Lima tahun kemudian ...."Mamaaa!" Alin tersenyum lebar sembari merentangkan tangan menyambut putranya yang baru keluar dari gerbang sekolah.Wajah bocah berusia lima tahun lebih itu terlihat sumringah. Ia langsung masuk ke dalam pelukan Alin seolah begitu merindukan mamanya."Belajar apa tadi?" Tanya Alin sembari berjongkok mensejajarkan diri dengan Abim."Belajar nulis huruf M, sama gambar juga tadi. Abim gambar Papa, Mama, sama Abim," sahut Abim antusias."Oh ya? Senang gak tadi di sekolah?" Pancing Alin yang memang selalu mempertanyakan perasaan anaknya. Karena baginya kondisi hati itu yang terpenting. "Senang! Tapi 'kan, Ma ... Abim sedih juga," ujar Abim dengan bibir cemberut."Kenapa?" Alin mulai khawatir."Teman-teman Abim pada punya adik, tapi Abim gak punya, Ma."Alin tersenyum simpul mendengar hal yang membuat anaknya itu bersedih. "Sabar ya, Sayang. Kita do'a sama-sama supaya Abim cepat dapat adek," ujar Alin sembari mengusap lembut kepala putranya.Bukan Alin tak ingin
최신 업데이트 : 2026-02-13 더 보기