Pedang itu bergerak. Sebelum pikirannya sempat menyusul, naluri Korvan sudah memilih."Hentikan dia! Halangi dia!" Suaranya keluar lebih keras dari yang sebelumnya terdengar darinya. Lalu seluruh tubuhnya meledak dalam kabut abu-abu yang bergerak mundur ke arah sebaliknya.Ia kabur.Dua bawahannya saling pandang sejenak. Luka di tubuh mereka masih menganga. Kekuatan yang Ryan perlihatkan sudah lebih dari cukup untuk membuat insting bertahan hidup yang tersisa dalam diri mereka berteriak.Tapi mereka ragu terlalu lama untuk bertindak.Korvan, yang sudah berlari, menoleh ke belakang dan melihat mereka tidak bergerak.Ekspresinya berubah. Bukan marah. Bibirnya menyempit menjadi garis tipis, dan matanya datar seperti permukaan batu yang sudah lama tidak tersentuh cahaya.Matanya bersinar merah sebentar."Segel Darah Terlarang."Tiga kata itu diucapkan dengan nada yang hampir terdengar menyesal. Hampir.AAAARGH!!Dua teriakan meledak bersamaan dari mulut kedua bawahannya. Mereka menggunc
Magbasa pa