Share

29. Kedatangan Mertua

last update Last Updated: 2026-01-22 11:08:39

Dengan jantung berdebar aku dibawa turun oleh Mbak Yuni. Dalam hati terus bertanya-tanya, apa yang membuat Tuan besar itu datang menemuiku? Apa terjadi sesuatu pada Bang Iza? Dan lagi yang membuat aku gelisah adalah bagaimana sikap lelaki itu nanti? Sebab aku belum pernah bertemu dengannya, jadi belum tahu bagaimana sikap aslinya. Tapi berdasarkan hasil pengamatanku, rata-rata orang kaya biasanya mempunyai sifat arogan.

Begitu aku keluar dari lift, mataku langsung menangkap sosok lelaki paruh b
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   51. Ending

    Lima tahun kemudian ...."Mamaaa!" Alin tersenyum lebar sembari merentangkan tangan menyambut putranya yang baru keluar dari gerbang sekolah.Wajah bocah berusia lima tahun lebih itu terlihat sumringah. Ia langsung masuk ke dalam pelukan Alin seolah begitu merindukan mamanya."Belajar apa tadi?" Tanya Alin sembari berjongkok mensejajarkan diri dengan Abim."Belajar nulis huruf M, sama gambar juga tadi. Abim gambar Papa, Mama, sama Abim," sahut Abim antusias."Oh ya? Senang gak tadi di sekolah?" Pancing Alin yang memang selalu mempertanyakan perasaan anaknya. Karena baginya kondisi hati itu yang terpenting. "Senang! Tapi 'kan, Ma ... Abim sedih juga," ujar Abim dengan bibir cemberut."Kenapa?" Alin mulai khawatir."Teman-teman Abim pada punya adik, tapi Abim gak punya, Ma."Alin tersenyum simpul mendengar hal yang membuat anaknya itu bersedih. "Sabar ya, Sayang. Kita do'a sama-sama supaya Abim cepat dapat adek," ujar Alin sembari mengusap lembut kepala putranya.Bukan Alin tak ingin

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   50. Balasan

    "Bang ponsel Abang bunyi." Alin berusaha melepaskan bibirnya, namun Afriza kembali menahan."Biarin!" Afriza melanjutkan aktivitasnya membuat Alin kembali pasrah, hingga akhirnya dering tersebut mati sendiri.Namun begitu ci*uman Afriza sudah mulai turun ke leher jenjang Alin, kembali ponsel tersebut berbunyi nyaring, membuat Afriza berdecak kesal karena merasa terganggu."Angkat dulu, Bang. Siapa tahu penting," ujar Alin mengingatkan, hingga mau tak mau Afriza meraih ponselnya dan mengangkat panggilan yang ternyata dari papanya."Kenapa, Pa?" Tanya Afriza dengan menahan kesal karena aktivitasnya terganggu."Cepat ke rumah sakit, Tha! Nenek jatuh di kamar mandi, darah tingginya kumat."Bukannya iba mendengar berita tersebut, Afriza malah berdecak kesal. "Yang anaknya 'kan Papa, bukan aku!" Ketus Afriza."Artha, Papa tahu kamu masih marah sama Nenek. Tapi jangan begitu. Jangan simpan dendam. Biar bagaimanapun beliau Nenek kamu sendiri. Masa kamu gak ada rasa empati saat beliau sakit?"

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   49. Awal Jatuh Cinta

    "Bang!" Alin mulai membuka percakapan sembari melepas lelah. Mereka baru saja usai meluahkan rasa rindu di atas ranjang setelah makan siang tadi."Hmm?""Sejak kapan Abang cinta sama Alin?" Tanya Alin tiba-tiba."Kenapa memangnya?" Afriza balik bertanya sembari memandang wajah cantik istrinya yang sejak tadi ada di dalam dekapannya."Gak apa-apa, pengen nanya aja. Jangan bilang Abang cinta ke Alin gara-gara merasa bersalah karena salah balas dendam," tebak Alin balas menatap suaminya.Walau papa Afriza pernah mengatakan padanya bahwa Afriza menyukainya sejak pertama bertemu, tapi Alin tak ingat pasti kapan pertama kali mereka bertemu."Enggaklah! Jauh sebelum itu Abang sudah cinta ke kamu.""Oh ya? Sejak kapan? Kayaknya dulu kita gak saling dekat deh." Alin makin penasaran."Sejak pandangan pertama," sahut Afriza sambil mengulas senyum manis lalu mengecup kening istrinya."Emang kapan kita pertama kali ketemu ya? Alin lupa."Afriza berdecak kesal sambil menatap Alin. "Ternyata cuma Ab

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   48. Dasar Cacing!

