Mag-log in“Pak Ares!”Suara perawat itu terdengar panik sekaligus penuh harap. Ares masih membeku di tempatnya, tangannya menggenggam erat tangan Mauren yang untuk pertama kalinya terasa berbeda. Ada tekanan kecil sangat kecil yang nyata.“Mauren?” bisiknya pelan.Kelopak mata Mauren kembali bergetar. Lebih jelas dari sebelumnya. Meski masih tertutup. Namun tubuhnya merespons.Perawat segera mendekat, memanggil dokter dengan cepat.“Dokter! Ada respons dari pasien!”Suasana mendadak berubah. Tidak lagi sunyi. Namun penuh ketegangan yang berbeda, bukan ketakutan tapi harapan. Beberapa menit kemudian, dokter datang. Memeriksa dengan cepat namun hati-hati.“Respon neurologisnya meningkat,” ujar dokter. “Ini tanda baik.”Ares tidak bergerak. Matanya tetap tertuju pada Mauren. Seolah takut semua ini hanya ilusi.Hari-hari berikutnya menjadi berbeda. Bukan lagi hanya menunggu dalam ketidakpastian tapi menunggu dengan harapan. Hari pertama setelah itu, Mauren masih belum sadar sepenuhnya namun responn
Malam itu rumah sakit terasa berbeda, lebih sepi dari biasanya. Lampu-lampu di lorong menyala redup, menciptakan bayangan panjang yang terasa dingin dan kosong.Namun di salah satu ruang ICU, ada sesuatu yang tidak biasa. Sebuah meja kecil diletakkan di sudut ruangan. Di atasnya, terdapat beberapa benda sederhana.Buah-buahan, air putih dan kain putih yang dibentangkan rapi. Tidak mewah apalagi meriah. Namun cukup untuk satu makna yakni sekedar syukuran tujuh bulanan.Ares berdiri di samping ranjang Mauren sendirian. Tanpa siapa pun, tanpa Ava juga saksi. Hanya dirinya, Mauren dan calon bayi yang terus bertahan di dalamnya.Ares menatap wanita yang berstatus istri mudanya itu lama. Wajah itu masih sama, cantik, beraura lembut juga tenang. Seperti seseorang yang sedang tidur.Namun selang yang terpasang di mulut sang wanita dan dada yang naik turun dengan bantuan alat menghancurkan ilusi itu.“Sudaj tujuh bulan,” gumam Ares pelan.Suaranya hampir tidak terdengar.“Harusnya ini jadi mom
Hari-hari setelah itu berjalan tapi terasa tidak benar-benar hidup. Rumah sakit menjadi tempat yang paling sering dikunjungi oleh Ares dan Ava. Bukan lagi karena kepanikan tapi karena penantian.Ava duduk di kursi roda di depan ruang ICU. Tubuhnya belum sepenuhnya pulih, namun kondisinya jauh lebih baik dari sebelumnya. Warna di wajahnya mulai kembali, meski masih pucat. Namun matanya tidak pernah benar-benar tenang.Hari itu, untuk pertama kalinya sejak ia sadar ia selalu meminta satu hal. “Aku mau bertemu adikku.”Ares yang berdiri di sampingnya langsung mengerti. Ia tidak bertanya juga tidak menolak. Hanya mengangguk pelan.Pintu ICU terbuka perlahan. Udara dingin langsung menyambut. Ava masuk dengan langkah pelan, kursi rodanya didorong perlahan oleh Ares.Dan di sana tubuh Mauren terbaring. Tidak berubah masih diam masih sunyi. Namun bagi Ava itu terasa seperti melihat dunia yang berbeda.Tubuh Mauren tampak lebih kurus, wajahnya pucat. Selang infus terpasang di beberapa titik da
“Operasinya berhasil, Pak.”Kalimat itu langsung membuat napas Ares terlepas.Tubuhnya yang sejak tadi tegang perlahan melemah. Ia hampir kehilangan keseimbangan, beruntung kursi di belakangnya menahan tubuhnya.“Bagaimana kondisi mereka, Dok?” tanyanya cepat.Dokter masih berdiri di hadapannya, wajahnya serius.“Keduanya berhasil melewati prosedur,” jelasnya. “Tapi kondisi mereka masih belum stabil. Kami akan memantau dalam beberapa jam ke depan.”Ares mengangguk, mencoba mencerna.“Kapan mereka sadar?”Dokter menggeleng pelan.“Kami belum bisa memastikan. Tubuh mereka mengalami trauma besar. Kita harus menunggu.”Menunggu lagi, kata itu kembali terasa menyesakkan.Malam itu terasa panjang mungkin terlalu panjang. Ares duduk di kursi ruang tunggu, tidak benar-benar bergerak. Ponselnya berdering beberapa kali, tapi ia tidak mengangkat.Dunia di luar terasa tidak penting lagi yang ada hanya dua pintu ruang perawatan Ava dan ruang ICU Mauren.Dua nyawa, dua dunia yang sangat berarti bag
