahan di dalam raga. Kepulangannya ke Ibu Kota menjadi momen paling menggembirakan baginya. Berada jauh dari sisi sang istri, membuat kebuncahan terus merengek meminta sang penawar. Satu-satunya rembulan indah penghuni singgasana nurani, Nayla Indira.
"Dua belokan lagi, kita melintasi kedai kopi Paman Beno. Mau kutraktir? Anggap saja ini sebagai stimulan awal untuk mendongkrak energimu. Pekerjaan di sana membuat kepalamu sumpek 'kan?""Lebih dari itu, hampir meledak. Kepalaku ini!" katanya sembari menunjuk-nunjuk ke pelipis. "Tapi wajar menurutku, baru satu tahun beroperasi. Kita patut mensyukuri kemampuan mereka dalam mengembangkannya secara konsisten. Kita memilih anggota yang tepat, usia muda tidak membatasi pengalaman.""Kenaikan gaji? Asuransi istimewa? Atau liburan mewah?""Hahaha. Kau ingin perusahaan kita di sana gulung tikar sejak dini?""Omong-omong, aku serius ingin mengajakmu minum kopi. Bisa dibilang, aku agak sedikit memaksa. Ada yang perlu kusampaikan, tapi kurang layak mengatakannya di sini.""Nanti saja, besok kuluangkan waktu untukmu." Sebelah kelopak matanya berkedip, mempermainkan keseriusan Kenny Nathanael yang diam-diam menyimpan sesuatu di benaknya. "Aku merindukan Nayla, kau juga tahu rasanya saat berjauhan dari istri." Lalu, penjelasan sekian datang setelah dia menemukan Kenny terdiam."Aku diprogram untuk melaksanakan perintah 'kan? Kalau begitu aku tidak usah repot-repot menolakmu." Kalimat sekian laksana kelakar yang menggelitik di balik tawa keduanya....Kerinduan kentara memancar dari tatapannya yang tajam, memburu langkah membawa senyum kegembiraan. Sekali melirik kantung kertas di tangan kirinya, berisi oleh-oleh teruntuk istri tercinta."Sayang, aku pulang." Juna berteriak rendah saat tak menemukan keberadaan istrinya sejauh pandangan. Setiap ruang ditelusuri, namun tiada jua dia dapatkan sosok tersebut. Kakinya hendak naik ke anak tangga, melenggang riang menuju kamar guna mengejutkan istri yang dia duga ada di sana.Baru satu anak tangga dijangkau, atensinya menangkap presensi kepala asisten rumah tangga. Si wanita baya tengah mengawasi pelayan muda yang tengah mengelap pigura di dinding di samping tangga, pigura berukuran besar yang membingkai foto pernikahan Juna Janendra. Tungkainya refleks berayun mendekat, menyapa si kepala pelayan lewat keramahan santun."Bibi, apa kabar?""Ya ampun, Tuan muda sudah pulang?! Anda tampak baik, Saya senang bisa melihat Anda kembali." Seringainya begitu ringan ditampilkan kepada siapa saja yang ditemui, terutama orang-orang terdekat dan Juna terbiasa menerima pengakuan positif dari mereka."Saya baru saja tiba, Bi. Di mana Nayla?""Nyonya muda ada di kamarnya, Tuan. Barangkali tertidur." Bibi Siti menuturkan, membalas tak kalah bersahaja. "Selamat datang, Tuan," imbuhnya lagi serupa sambutan, disusul anggukan sepintas oleh si Tuan muda. Jangka Juna menuntun geraknya ke tujuan semula, Bibi Siti turut mengamati ulang kinerja si pelayan muda.Bibir pria itu betah memperlihatkan bahagia, hanya sedikit lagi dan dia dapat mengobati kegundahan batinnya. "Nay, kau di dalam?" gagang pintu ditarik ke bawah, diiringi labium tipisnya mengembang. "Sayang, aku kecewa kau tidak menyambut—NAYLA!"Mendadak hawa berganti senyap menegangkan. Air muka berang menguasai ketegasan di parasnya, Juna murka, amarah mengambil alih akal sehatnya. Tak seorangpun mampu tenang ketika menyaksikan istrinya menungging, mengerang cabul merelakan diri menampung mani pria lain. Wanita itu, istri yang dia rindukan setengah mati kini dalam keadaan telanjang dipenuhi peluh, sangat siap dan damai menerima sentuhan birahi si pria familiar.Buku-buku tangannya memutih, seakan kuku-kukunya ingin mengoyak kulit di telapak. Rahangnya bergetar, selaras air mata menggenang. Juna kalap, kediaman istri dan pria di atas ranjangnya menyulut kobaran api. Kantung-kantung kertas jatuh ke lantai. Juna menerjang ke depan."SAMMY! Kau akan mati!" lantang sekali seruannya di telinga, mengejutkan kesadaran dua tersangka pelaku asusila.Wajahnya memerah padam, menampung timbunan sumpah serapah di sanubari. Nayla