    Afriza menelan saliva susah payah. Sudahlah volume panggilan ia buat full ditambah suara ayahnya yang keras, sudah dapat dipastikan Alin yang berada sangat dekat dengannya mendengar apa yang dikatakan Tuan Wisnu. Dan benar saja, saat Afriza menatap wanita itu, raut wajahnya sudah berubah."Enggak! Artha lagi jagain menantu Papa.""Hah? Siapa?""Alin-lah, Pa. Siapa lagi?! Sampai kapanpun menantu Papa ya cuma Alin seorang." Sengaja Afriza berucap demikian demi mengalihkan pikiran Alin supaya tak berpikir buruk dengan ucapan papanya yang menuduhnya mabuk tadi."Udah ketemu Alin?" "Udah. Emangnya Papa belum liat artikel tentang keluarga Atmadja?" "Sudah. Makanya itu Papa ngubungi kamu."Usai berbincang-bincang sejenak, panggilan pun terputus. Begitu melihat Alin yang masih menatapnya, jantung Afriza langsung ketar-ketir."Abang sering mabuk-mabukan?" Tanya Alin langsung, ada raut kecewa di wajah wanita itu saat bertanya demikian.Afriza menghela nafas panjang sebelum menjawab. "Maaf, Sa

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   47. Kembali Bersama

    Afriza menghela nafas panjang, berulang kali melirik arloji. Sudah berjam-jam ia menunggu di depan kampus Alin. Matanya tak lepas mengawasi ke arah gerbang, namun sosok yang ia tunggu tak juga nampak batang hidungnya."Kamu di mana, Lin?" Afriza mengusap wajahnya kasar. Makin frustasi rasanya saat ingat cerita Anita tadi. Ia baru tahu alasannya kenapa istrinya itu memilih menerima uang dari neneknya dan meninggalkannya. Pasti Alin tertekan sekali saat itu. Dan ia malah dengan teganya tak memberi kesempatan wanita itu untuk memberi penjelasan padanya.Karena hari sudah semakin senja, Iza memutuskan turun untuk bertanya pada Satpam yang ada di depan gerbang. Walau ia tak berharap banyak, karena tak mungkin juga Satpam tersebut hafal wajah semua mahasiswa yang ada di sana."Permisi, Pak, saya mau tanya.""Mau tanya apa ya, Mas?" "Ada lihat wanita ini keluar dari kampus gak ya, Pak?" Afriza menunjukkan foto Alin yang ada di ponselnya."Oh, Nak Alin anak Pak Rasyid Atmadja?"Afriza menga

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   46. Bertemu Anita

    Alin bergerak turun dari ranjang. Wajahnya masih pucat, kepalanya pun masih terasa pusing. Tapi ia tetap memaksakan bangkit, berniat masuk kuliah hari ini. Selain karena sudah dua hari dia absen, Alin juga tak tahan lama-lama di dalam kamar. Yang ada ia malah menangis terus karena terpikirkan Afriza. Pikirnya dengan mencari kegiatan ia akan bisa melupakan kesedihannya walau sejenak."Kamu mau kemana, Lin?" Tanya Bu Nurin saat melihat Alin sudah turun dengan pakaian rapi."Ke kampus, Ma," sahut Alin lalu ikut bergabung dengan keluarga Atmadja sedang bersiap untuk sarapan."Kamu yakin mau ngampus? Wajah kamu masih pucat itu." Arfan ikut menanggapi dengan khawatir."Yakin, Mas. Udah gak demam lagi kok. Aku bosan di rumah terus."Terdengar lelaki itu menghela nafas, ia sebenarnya keberatan saat melihat kondisi adiknya itu. Tapi mungkin Alin memang sedang bosan di rumah. "Yang penting hati-hati ya, Lin. Kalau ada apa-apa hubungi Masmu atau Papa aja," timpal Pak Rasyid yang disambut angguk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status