Lorong rumah sakit itu terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu putih di langit-langit memantul dingin di lantai, menciptakan bayangan yang terasa asing. Suara roda ranjang pasien bergema pelan, mengisi keheningan yang terlalu berat untuk ditanggung.Ava dibawa lebih dulu. Tubuhnya lemah, hampir tidak bergerak. Matanya setengah terbuka, namun kesadarannya mulai mengabur.“Ava aku di sini.” Ares berjalan di samping ranjang, menggenggam tangannya erat.Ia tidak peduli siapa yang akan melihat, tidak peduli siapa yang tahu yang ia tahu hanya satu, ia tidak ingin kehilangan Avanya.Ava menggerakkan jarinya sedikit dengan gerakan yang lemah namun cukup untuk membalas genggaman itu.“Ares,” suaranya hampir tak terdengar.“Iya, aku di sini,” jawab Ares cepat.Ava menatapnya samar. Ada banyak hal yang ingin ia katakan. Namun tubuhnya tidak lagi memberi cukup waktu.“Jangan ... menyesal ...."Kalimat itu terucap secara putus-putus juga pelan namun jelas di dengar Ares.Ares menggeleng cepat. “
Kalimat dari dokter itu masih menggantung di udara. Menyisakan keheningan yang entah harus berapa lama.“Kami hanya bisa menyelamatkan salah satu dari mereka.”Ruangan seakan kehilangan suara. Tidak ada yang bergerak, tidak ada juga yang berani berbicara. Hanya suara detak jantung yang terasa semakin keras di telinga masing-masing.Ares menatap dokter itu dengan mata tak percaya.“Apa maksudnya ‘salah satu’?”Dokter menghela napas pelan sebelum menjelaskan.“Prosedur ini sangat berisiko Pak, apalagi dengan kondisi pendonor yang sedang hamil. Kami harus memprioritaskan keselamatan dalam skenario terburuk, kami mungkin harus memilih.”Ares mundur selangkah. Tubuhnya terasa lemah tak bertenaga. Ini bukan lagi tentang keputusan yang paling sulit. Tapi ini lebih seperti tentang siapa yang harus dikorbankan.Ava berdiri dengan tubuh yang hampir tidak mampu menopang dirinya sendiri namun tatapannya tetap tenang. Seolah ia sudah menerima kemungkinan apabila suaminya lebih memilih Mauren yang
Flashback Setelah pernikahan diam-diam itu, Mauren merasa puas. Ia kini memiliki status resmi sebagai istri kedua Ares, meskipun pernikahan itu hanya diketahui oleh segelintir orang. Malam itu, di villa tempat upacara berlangsung, ia dan Ares diberikan kamar khusus. Ibu Ares memastikan semuanya be
Villa di pinggir kota itu terasa sunyi setelah semua tamu meninggalkan tempat. Pernikahan sederhana antara Ares dan Mauren baru saja selesai, tetapi suasana yang tertinggal tidak menunjukkan kebahagiaan seperti pernikahan pada umumnya. Mauren masih mengenakan gaun pengantin sederhananya, berdiri di
Hari itu, Ares berdiri di depan kaca besar di kamar villanya, mengenakan setelan jas hitam yang pas di tubuhnya. Tangannya gemetar, bukan karena gugup, tetapi karena perasaan bersalah yang terus menghantui. Ia menatap bayangannya, mencoba meyakinkan diri bahwa keputusan ini adalah yang terbaik. Namu
Di suatu malam yang sunyi, hanya terdengar dentingan jam yang berdetik. Ares duduk di ruang kerjanya dengan pikiran yang berkecamuk. Segala hal yang terjadi dalam hidupnya beberapa bulan terakhir terasa seperti benang kusut yang sulit diurai. Hubunganya dengan Ava yang semakin dingin, belum lagi des