kehilangan kendali, wanita ini hanya bisa mematung di tempat, mengabaikan kondisinya yang masih bugil, sedangkan kegaduhan di depan mata pun tak dapat mengundang reaksinya. Dia tercengang."J-juna!" Cicitnya ragu-ragu dengan mata dan mulut menganga. Rasa takut yang kuat terbaca di mimiknya, "Paman—" bisiknya lagi, kali ini menarik selimut demi menutupi badannya yang polos."Kau sudah gila, KEPARAT?! Dia keponakanmu, SAM! DI MANA OTAKMU?!" setiap satu kalimat, turun pula pukulan keras menghantam pria yang nahas adalah paman kandungnya.Nayla tiba-tiba menangis tanpa isakan, kecemasan merayap sampai ke nadinya, lantas dia menggigil terancam. Tinjuan membabi buta melayang ke muka Sammy. Kandas sudah adab kesopanan, yang ingin dilakukan Juna hanyalah segera memusnahkan Sang paman. Penghinaan sekaligus pengkhianatan terlampau berat untuk dituai dalam satu masa."Aku bersumpah akan membunuhmu di sini!" Akhirnya kekecewaan itu terlepas, pertahanannya luruh. Asa yang telah disusun hancur oleh perselingkuhan. Meski tidak mengurangi daya meluapkan dendam. Hitungan singkat, rasa kasih menjelma menjadi benci."Tuan, apa yang ter—" belum pertanyaan itu terbilang, Bibi Siti spontan membekap mulutnya. Dia melongo, harus puas menonton pemandangan tak senonoh pula mengerikan. Lalu, pekikan tertahan muncul dari belakangnya, si pelayan muda ikut tergemap dengan respons semacam."Ani, panggil sekuriti, cepat!"Bergegas gadis itu berlari keluar, menjemput petugas keamanan guna menangani keributan."Hentikan, Tuan muda! Anda bisa membunuhnya." Bibi Siti coba meraih pundak Juna, berupaya mencuri kesadarannya.Agaknya usaha demikian tak menimbulkan pengaruh berarti, melainkan sekarang Juna sekeras tenaga mencekik leher pamannya. "Brengsek, sialan!""Ha-hahaha! Kau seperti kesetanan, Juna." Cengkeraman melonggar, dimanfaatkan Sammy untuk mencibir, memanas-manasi keponakannya. "Kau suka permainanku, Nak? Bagaimana? Kau tahu, istrimu itu selalu lupa diri setiap kali kutiduri. Tapi, dia tidak lebih nikmat dari wanita di tempat pelacuran. Aku heran kenapa kau bisa mencintai dia? Sungguh kasihan. Kau dungu, keponakan!"Tahu-tahu pipi Sammy menyentak ke kanan, kokohnya kepalan tangan Juna jelas menimbulkan kebas di tulang pipinya. Sammy tersengal-sengal, pasrah tiada energi bisa melawan."Nay, kau masih punya harga diri untuk berbicara denganku? Kalian berdua sial, benar-benar sial! Aku terus mengingatmu saat kusangka kau setia menanti kepulanganku. Kau seperti JALANG! Bodohnya aku pernah mendambakan malam-malam bercinta bersamamu, menjijikkan!" Juna menyingkir, meninggalkan sisa amukan yang sempat terkendali. Sementara sebelum menyusul, Bibi Siti menatap sinis pada kedua tersangka asusila."Juna—" Nayla meracau halus, gulana pun enggan menyingkir dari rautnya."Jangan pura-pura, Perempuan! Itu tidak akan mengubah situasi. Akui saja kau memujaku, Nayla. Tidak usah munafik, kau persis kucing liar di musim kawin." Ya, Nayla sungguh mati kutu setelah menerima serangan kata-kata kasar dari dua pria sekaligus. Dia sampai tidak bisa memikirkan jawaban apa yang pantas dia ucapkan.Continue ....Sore yang mendung baru saja menaungi sudut kota ketika Nayla melangkah keluar dari sebuah minimarket. Langkah kakinya mendadak terhenti kaku di trotoar. Di seberang jalan, berdiri sesosok pria tinggi berkemeja gelap yang saat ini menatapnya dengan raut tenang namun sarat kekhawatiran.Sammy Satya Dharma.Lelaki yang selama berbulan-bulan ini hidup bagai bayangan kelam di balik kehancuran rumah tangganya bersama Juna--sekaligus ayah biologis dari janin yang kini makin membesar di dalam kandungannya.Nayla tentu enggan menyambutnya dengan teriakan histeris, namun tak pula menemukan alasan tepat untuk melarikan diri. Bagaimanapun, pria itu telah menjadi bagian dari cerita rumit di dihidupnya. Berujung, Nayla hanya mematung dengan raut wajah datar nan dingin. Dia membiarkan Sammy menyeberangi jalan dan mendekat ke arahnya. "Aku tidak menyangka kau muncul di hadapanku lagi secepat ini, Sammy," ujar Nayla ketus.Sammy berhenti tepat dua meter
