Jeritan Marco memecah ruangan sebelum siapa pun sempat mengatakan apa pun.Bukan teriakan satu kali, melainkan suara panjang yang patah di tengah, berubah menjadi raungan kasar yang nyaris tak menyerupai suara manusia.“Berhenti—BERHENTI—!”Napasnya tersedak, tubuhnya menegang lalu bergetar hebat, rasa sakit itu seperti tidak akan ada ujungnya. Datang sekaligus, bukan satu titik, tapi gelombang yang membuat kepalanya kosong. Ia berteriak karena tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan. Kata-kata putus di tenggorokannya. Napasnya benar-benar kacau. Tubuhnya menegang, lalu gemetar.Marco memohon agar semua disudahi, biarpun dia tahu itu tidak akan menghentikan apa pun. Tapi, mana mungkin mulutnya bisa tetap diam, sedangkan rasanya dia seperti hampir menemui ajal. Setiap detik terasa terlalu panjang. Waktu seakan melambat, tapi rasa sakit tidak berkurang sama sekali.Greg dan Rapth refleks menoleh ke arah Jack.Jack tidak bergerak.Greg dan Rapth menelan ludah bersama rasa ngeri yang me
Read more