Aku mendongak perlahan, dan pemandangan di depanku seketika meremukkan hatiku. Mama tidak marah. Beliau justru terduduk lemas di lantai, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan yang kurus, menangis sejadi-jadinya hingga bahunya terguncang hebat. Suara tangisan Mama terdengar begitu sarat akan penyesalan, penderitaan, dan rasa bersalah yang teramat dalam."Ya Tuhan ... Maafkan kami, Grace ... Maafkan Mama dan Papa," ratap Mama di sela-sela isak tangisnya yang memilukan. Beliau memukul dadanya sendiri berulang kali, seolah mencoba meredakan rasa sesak yang menghantamnya. "Kami orang tua yang tidak berguna, sudah buat anak perempuan kami satu-satunya harus mengorbankan tubuh dan masa depannya seperti ini.""Mama, tidak, please, jangan bilang seperti itu, Ma," sahutku panik, ikut menjatuhkan diri di atas lantai dingin."Bagaimana bisa Mama tidak meratap, Nak?!" seru Mama, menatapku dengan mata yang sembab dan penuh dengan air mata penyesalan. "Ma, aku rela lakuin apa saja untuk Ma
Read more