Siang itu, Amelia mendatangi koridor lantai dua gedung fakultas untuk mengurus beberapa berkas administrasi skripsinya yang sempat tertunda. Urusannya dengan pihak tata usaha hampir selesai ketika langkah kakinya mendadak terhenti kaku di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke pelataran parkir belakang kampus. Di seberang halaman yang lengang, Dave tampak berdiri berdampingan bersama Siska Admaji. Lagi. Untuk yang kesekian kalinya. Kali ini, interaksi di antara mereka tidak lagi terlihat canggung atau berlangsung singkat. Siska berdiri dengan postur tubuh yang tegang dan raut wajah amat serius. Sementara, Dave mendengarkan setiap patah kata perempuan itu dengan kepala tertunduk dalam. Sesekali, Siska menunjukkan sesuatu pada layar ponselnya, lalu kembali berbisik dengan nada rendah sarat akan dominasi. Amelia mencengkeram map di tangannya, menatap pemandangan berbahaya itu dari kejauhan. Nama Jihan langsung te
Juna tiba di unit apartemen Jihan saat jarum jam hampir menyentuh angka sebelas malam. Tubuhnya sarat akan keletihan setelah memimpin serangkaian rapat sengit di Janendra Corp. Begitu pintu apartemen terbuka, lelah itu menguap tanpa sisa saat. Dia mendapati Jihan masih terjaga, duduk menunggunya di ruang tengah."Kau belum tidur, Jihan?" tanya Juna lembut seraya melepas jas hitamnya dan menyampirkannya di sandaran sofa.Jihan menggeleng-geleng, seraya mengulas senyum yang langsung meluluhkan kelelahan Juna. "Belum. Aku menunggumu."Juna beringsut mendekat. Keningnya mengernyit halus. "Kenapa menungguku sampai selarut ini? Jihan, aktivitasmu sudah cukup padat. Jangan sampai jam tidurmu makin berantakan gara-gara menungguku."Jihan mengangkat bahunya santai, menunjuk meja makan di dekat mereka. "Kalau aku tidak menunggu, siapa yang bakal makan masakan ini? Aku sudah menyiapkannya sejak tadi."Praktis Juna menatap tudung saji di atas meja, l
Juna Janendra kini memiliki sebuah kebiasaan baru yang menguasai seluruh fokusnya. Setiap kali tugas-tugas di Janendra Corp selesai, dia tak lagi berlama-lama di ruang kerjanya atau langsung meluncur ke kediaman utamanya. Langkah kakinya selalu membawanya ke satu tujuan: unit apartemen tempat Jihan tinggal.Semula, alasan pria itu terdengar begitu logis dan diplomatis--memastikan keamanan tempat tinggal Jihan, memeriksa jika ada fasilitas yang kurang, atau sekadar memastikan gadis itu tidak kekurangan sesuatu. Namun seiring berjalannya hari, topeng alasan rasional itu mengikis habis. Juna sadar, dia membelah kemacetan kota menjelang malam hanya demi satu hal: dia merindukan Jihan. Kerinduan yang menggebu dan tak lagi bisa dia jinakkan.Malam ini, pintu apartemen terbuka bahkan sebelum ketukan tangan Juna mendarat untuk kedua kalinya. Jihan berdiri di sana, tampil bersahaja dengan rambut yang terikat asal, menyisakan beberapa helai yang jatuh lembut membingkai leher
Berbaik hati mengantarkan perempuan tak dikenal, tahu-tahu Juna sedikit bingung. Seraya menyesap pelan kopi latte dari cup, benaknya berpikir ulang untuk apa dia mau merepotkan diri, membuang waktu demi orang asing? Dia bukanlah pribadi yang senang terlibat dengan masalah orang lain. Lalu, saat ini
"Tolong, cepatlah sedikit. Aku sudah telat. Mereka tidak akan membayarku karena ini." "Tenanglah, Nona. Anda mengganggu konsentrasi menyetir Saya. Mobilnya tidak bisa lebih cepat lagi, ini batasnya. Duduk yang benar dan diam, agar saya bisa segera mengantar Anda sampai ke tujuan." "Batas kau bila
Rencana Daniel untuk memboyong Jihan ke restoran Prancis terpaksa pupus. Gadis itu memaksakan pilihan dia sendiri dan rumah makan murah yang sangat terkenal di Jakarta adalah tempat tujuannya. RM Sari Rasa, rumah makan ini menyajikan menu masakan rumahan khas Jawa, seperti rawon leker, nasi kuning,
"Nay, katakan apa yang terjadi padamu? Kenapa kau tiba-tiba pulang membawa koper? Suamimu mana?" Siska Admaji melipat kedua lengan di atas meja makan. Tatapan menuntut tak sekalipun beralih dari sosok putrinya di seberang dia. "Bu, a-aku minta maaf. Aku mengacaukan semuanya." "Bicara yang jelas,






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu