Naga darah itu menatap. Hanya menatap. Tapi dari sepasang mata merahnya yang menyala seperti bara yang tidak pernah padam, niat membunuh yang tumpah ke udara sudah lebih dari cukup untuk menghentikan kaki para kultivator. Tiga faksi besar, para kultivatot yang biasanya berjalan dengan kepala tegak di mana pun mereka pergi, kini berdiri dalam diam seperti barisan patung. Tidak ada yang berani bergerak duluan. Tidak ada yang mau jadi yang pertama. Kemudian dari bawah, tanah berguncang. GRRMMM! Sebuah sosok meledak keluar dari arah Kuburan Pedang. Bukan dari langit, bukan dari kejauhan. Sosok itu muncul tepat di depan Ryan yang masih berdiri dalam aura iblis hitamnya, seperti tembok yang tiba-tiba tumbuh dari bumi. Makhluk berbadan singa. Posturnya besar, jauh dari kata kecil, tubuhnya memancarkan cahaya emas samar yang berpadu aneh dengan kulitnya yang kokoh. Matanya bercorak rumit dan dalam, seperti pola ukiran kuno yang terus berputar, dan bagi siapa pun yang cukup lama
Read more