Kata-kata itu meluncur begitu tulus dari bibir Dewa, memecah keheningan hangat di antara mereka. Harum tertegun sejenak, kedua matanya membelalak manis, pipinya seketika memerah merona di bawah pantulan cahaya lampu tidur yang temaram. Napasnya tertahan sejenak, jantungnya berdegup kencang bukan karena takut, melainkan karena terkejut sekaligus tersentuh oleh kejujuran dan keberanian yang begitu polos sekaligus mendalam dari suaminya. Dewa menyadari keheningan itu, dan seketika wajahnya ikut memerah. Ia tersenyum canggung, lalu mengusap lembut ujung rambut istrinya yang terurai indah. “Maafkan aku, Sayang. Aku mengatakannya begitu saja tanpa berpikir dulu. Aku tidak bermaksud terburu-buru atau membuatmu merasa terpaksa. Cuma, saat melihatmu di sini, di pelukanku, menyadari betapa berartinya kamu bagiku, aku tak bisa menahan diri untuk tidak membayangkan masa depan kita masa depan yang utuh, lengkap, dengan kehadiran sosok kecil yang mewarisi senyummu dan keteguhan hatimu.” Harum me
Ler mais