LOGINGrace mengalami perubahan hidup drastis setelah kecelakaan yang menimpa orang tuanya membuatnya harus meminjam uang pada Angkasa Group. Tanpa sadar, Grace menandatangani surat perjanjian yang mengharuskannya menjadi Surrogate Mother bagi keluarga tersebut untuk melunasi utangnya. Gabriel, anak pertama keluarga Angkasa, awalnya menolak keputusan orang tuanya karena ia mencintai istrinya, Natalia, meski Natalia tidak ingin memiliki anak. Namun, Gabriel perlahan luluh terhadap ketabahan Grace, sementara Natalia menjadi cemburu dan merencanakan cara untuk memisahkan mereka. Grace berusaha tetap profesional, namun cinta tumbuh di antara dia dan Gabriel. Kisah ini mengeksplorasi dilema cinta, tanggung jawab, dan rencana jahat Natalia yang berusaha memisahkan pasangan ini.
View MoreUdara malam terasa dingin saat aku dituntun keluar dari bangunan itu. Tanganku masih berada dalam genggaman Gabriel. Hangat, kuat, seolah tak ingin melepasku sedetik pun.“Kita ke rumah sakit dulu,” katanya cepat.“Aku tidak apa-apa. Gabriel.”“Kita tetap ke rumah sakit.”Nada suaranya tidak memberi ruang untuk bantahan. Aku hanya mengangguk pelan. Biasanya aku keras kepala, tapi kali ini, melihat kekwatiran di manik matanya, aku langsung nurut.Di dalam mobil, aku duduk di kursi penumpang, sementara Gabriel tak berhenti melirik ke arahku.“Kamu pusing?”“Tidak.”“Mual?”“Sedikit, mungkin karena tadi aku belum makan banyak.”"Mau makan dulu sebelum ke rumah sakit?""Aku mau makan di rumah saja."“Ok. Kamu harus bilang kalau ada yang terasa aneh.”“Aku tidak apa-apa.”“Grace.”“Iya?”“Jangan menyembunyikan apa pun dariku.”Aku terdiam. Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa terasa berat di dadaku.“Aku hanya lelah,” jawabku akhirnya.Mobil melaju lebih cepat.***Lampu putih rumah sak
Suara langkah kaki berderap menggema di lorong sempit itu. Denting logam beradu, disusul instruksi tegas yang dilontarkan dengan nada terburu-buru."Kita harus menemukan posisi Grace sebelum terlambat."Suara Gabriel bergetar menahan emosi yang bergejolak dalam dada. Kesabarannya sudah menipis."Hello, Grace!" Suara Grace dari seberang telepon menghilang, dan hal itu membuat Gabriel semakin panik.“Di sini sinyalnya berhenti!” seru seorang polisi saat menyadari lampu alat penyadapnya berkedip lemah.“Benar, tapi aku yakin diia pasti di dalam!” sahut Gabriel, napasnya memburu. Dadanya naik turun seolah paru-parunya menolak bekerja sama.Ia menempelkan ponselnya ke telinga. “Grace? Kamu dengar aku?”Suara lirih di seberang sana menjawab, nyaris seperti bisikan yang tersapu angin.“Aku … masih di sini.”Gabriel memejamkan mata sejenak, rahangnya mengeras. “Tahan sebentar lagi. Aku tidak akan pulang tanpa kamu.”Ia menoleh ke arah pintu besi tua yang berdiri kokoh di ujung lorong. Permuka
Aku menahan napas saat layar yang tadinya terkunci, kini terbuka. Dengan tergesa-gesa aku mengetik nomor ponsel Gabriel dan menunggu agar pria itu segera menjawab panggilanku.“Please, angkat panggilanku, Gabriel,” ucapku penuh harap sambil menggigit bibir bawahku dengan kuat. Namun, sampai nada sambung kelima, Gabriel tidak mengangkatnya juga. Kutarik napas dengan wajah tegang, getaran di tanganku semakin menjadi-jadi sampai hampir tak bisa aku kendalikan.“Apa dia sudah tidak peduli padaku lagi?” sungutku kesal sambil menggerak-gerakkan balok kayu yang sudah menjadi senjata andalanku dari tadi. Aku melirik ke arah dua pria yang sudah tidak berkutik alias pingsan. Semoga pukulanku membuat mereka tidur dengan nyenyak sampai Gabriel tiba di sini.Tanpa putus asa, kucoba sekali lagi, berharap agar panggilanku kali ini akan dijawab Gabriel.“Hello!” sapa Gabriel dari seberang sana.H-hello, Gabriel, ini aku Grace.” Suaraku bergetar menahan gejolak sukacita dalam hati karena Gabriel akhir
Klik, terdengar bunyi kunci diputar dengan pelan dari arah pintu. Aku berdiri tegang dan menunggu dengan waspada, siapa pun yang masuk lewat pintu tersebut.'Apa yang harus aku lakukan?' pikirku panik. Mataku dengan cepat menjelajahi ruangan yang cukup luas itu, lalu pandanganku tertumpu pada sebuah balok kayu di sudut ruangan di dekat pintu masuk. Tanpa berpikir panjang, kulangkahkan kakiku dengan cepat dan meraih balok kayu yang berukuran cukup panjang itu.Dengan tangan gemetar, aku menggengam balok tersebut. Siapa pun yang masuk nanti, aku bersiap untuk melawannya sampai titik napas penghabisan.Pintu terbuka pelan, dan ....Bugh! "Auuuch ...."Pria itu menjerit keras ketika balok kayu dalam genggamanku menghamtam kepalanya secara bertubi-tubi."Hentikan! Dasar wanita sinting tidak tahu diri!" teriaknya sambil berusaha meraih balok kayu dari tanganku. Tentu saja aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Apa pun yang terjadi, aku harus berhasil kabur dari sini. Aku tidak mau kalau
"Aku akan mencari tahu siapa kamu sebenarnya," guman Gabriel pelan penuh percaya diri.Ia merapikan jasnya yang sedikit kusut akibat kemarahan tadi, lalu melirik ke jam tangan. ‘Grace pasti sudah menunggu terlalu lama,’ pikirnya. Dengan langkah cepat, ia meninggalkan taman, pikirannya tetap berputar,
“Ayo, aku antarkan kamu pulang,” putus Gabriel sambil berdiri di depanku, lalu mengulurkan salah satu tangannya. Begitu aku hendak menyambut uluran tangan Gabriel, tanpa sengaja, aku melihat bayangan seseorang dari balik pohon besar tidak jauh dari tempat kami berdiri.Deg! Perasaanku tidak enak, aku
Gabriel berdiri dengan tidak sabar di dalam kantor bagian IT rumah sakit. Saking groginya, kakinya menghentak-hentak lantai dengan gelisah."Bisa dipercepat videonya, Pak? Kalau bisa, ikuti timeline saat aku meninggalkan Grace di mobil.""Sebentar ya, Pak Gabriel. Saya harus meng-unduh dulu file-fi
Pria itu mendekati dan meraih wajahku. Aroma tubuh dan mulutnya membuat aku ingin muntah. Aku tidak mengenalnya sama sekali. Siapa gerangan pria ini sebenarnya."Diam!! bentaknya kasar.“Kenapa aku harus diam, orang jahat?!” sentakku tak mau kalah."Tutup mulutmu, sebelum aku yang menutupnya."Aku t












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore