Usai memperbaiki infusan dan memeriksa kondisiku, Dokter Haris dan perawat tersebut pun beranjak keluar, hingga tinggal aku dan Bang Iza kembali di ruangan itu. Tapi tetap saja, aku masih tak sudi memandang wajahnya. Sebenarnya aku penasaran, bagaimana bisa Bang Iza yang dulunya kupikir tunawisma, bisa jadi berubah setampan dan sekaya ini. Atau memang dia hanya pura-pura saja selama ini? Tapi apa tujuannya menyamar?"Hallo, Lex ... Tolong ke rumah, jemput Mbak Yuni dan bawa ke rumah sakit ya?"Dahiku mengernyit mendengar lelaki itu menelpon asistennya. Namun aku malas melontar tanya dan masih setia memandang ke arah lain."Mbak Yuni yang akan menjaga kamu di sini setelah ini, Lin." Lagi, aku tak bergeming mendengar ucapan Bang Iza."Kalau memang kamu gak suka lihat Abang, Abang gak akan muncul lagi di hadapan kamu, Lin," lanjutnya lagi terdengar begitu sedih."Baguslah." Aku menyahut dengan acuh, masih dengan tak memandangnya. Entah bagaimana ekspresi wajah tampan itu kini pun aku tak
Huling Na-update : 2026-01-17 Magbasa pa