Ryan memutar bahunya pelan. Sakit yang tadi mencabik tubuhnya sudah lenyap tanpa sisa, seolah luka-luka itu tak pernah ada. Baru saja ia hendak menghela napas lega, matanya menyipit. Kepalanya menoleh tajam ke arah rimba lebat di kejauhan. Alisnya menukik. Ada sesuatu di sana, sesuatu yang membuat tengkuknya meremang tanpa ia kehendaki. Aura asing menjalar samar ke inderanya. Tipis pada mulanya, lalu mengental seiring detik berlalu, dan firasatnya tak pernah salah. Ryan tak membuang waktu untuk berpikir lama. Cahaya keemasan langsung membungkus tubuhnya, memadat, lalu meledak menjadi seberkas kilat. Sosoknya melesat membelah udara, lurus menuju rimba itu. ** Di kedalaman rimba, Xavier Dragvine sudah kembali ke wujud manusianya. Wajahnya meringis, giginya bergemeletuk menahan sakit. Darah membasahi sekujur tubuhnya, menetes dari ujung jari ke tanah. Satu-satunya lengan yang masih ia punya basah kuyup oleh darahnya sendiri, akibat berkali-kali menahan hantaman tenaga m
Read more